Wednesday, 16 January 2013

Rencana penambahan fungsi Dermaga Kalimas menjadi area wisata akan mengalami kendala. Itu disebabkan saat ini masih ada beberapa lahan dan gudang di dermaga tersebut yang difungsikan untuk swasta dan komersial. Bahkan, ada yang digunakan secara sepihak.

Beberapa kapal pun tidak tertib saat bersandar. Akhirnya, dermaga 1 kilometer tersebut terkesan kurang penataan.Sebenarnya, dermaga tersebut dikhususkan untuk kapal kayu pelayaran rakyat (pelra). Fakta di lapangan, ternyata bayak kapal besi yang sedang bersandar. Otomatis itu menghambat lalu lintas bagi kapal pelra.

Penataan untuk penambahan fungsi tersebut sudah dimulai. Namun, itu dilakukan secara bertahap dan belum menyentuh bagian dalam dermaga. PT Pelabuhan Indonesia III ( Pelindo ) menyatakan bahwa tahun ini masih disosialisasikan . Hal tersebut memperlama rencana untuk mempecantik dermaga peninggalan Belanda itu.

Humas Pelindo Tanjung Perak Edi Priyanto menerangkan, pada tahun ini penataan kembali berjalan. “Setelah rampung penataan sisi selatan, tahun ini targetnya sosialisasi pada bagian dalam dermaga itu,”terang Edi. Untuk lahan – lahan yang masih bertuan dan disewa, Pelindo akan menawarkan investasi bersama. “Investasi tersebut bisa berupa pembangunan beberapa fasilitas pendukung wisata seperti hotel dan lainnya agar tak terlihat semrawut seperti sekarang,” kata Edi.

Masalah yang sekarang muncul adalah pembebasan area di sekitar Kalimas.Yang menjadi kendala adalah masalah sosial terkait pemukiman liar di sepanjang area Kalimas serta kapal – kapal yang bersandar. Kapal besi yang masih berada di area Dermaga  Kalimas nanti digeser keluar. “ Di sana nanti hanya boleh kapal kayu pelra dan kapal wisata. Kapal besi akan kami pindahkan ke Dermaga Nilam dan Berlian. Sedangkan, untuk masalah pemukiman, Pelindo akan berkoordinasi dengan pemkot seperti rencana sebelumnya:.

Ketua DPC Pelra Tanjung Perak M.Yusup sebenarnya menyambut baik rencana tersebut. Namun, dia ingin kebijakan benar-benar sesuai fungsinya. Sebab, selama ini menurut dia, Di Dermaga Kalimas masih banyak penyelewengan fungsi  tang mengakibatkan kesemrawutan.

Kepala Otoritas Pelabuhan Tanjung Perak Nyoman Gede Saputra menyebutkan, penambahan fungsi tersebut memang ada. Namun, kata dia, penambahan untuk wisata tersebut bertujuan untuk revitalisasi Dermaga Kalimas agar terlihat rapi.

“Karena tempat tersebut peninggalan Belanda dan cikal bakal Pelabuhan Tanjung Perak, memang perlu direvitalisasi,”tegas Nyoman

 

 

Sumber             : Jawa Pos

Hari/tanggal       : Rabu, 16 Januari 2013

Read more
Wednesday, 16 January 2013

Kementrian Perhubungan mulai memprioritaskan

Kenavigasian pelayaran pada tahun ini dengan meyiapkan

Dana Rp 549,59 miliar untuk menambah fasilitas pelabuhan

 

Dirjen Perhubungan Laut Kementrian Perhubungan Leon Muhamad mengatakan sepanjang tahun lalu pemerintah sudah  menyelesaikan 109 pembangunan pelabuhan sehingga pada tahun ini khusus untuk kenavigasian menjadi prioritas. “Pemerintah sudah selesaikan 109 pelabuhan, dan segera akan diresmika. Khusus untuk navigasi, menjadi prioritas 2013 dari capex (belanja modal) untuk navigasi,”katanya kepada Bisnis belum lam ini.

 

Pada tahun ini, menurutnya, pemerintah akan melanjutkan pembangunan 138 pelabuhan dengan nilai investasi sekitar Rp.5 triliun setelah 109 pelabuhan diselesaikan pada tahun lalu.Mayoritas pembangunan pelabuhan itu terletak di Indonesia Timur guna menumbuhkan pertumbuhan ekonomi di kawasan itu. Terkait dengan penyelenggaraan sistem kenavigasian, Leon mengatakan juga akan diarahkan untuk wilayah Selat Sunda dan Selat Lombok dengan penambahan sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP). “Kalau penambahan SBNP tahun ini 75% kebutuhan dana terpenuhi, tidak kalah penting juga sistem telekomunikasi termasuk penambahan Vessel Traffic System atau VTS akan ditambahkan,”ujarnya. VTS adalah istem pemantauan lalu lintas pelayaran yang diterapkan oleh pelabuhan atau suatu manajemen armada perkapalan, prinsipnya sama seperti sistem yang dipakai oleh Air Traffic Control (ATC) pada dunia penerbangan.

 

TINGKATKAN EFISIENSI

Kemenhub mencatat akan membangun transportasi laut dalam rencana strategis periode 2010-2014 guna meningkatkan efisiensi pergerakan orang dan barang, memperkecil kesenjangan pelayanan angkutan antar wilayah, dan mendorong ekonomi nasional. Menteri perhubungan E.E Mangindaan sempat menyatakan soal kenavigasian memang ada kendala dari pembiayaan APBN. Namun, Kemenhub tetap berupaya secara maksimal dengan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yakni mengupayakan swasta.

 

“Pemerintah memang menawarkan cost revovery melalui kerja sama pemerintah swasta (KPS) atau public private partnership (PPP), tapi upaya ini bukan pekerjaan mudah,” katanya. Pusat Kajian Kemitraan dan Pelayanan Jasa Transportasi (PKKPJT) Kementrian Perhubungan juga meminta swasta berinvestasi dalam hal alur pelayaran, pembangunan sarana bantu navigasi pelayaran, dan fasilitas komunikasi dalam bentuk PPP. PPP merupakan kerja sama pemerintah dengan badan usaha yang diatur dengan  Keputusan Presiden sendiri. Aturannya adalah Perpres No.67/2005 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur yang direvisi melalui Perpres No.13 / 2010.

 

Sumber             :           Bisnis Indonesia

Hari/tanggal       :           Rabu, 16 Januari 2013

 

Read more
Friday, 09 November 2012

Saat ini PT Pelindo Marine Service sedang mengembangkan bisnis perusahaan di bidang kemaritiman yaitu Pelayanan Pemeliharaan Kedalaman Kolam Terminal Pelabuhan.  Dalam pelaksanaannya PT PMS di dukung oleh armada berupa pompa mesin keruk (mini dredger) yaitu alat/fasilitas berupa alat apung sederhana yang dapat difungsikan sebagai alat pengerukan dasar laut disekitar kolam terminal pelabuhan area olah gerak kapal bersandar di tambatan.

Pemeliharaan Kolam Terminal Pelabuhan dengan menggunakan Mini Dredger ini merupakan Produk dan layanan  pertama di Indonesia, dikatakan yang pertama karena  yang biasa ada dan dikenal adalah pelaksanaan pengerukan menggunakan kapal setara pekerjaan Capital Dredging yang dilaksanakan oleh perusahaan pengerukan.

Mini Dredger merupakan fasilitas alat hasil karya/rakitan tim kerja dari PT PMS yang merupakan teknologi tepat guna, murah, sederhana dan yang paling penting merupakan hasil dari inovasi anak bangsa. Target operasionalisasi dari Mini Dredger adalah  Pemeliharaan Kolam Terminal di beberapa terminal pelabuhan khususnya yang dioperasikan oleh PT Pelindo III (Persero) dan nantinya bisa melayani BUP lainnya.

SPESIFIKASI TEKNIS MINI DREDGER (MODEL PERDANA) :

GENERAL

Vessel Name

:

PMS MD-306 & MD-315

Year of Built

:

2012

Kind of Vessel

:

Submersible Pump  Dredger

Length Overall

:

6.00 m

Breadth Moulded

:

4.60 m

Depth Moulded

:

1.50 m

Design Draft

:

1.00 m

 

 

 

TANK CAPACITY, FO Tank (Diesel)

:

10.8 m3 (approx)

PROPULSION UNIT, One (1) unit of   40 HP

:

Outboard, Yamaha

DREDGING EQUIPMENT, Submersible Pump 

:

One (1) unit of  360 m3/hr, 300 m head,Dragflow

DECK MACHINERY

:

1 x Submersible Pump Winch, 1 x Windlass , 2 x Anchor

DISCHARGING SYSTEM

:

1 x Set of 300 m Spool Pipe c/w floater drum

COMMUNICATION SYSTEM & NAVIGATION AID

:

1 unit Radio VHF, 1 unit GPS, 1 unit Echosounder

 

Latar belakang pembuatan Mini Dredger ini pada dasarnya menjawab 3  kontinum/kondisi yaitu: 

Kontinum Pertama

:

Rosponsibilitas vs Performansi

Responsibility

:

Berdasar ketentuan normatif bahwa pemeliharaan kedalaman alur/kolam dan merupakan tanggungjawab pemerintahan tetapi sebagaimana diketahui bahwa pada kenyataannya  anggaran pemerintah terbatas sehingga pelaksanaannya berdasarkan prioritas.

Performansi

:

Pelindo sebagai BUMN yang mengelola terminal pelabuhan selalu dituntut untuk memberikan pelayanan prima (excellent service) terkait dengan permasalahan  pelabuhan yang salah satunya adalah standar kedalaman kolam.

 

 

 

Kontinum Kedua

:

Investasi vs Skala Ekonomi

Investasi

:

Kegiatan pengerukan di pelabuhan secara umum membutuhkan peralatan berupa kapal keruk dan fasilitas pendukungnya yang membutuhkan nilai investasi tinggi dan skala biaya operasionalnya cukup mahal. Wajarlah kalau perusahaan pengerukan memberlakukan tariffnya cukup mahal hal tersebut disebabkan aktifitas pengerukan memiliki nilai operasinya tinggi.

Skala Ekonomi

:

Nilai investasi dan skala usaha penegerukan akan semakin tidak menguntungkan manakala tingkat permintaan keruk (Demand) tidak mencapai skala produksi yang diharapkan. Di sisi lain Pelindo yang membutuhkan jasa pengerukan terkadang harus membayar tinggi mempertimbangkan besarnya biaya investasi dan operasional kapal keruk yang ada selama ini.

 

 

 

Kontinum Ketiga

:

Kompetensi vs Peluang 

Kompetensi

:

PT PMS yang fokus organisasinya berkegiatan di bidang usaha perkapalan, mempunyai kapsitas SDM yang berkemampuan dalam upaya rekayasa teknologi perkapalan (Naval Arsitech, Marine Engineering, Electrical Engineering, Nautical Survey) sehingga memungkinkan untuk merancang bangun jenis alat apung untuk kepentingan keruk yang murah dan tepat guna. Dalam hal ini telah dibuktikan dengan selesainya membangun 2 (dua) unit Mini Dredger yang saat ini telah diuji coba operasional.

Peluang / Potensi

:

PT PMS yang telah berdiri mandiri sebagai perusahaan di bidang perkapalan melihat kesempatan ini sebagai peluang untuk membantu mengatasi stagnan kontinum diatas sekaligus menjadikan potensi pengembangan usaha untuk meraih pendapatan usaha Perusahaan.

 

 

 

Pembangunan Mini Dredger ini dilaksanakan dengan metode Swakelola yang memakan waktu selama 5 (lima) bulan dan telah dikerjakan di galangan kapal milik PT PMS. Selain itu, pembangunan Mini Dredger mengedepankan kordinasi dengan pihak penanggung jawab Kalaiklautan Kapal yaitu Syahbandar.

 

Keunggulan Mini Dredger Hasil Karya PT PMS :

  1. Biaya investasi untuk pembangunan Mini Dredger lebih murah dibandingkan dengan pengadaan jenis kapal keruk yang besar karena menggunakan metode swakelola dan dikerjakan di galangan milik PT PMS.
  2. Biaya perawatan lebih murah karena tidak membutuhkan dock space yang besar bahkan bisa dikerjakan tanpa menggunakan dock space.
  3. Operasionalisasi dan mobilisasinya lebih mudah karena untuk pengiriman Mini Dredger ini bisa melalui jalur darat atau laut. Selain itu, Mini Dredger ini dapat bergerak tanpa harus ditarik karena memliki Propeller sendiri.

 

Dengan apa yang telah kami sampaikan kami berkomitmen bahwa “ kami akan terus mengusahakan dan melakukan penyempurnaan” terhadap hasil karya perdana ini dalam rangka meningkatkan kualitas Mini Dredger beserta kelengkapan pendukungnya demi layanan pemeliharaan kolam terminal yang prima.

 

PT PMS.

Read more
Tuesday, 11 September 2012

SURABAYA (jurnalberita.com) – Belum lama berdiri, PT Pelindo Marine Service (PMS) sudah menunjukkan prestasi membanggakan. Pada tahun 2012 ini, anak perusahaan PT Pelindo III (Persero) ini, mampu memproduksi 2 unit kapal keruk ukuran kecil (mini dredger).

Kedua kapal keruk tersebut rencananya akan diujicoba melakukan perawatan kedalaman kolam Pelabuhan Benoa, Bali.

“Tahun ini kami memang telah membuat 2 unit mini dredger. Kami yang merakit dan membuat desain kapalnya, semua kami yang mengerjakan, kecuali mesin. Mesin kami masih mendatangkan dari luar negeri,” jelas Direktur Utama PT PMS, Moch. Chairul Anwar, saat ground breaking kantor baru PT PMS, Senin (10/9/12).

Menurutnya, kapal yang diberi nama PMS MD-306 dan PMS MD-315 itu mampu melakukan pengerukan dengan kapasitas hingga 360 m3 per jam. Keunggulan lainnya adalah mudah untuk dibongkar pasang dan dimasukkan dalam petikemas.

Hal itu menjadikannya lebih mudah untuk dikirim ke tempat tujuan tanpa harus ditarik dengan kapal yang lebih besar.“Biaya yang dibutuhkan untuk membangun kedua mini dredger sebesar Rp1,5 Miliar, jauh lebih murah dibandingkan dengan harga pasaran sebesar Rp3,5 Miliar/unit,” katanya.

Pada saat yang bersamaan, pria yang akrab dipanggil Chairul ini, juga memperkenalkan kapal pandu baru yang dimiliki PT PMS. Kapal jenis Rigid Hull Inflatable Boat (RIB) ini, mampu melaju dengan kecepatan minimal 20 knots serta mampu melaju pada ombak yang tinggi.

Direktur Utama PT Pelindo III (Persero), Djarwo Surjanto sempat mengujicoba kapal pandu dengan menaikinya usai mengikuti ground breaking kantor baru PT PMS. Pada kesempatan yang sama dilakukan pemberangkatan Kapal Tunda (KT) Subali I ke Banjarmasin guna memperkuat pelayanan kapal di Pelabuhan Banjarmasin.

“Kapal pandu ini seperti kapal sergap yang dimiliki oleh Angkatan Laut Amerika Serikat. Investasi yang kami butuhkan untuk kapal pandu ini sebesar Rp1,9 Miliar. Kami juga sedang melakukan revitalisasi KT Subali II dengan investasi sebesar Rp14,6 Miliar,” tambahnya.

Disisi lain, Direktur Operasi dan Teknik PT Pelindo III (Persero) Faris Assagaf berharap dengan fasilitas baru yang dimilikinya, PT PMS dapat memberikan pelayanan terbaiknya kepada para pengguna jasa.

“Saat ini pelanggan utama PT PMS adalah PT Pelindo III (Persero). Kami berharap, PT PMS dapat terus memberikan pelayanan terbaiknya bagi dunia kepelabuhanan,” terang Faris. (jbc2)

Read more
Monday, 10 September 2012

Surabaya-Belum lama berdiri, PT Pelindo Marine Service (PMS) sudah menunjukkan prestasi yang membanggakan. Pada tahun 2012 ini, Anak perusahaan PT Pelindo III (Persero) itu mampu memproduksi 2 unit kapal keruk ukuran kecil (mini dredger). Rencananya, pada tahap awal, kedua kapal keruk tersebut akan diujicobakan untuk melakukan perawatan kedalaman kolam Pelabuhan Benoa, Bali.

“Ya, tahun ini kami memang telah membuat 2 unit mini dredger. Kami yang merakit dan membuat desain kapalnya, semua kami yang mengerjakan, kecuali mesin. Mesin kami masih mendatangkan dari luar negeri,” jelas Direktur Utama PT PMS, Moch. Chairul Anwar, saat ground breaking kantor baru PT PMS, Senin (10/9).

Menurutnya, kapal yang diberi nama PMS MD-306 dan PMS MD-315 itu mampu melakukan pengerukan dengan kapasitas hingga 360 m­­3 per jam. Keunggulan lain dari kapal tersebut adalah mudah untuk dibongkar/pasang dan dimasukkan dalam petikemas. Hal itu menjadikannya lebih mudah untuk dikirim ke tempat tujuan tanpa harus ditarik dengan kapal yang lebih besar.

“Biaya yang dibutuhkan untuk membangun kedua mini dredger tadi adalah sebesar Rp1,5 Miliar, jauh lebih murah dibandingkan dengan harga pasaran sebesar Rp3,5 Miliar/unit,” katanya.

Pada saat yang bersamaan, Moch. Chairul Anwar juga memperkenalkan kapal pandu baru yang dimiliki oleh PT PMS. Kapal dengan jenis Rigid Hull Inflatable Boat (RIB) itu mampu melaju dengan kecepatan minimal 20 knots dan kapal pandu tersebut mampu melaju pada ketinggian ombak yang tinggi. Direktur Utama PT Pelindo III (Persero), Djarwo Surjanto sempat mengujicoba kapal pandu itu dengan menaikinya pasca mengikuti ground breaking kantor baru PT PMS. Selain itu dalam kesempatan yang sama dilakukan pemberangkatan Kapal Tunda (KT) Subali I ke Banjarmasin untuk memperkuat pelayanan kapal di Pelabuhan Banjarmasin.

“Kapal pandu ini seperti kapal sergap yang dimiliki oleh Angkatan Laut Amerika Serikat. Investasi yang kami butuhkan untuk kapal pandu ini sebesar Rp1,9 Miliar. Kami juga sedang melakukan revitalisasi KT Subali II dengan investasi sebesar Rp14,6 Miliar,” tambahnya.

Disisi lain, Direktur Operasi dan Teknik PT Pelindo III (Persero) Faris Assagaf berharap dengan fasilitas baru yang dimilikinya, PT PMS dapat memberikan pelayanan terbaiknya kepada para pengguna jasa.

“Saat ini pelanggan utama PT PMS adalah PT Pelindo III (Persero), kami berharap PT PMS dapat terus memberikan pelayanan terbaiknya bagi dunia kepelabuhanan,” terang Faris.

PT Pelindo Marine Service ssmerupakan anak perusahaan keenam PT Pelindo III (Persero). Perusahaan yang diresmikan oleh Menteri BUMN, Dahlan Iskan pada bulan Januari lalu itu memiliki bisnis utama dibidang jasa pelayanan perkapalan. Hingga bulan Juni 2012, meskipun belum berumur setahun penuh, PT Pelindo Marine Service telah mampu membukukan pendapatan Rp81,8 Miliar.

Read more
Friday, 29 June 2012

Pesawat jenis Fokker 28 akan diubah peruntukannya menjadi kapal wisata. Ide ini dirancang oleh PT Pelindo Marine Service, anak usaha PT Pelindo III (Persero). Manajer Teknik PT Pelindo Marine Service, Harry Poerwanto, telah membidik beberapa unit bangkai bodi pesawat milik PT Merpati Nusantara Airlines di hanggar Merpati Juanda.

Menurut Harry, langkah ini adalah inovasi terbaru di dunia maritim sekaligus memanfaatkan barang bekas agar lebih bermanfaat. "Kami harap secepatnya mendapat bodi pesawat untuk segera dikonversi," ucap Harry kepada Tempo.

Rencananya, bangkai bodi pesawat dipotong menjadi beberapa bagian. Cara ini agar mempermudah proses pengangkutan dari Juanda ke Tanjung Perak. Potongan bodi digarap di galangan kapal milik PT PMS di Tanjung Perak untuk proses desain ulang. Heri menuturkan, perubahan desain tetap mempertahankan struktur bodi pesawat. Dia hanya memotong bagian sayap dan menyisakan ekor pesawat di bagian buritan kapal.

Proses rekayasan konstruksi juga menyentuh bagian interior bodi pesawat, kecuali ruang cockpit. Ruang cockpit dipertahankan supaya ornamen khas pesawat tidak hilang. Susunan kursi penumpang dirombak sedikit untuk memberikan keleluasaan ruang meeting dan lounge room. Ia juga memodifikasi ulang bagian bawah bodi pesawat sehingga bisa mengambang.

Sebelum kapal berbodi pesawat ini dikomersialkan, wajib mendapat sertifikasi surat kapal dari Syahbandar, Kementerian Perhubungan. Sayangnya, kapal bodi pesawat ini tidak bisa melawan gelombang laut di atas 1 meter. "Bagian mesin pesawat diganti dengan mesin kapal," ujarnya.

Direktur Utama PT PMS, Chairoel Anwar, masih melakukan penjajakan ke Merpati terkait usulan ini. Ia berharap, Merpati mengibahkan bangkai Fokker 28 yang teronggok di hanggarnya. Ketimbang tak terpakai, kata ia, lebih baik didesain ulang untuk mendapat nilai tambah. Ia masih menunggu persetujuan Kementerian BUMN, karena melibatkan dua lembaga di bawah BUMN. "Kalau hibah paling bayar Rp 100 juta, enggak masalah. Daripada beli pesawat baru dan diubah, lebih mahal.

Chairoel ingin, kapal pesawat ini bisa melayani wilayah perairan disekitar Tanjung Perak hingga Pulau Karang Jamuang. Karena memakai bodi pesawat, kapal tidak bisa beroperasi di perairan lepas. Jika dihantam gelombang tinggi, kapal rawan tenggelam. Bila memungkinkan, kapal pesawat juga melintasi alur-alur sungai Kota Surabaya. Dia juga menggandeng ITS Surabaya terkait proyek re-desain pesawat menjadi kapal ini.

Sumber : Tempo.co

 

 

 

Read more