• Home
  • News
  • Dengan GRC, Pelindo Marine Service Mampu Jaga Performa Bisnis di Masa Pandemi
Dengan GRC, Pelindo Marine Service Mampu Jaga Performa Bisnis di Masa Pandemi
Friday, 09 July 2021

Jakarta, TopBusiness – PT Pelindo Marine Service (PMS), merupakan anak usaha PT Pelindo III (Persero) yang telah berdiri sejak 31 Desember 2011. Perusahaan yang merupakan anak usaha Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terbesar di bidang penyelenggaraan jasa kepelabuhanan ini merupakan entitas perusahaan yang memiliki fungsi usaha mandiri yang bergerak di bidang jasa pelayanan angkutan di perairan, perkapalan dan industri kemaritiman lainnya.

Corporate Secretary PMS, Arif Nurdiyanto mengatakan dalam menjalankan bisnis perusahaan, PMS berkomitmen untuk menerapkan prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) yang juga merupakan landasan bagi terbentuknya sistem, struktur dan budaya perusahaan yang fleksibel serta adaptif atas perubahan lingkungan bisnis yang kompetitif serta mampu membangun sistem pengendalian internal dan manajemen risiko yang handal.

“Penerapan GCG pada Pelindo Marine Service ditujukan untuk menjadikan GCG sebagai bagian dari budaya perusahaan, yang pelaksanaannya didukung oleh nilai-nilai perusahaan yang melekat di setiap insan Pelindo Marine Service,” tutur Arif menjelaskan prinsip-prinsip GCG yang merupakan salah satu unsur dalam Governance, Risk, and Compliance (GRC) saat sesi wawancara penjurian TOP GRC Awards 2021 yang digelar Majalah TOP Business secara virtual, Jumat (02/07/2021).

Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan komitmen yang tinggi untuk mengimplementasikan prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik pada semua organ dan jenjang organisasi secara terencana, terarah, dan terukur sedemikian rupa, sehingga penerapan tata kelola perusahaan yang baik dapat berlangsung secara konsisten dan sesuai dengan praktik-praktik terbaik (best practice) penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik.

Arif menuturkan dalam implementasi GCG di perusahaan, PMS memiliki dua system kebijakan yakni kebijakan eksternal dan internal. Kebijakan eksternal mengacu pada Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor: PER-01/MBU/2011 tentang Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara, Jo. Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER-09/MBU/2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor: PER-01/MBU/2011 tentang Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara.

Sementara di internal perusahaan, PMS dalam dua tahun terakhir telah memutakhirkan tiga kebijakan implementasi GCG yakni:

Pertama, Keputusan Bersama Dewan Komisaris dan Direksi PT PMS Nomor: PER.22/TR.0101/PMS-2019 tentang Pedoman Tata Kelola Perusahaan (Board Manual dan Code of Corporate Governance);

Kedua, Perubahan Keputusan Bersama Dewan Komisaris dan Direksi PT PMS Nomor: PER.01/TR.0101/PMS-2020 tentang Perubahan Pedoman Tata Kelola Perusahaan (Board Manual dan Code of Corporate Governance);

Ketiga, Keputusan Bersama Dewan Komisaris, Direksi dan Serikat Pekerja PT PMS Nomor: PER.23/TR.0101/PMS-2019 tentang Pedoman Etika dan Perilaku  (Code of Conduct) di Lingkungan  PT PMS.

“Pada kebijakan pertama dan kedua mampu menghasilkan sistem pengelolaan perusahaan secara profesional, transparan dan efisien dan penerapan prinsip-prinsip GCG di perusahaan. Sementara pada kebijakan ketiga menghasilkan pedoman etika dan perilaku bagi semua insan PT PMS dalam melakukan interaksi berdasarkan nilai-nilai dan etika bisnis dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, responbilitas, independensi dan fairness,” tuturnya.

Adapun dalam hal sistem dan kebijakan manajemen risiko, PT PMS juga memiliki Kebijakan Manajemen Risiko Perusahaan melalui Peraturan Direksi PT. Pelindo Marine Service Nomor: PER.30/PM.02/PMS-2019. Peraturan ini memberikan landasan awal untuk dapat terselenggaranya budaya (culture) sadar risiko di lingkungan perusahaan pada semua departemen, baik dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.

Selain itu, Manajemen Risiko PMS juga telah mengacu pada standar yang berlaku yakni ISO 31001:2018 terkait dengan Risk Management System  yang Memberikan landasan awal untuk dapat terselenggaranya budaya (culture) sadar risiko di lingkungan perusahaan pada semua departemen, baik dalam jangka pendek, menengah dan panjang.

Perusahaan juga telah menerapkan ISO 22301:2012 tentang Business Continuity Management System yang memberikan rencana landasan untuk  penyusunan rencana-rencana kontigensi yang efektif, termasuk prosedur penanganan kejadian yang tidak terduga.

“Kedua standar ISO ini mempunyai dampak yang signifikan bagi perusahaan kami terutama pada pandemi Covid-19. Karena setiap bisnis pasti ada risikonya, dan Covid ini merupakan salah satu risiko yang harus kami mitigasi,” kata dia.

Dengan telah disusunnya ISO melalui penerapan business continuity plan, perusahaan sudah siap untuk menerapkan beberapa pelaksanaan bisnis lanjutan, apabila terdampak pada perusahaan, antara lain dampak dari pandemi Covid-19 yang telah berlangsung hampir dua tahun ini.

Sebagai contoh konkret dalam penerapan GRC pada masa pandemi, Arif menyatakan pihaknya sangat concern dengan wabah Covid-19. Sehingga perusahaan menyusun pedoman business continuity plan atas wabah Covid-19 pada PMS dan seluruh anak usaha.

“Ini sangat menjadi fokus di perusahaan kami ketika covid ini datang, maka mitigasi apa yang dapat kami lakukan agar perusahaan ini tidak terdampak secara massif. Yaitu ketika Covid ini diinformasikan oleh pemerintah, kami dalam tim dan dengan adanya business continuity management yang sudah kami susun, kami melakukan upaya mitigasi secara berkesinambungan. Yaitu dengan cara penyusunan pedoman business continuity atas wabah Covid-19 bagi PMS dan juga anak perusahaannya,” paparnya.

Kemudian, melakukan re-asesmen terhadap daftar risiko PMS dan seluruh anak perusahaannya berkaitan dengan event Covid-19. “Yang kedua, melakukan re-asesmen. Karena dulu business continuity management itu disusun belum ada gambaran akan adanya pandemi ini. Tapi, ketika sudah ada pandemi ini langsung upaya yang dilakukan oleh manajemen adalah re-asesmen terhadap risiko Covid ini dan juga bagaimana menyusun business continuity management-nya seperti apa,” tambahnya lagi.    

Selanjutnya, perusahaan juga menyusun sistem dan prosedur tentang Pencegahan dan Penanganan Wabah Covid-19. PMS lalu membentuk tim satuan tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan virus Covid-19 melalui Surat Perintah Direksi No. SP.97/OS.0102/PMS-2020, tanggal 26 Maret 2020. Secara umum tim Satgas Covid PMS punya empat tugas yakni test, tracing, treatment dan isolation.

“Tugasnya yakni pemberian fasilitas penunjang pencegahan penularan, untuk seluruh pegawai darat dan laut, baik berupa pemberian masker secara berkala setiap minggu, pemberian multivitamin, kemudian pemberian cairan disinfektan setiap ruangan. Perusahaan juga melakukan rapid test untuk covid secara berkala,” terang Arif.

Digitalisasi GCG

Arif menambahkan implementasi GCG juga menyentuh tren digitalisasi proses bisnis perusahaan. Peraturan GCG mengarahkan perusahaan untuk menyusun IT Masterplan demi menyokong pengembangan proses bisnis dan implementasi GCG.

“Di Pelindo Marines kami mengembangkan secara mandiri, IMAIS (Integrated Marine Information System) yang telah mencakup berbagai modul mulai dari pengelolaan SDM, monitoring operasional, hingga aplikasi pendukung pengguna jasa dan mitra kerja. Digitalisasi ini mempercepat dan mengukuhkan GCG perusahaan,” tambah Arif.

Berkat berbagai kebijakan dan strategi penerapan GCG yang telah dilakukan, PMS mampu mewujudkan kinerja bisnis yang sangat baik, khususnya mengingat situasi pandemi yang berlangsung.

Ini terlihat pada laporan kinerja bisnis di tahun 2020 PMS berhasil membukukan pendapatan usaha sebesar Rp1,515 triliun dengan beban usaha sebesar Rp1,149 triliun. Adapun laba usaha yang diperoleh sebesar Rp365 miliar dengan laba setelah pajak sebesar Rp271 miliar dan total asset sebesar Rp1,845 triliun. 

“Kinerja keuangan pada 2020 relatif dapat bertahan dalam melalui krisis akibat pandemi Covid-19. Meski terkoreksi tipis secara year on year, baik dari sisi pendapatan, beban usaha, dan laba setelah pajak, berkisar antara 1-3 persen saja,” ujar Arif

Kinerja positif itu juga ditopang oleh produksi pada 2020 yang tetap tercapai sesuai target meskipun adanya pandemi covid-19. Terutama oleh konsistensi core business perusahaan, yakni layanan pemanduan dan penundaan kapal, serta tug & assist (SBPP) yang meningkat dibandingkan tahun 2019, dan terdapat segmen baru yakni dikontribusikan dari layanan pengangkutan FAME oleh PMS dan PEL, serta jasa reklamasi oleh APBS. https://www.topbusiness.id/52890/dengan-grc-pelindo-marine-service-mampu-jaga-performa-bisnis-di-masa-pandemi.html

Penulis: Abi Abdul Jabbr Siddik