Tuesday, 05 March 2013
Manajer SDM dan Umum Pelindo IV Balikpapan Teguh Haryono mengatakan pihaknya perlu mencari strategis bisnis baru pasca beralihnya aktivitas bongkar muat koontainer ke Terminal Peti Kemas (TPK) Kariangau. Fungsi pelabuhan sebagai terminal penumpang akan tetap berlangsung dengan perbaikan pada fasilitas yang perlu direnovasi. “Tahun ini kami rencanakan untuk renovasi dan mempercantik terminal penumpang agar penumpang betah di dalamnya,” ujarnya. Teguh mengakui aktivitas pelabuhan tertinggi didominasi oleh kapal ro-ro yang sepanjang tahun lalu mencapai 599 panggilan atau 43% dari total panggilan. Hal ini disebakan oleh tingginya arus distribusi barang dari luar daerah ke Balikpapan. Adapun untuk kapal penumpang, pihaknya mencatat hanya mendapatkan 230 panggilan sepanjang tahun lalu atau sekitar 17% dari total panggilan. Peningkatan arus penumpang biasanya terjadi hanya pada saat mudik atau tahun baru karena harga tiket pesawat udara yang hamper menyentuh batas atas. Teguh menuturkan Pelindo IV Balikpapan tengah mengembangkan bisnis supply base dengan memanfaatkan lapangan kontainer Semayang yang tidak lagi banyak diisi oleh peti kemas. Masih prospektifnya bisnis pengeboran minyak di lepas pantai Selat Makasar menjadi salah satu alasan pengembangan nisnis Pelabuhan Semayang ke supply base. “Sudah ada yang menjajaki peluang untuk kerja sama. Kami harapkan ini terealisasi dan bisa menarik pelaku bisnis lain untuk bekerja sama,” tukasnya. Adapun untuk car terminal Pelindo Balikpapan akan memanfaatkan lapangan Tukung seluas 6.300 meter persegi guna menampung kendaraan sehingga tidak lagi menggunakan area jalan. Rencananya, Pelindo juga akan melakukan reklamasi untuk menambah luasan areal. Teguh mengaku telah mengomunikasikan usulan ini kepada Pemkot Balikpapan dan telah memperoleh persetujuan,”Jadi, Pelabuhan Semayang akan lebih rapi karena kapal dengan muatan yang macam-macam dilokasikan di Lapangan Tukung.” Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Balikpapan Suryanto menambahkan pemerintah mendukung pengembangan Pelabuhan Semayang menjadi supply base karena sifatnya yang hanya berhubungan dari laut ke laut. Namun, untuk bisnis car terminal,pihaknya masih keberatan karena akan memengaruhi kondisi lalu lintas di dalam kota. “Kalau bisa yang semacam itu di TPK Kariangau saja. Kami juga masih menunggu pengembangan di sana karena baru 10 ha yang dikembangkan dari luas total 72,5 ha,” tambahnya. KUALA TANJUNG Dalam perkembangan lain, pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung di Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara, sudah memasuki tahap penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), sehingga pembangunan fisiknya dapat dimulai pada 2014. Asisten Corporate Secretary Humas Pelindo I Medan Eriansyah mengaku tahapan pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung Baru memasuki penyusunan amdal, sedangkan studi kelayakan dan detail engineering design (DED) sudah selesai. “ Kini tahapan pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung sudah memasuki penyusunan amdal. Diharapkan pembangunan fisik sudah bisa dimulai pada tanggal 2014,” ujarnya di Medan. Tahun lalu, Pelindo I Medan menjalin kerja sama dengan PT Pembangunan Perumahan (PP) dan PT Hutama Karaya untuk membangun Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai hun port dengan inventasi sedikitnya Rp 4 triliun. Menurut Eriansyah, sesuai jadwal yang ditetapkan, memang kemajuan pembangunan Kuala Tanjung masih pada tahap yang wajar mengingat perizinan yang harus dipenuhi sebanyak 11 jenis. Sumber : Bisnis Indonesia
Read more
Tuesday, 05 March 2013

Potensi empat pelabuhan di bawah naungan PT Pelabuhan Indonesia III akan diperkenalkan dalam Miami Cruise Shipping, 11-14 Maret. Agenda ini merupakan pameran pariwisata yang meliputi semua aspek kepariwisataan.

            Empat pelabuhan  yang akan dikenalkan Pelindo III adalah Tanjung Bona (Bali), Lembar ( Nusa Tenggara Barat), Tanjung Emas (Semarang), dan Kumai (Kalimantan Tengah). Ke empat daerah tersebut selain memiliki pelabuhan yang memadai, potensi wisatanya juga menjanjikan.

            Kepada Radar Surabaya, Kemarin , Kepala Humas Pelindo III Edi Priyanto, mengungkapkan bila ajang ini berkaitan dengan wisata kapal pesiar. Dimana pameran sekaligus diskusi ini melibatkan banyak pihak. Mulai dari unsure pemerintahan, operator pelabuhan, maskapai pelayaran, dan travel agent.

            “Ini adalah kesempatan kita untuk mempromosikan potensi wisata yang sudah didukung pelabuhan yang memadai. Kebetulan, empat daerah yang akan kita kenalkan memiliki keseimbangan yang memadai,” kata dia.

            Edi mencontohkan Tanjung Benoa dan Tanjung Emas memiliki potensi wisata yang cukup besar. Bahkan dua daerah tersebut memiliki kunjungan wisata (cruise) cukup tinggi di wilayah Pelindo III. Tanjung Benoa yang berada di Bali, potensi wisatanya tertinggi di Indonesia. Cukup banyak objek wisata yang bisa menjadi daya tarik wisata asing.

            Demikian juga dengan Semarang, yang banyak menerima kunjungan wisatawan asing. “Mereka (wisatawan asing) memilih ke Semarang hanya untuk ke Borobudur dan Prambananan. Juga mengunjungi  Solo kota tua di Semarang. Termasuk museum kereta api di Ambarawa,” ulasnya.

            Bagaimana dengan Surabaya? Edi mengakui potensi wisata dan kondisi pelabuhan masih timpang. Apa lagi Tanjung Perak berencana merevitalisasi pelabuhan, sebagai modern port tahun ini. Tetapi potensi wisata yang ada di Suranbaya, kurang menunnjang.

            Seperti tahun lalu, cruise yang membawa wisatawan asing ke Surabaya memilih ke Mojokerto. Tetapi mereka di hadapkan problem infrastruktur transportasi darat dari Surabay menuju Mojokerto.

            Edi mengakui keikutsertaan Pelindo dalam Miami Cruise Shipping ini untuk memperkenalkan pelabuhan dan potensi wisatanya. “Otomatis empat pelabuhan yang kita kenalkan sudah memiliki added value baik dari sisi pelabuhan lain,” tutupnya.

            Keikutsertaan Miami Cruise Shipping ini, pemerintah Indonesia berkesempatan mengirim 37 delegasi. 37 delegasi ini meliputi pemerintahan, operator pelabuhan, maskapai pelayaran, dan tour agent. Demikian juga unsure BUMN, seperti Pelindo IIV dan Pertamina.

Sumber : Radar Surabaya

Read more
Wednesday, 06 February 2013

PT Adhi Karya Tbk berhasil meraih kontrak untuk membangun dua pelabuhan laut di Teluk Lamong dan Halmahera dengan total Rp757 miliar.

Untuk proyek Pelabuhan Teluk Lamong perseroan menggarap dua paket, dimana satu paket sudah selesai. Paket yang baru didapat pada akhir tahun lalu ialah sambungan dari paket A senilai Rp237 miliar. Sementara paket yang sudah selesai dikerjakan ialah Paket A dengan nilai kontrak sebesar Rp401 miliar.

Corporate Secretary Adhi Karya Amrozi Hamidi mengungkap perseroan yakin dapat menyelesaikan seksi yang baru didapat pada akhir tahun itu selesai lebih cepat.

“Untuk Teluk Lamong perseroan dapat satu seksi lagi pada bulan Desember 2012. Progres pengerjaan sendiri sudah 36%,”ujarnya kepada bisnis selasa (5/2).

PROYEK Pelabuhan Teluk Lamong merupakan proyek milik BUMN PT Pelindo III. Selain Adhi Karya beberapa BUMN Karya yang juga ikut menggarap proyek itu seperti PT Nindya Karya, PT Wijaya Karya Tbk, dan PT PP.

Adapun progress secara keseluruhan untuk Teluk Lamong sudah mencapai 54%. Proyek itu diharapkan akan rampung pada 2014. Nilai investasi Pelindo III untuk pembangunan Pelabuhan itu mencapai Rp3,4 triliun.

Sementara pengerjaan Pelabuhan Halmahera, Maluku merupakan proyek milik PT Aneka Tambang Tbk dengan nilai proyek mencapai Rp129 miliar. Hingga sejauh ini pengerjaan pelabuhan diwilayah Kepulauan Tidore itu memasuki tahap pemancangan tiang ditengah laut.

Selain menggarap pelabuhan, perseroan juga tengah menggarap proyek migas milik PT Pertamina di daerah cilacap. Proyek residual fluid catalytic cracking (RFCC) itu digarap bersama perusahaan Korea Selatan, Goldstar Engineering Construction Corp dengan nilai kontrak sebesar U$$846 juta dolar.

Sementara itu, PT Hutama Karya berhasil mendapatkan kontrak proyek senilai Rp 1,5 triliun per Januari atau pencapaiannya sudah mencapai 15% terhadap target sepanjang tahun ini.

BUMN tersebut menargetkan dapat meraup kontrak senilai Rp9,6 triliun atau naik 13% dibandingkan dengan target tahun lalu Rp8,5 triliun. Dengan realisasi pada Januari, sisa nilai proyek yang harus dicapai perusahaan senilai Rp8,1 triliun.

Sekretaris Perusahaan Hutama Karya Ari Widiantoro mengatakan nilai proyek konstruksi yang harus diperoleh pada tahun ini adalah senilai Rp40 triliun untuk mengejar target yang ditetapkan perusahaan.

“Kami mendapatkan proyek pembangunan terminal, pabrik semen, transportasi, dan juga infrastruktur dengan nilai total Rp1,5 triliun,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (5/2).

 

SUMBER   : BISNIS INDONESIA

TANGGAL : RABU, 6 JANUARI 2013

 

Read more
Tuesday, 05 February 2013

Perusahaan operator pelabuhan Pelindo III berencana mengeluarkan capital expenditure sebesar Rp 6,1 triliun tahun ini. Jumlah itu empat kali lebih besar dibandingkan investasi pada 2012 yang belum teraudit, yakni Rp 1,5 triliun.

Kepala Humas Pelindo III Edi Priyanto mengatakan, investasi tersebut dibenamkan pada tiga aspek. Yakni, proyek pembangunan, peralatan, dan infrastuktur lainnya. Sebanyak Rp 2,5 triliun akan digunakan untuk proyek pembangunan. Misalnya, proyek terminal multipurpose Teluk Lamong yang masih butuh duit sekitar Rp 2,1 triliun.

Selain itu, ada Rp 1,8 triliun untuk membeli fasilitas dan perlengkapan. Misalnya pengadaan satu unit container crane di dermaga Nilam Timur dan lima unit rubber tyred gantry (RTG) diterminal petikemas Semarang.”Pengadaan peralatan baru tersebut dilakukan untuk mendukung perubahan konsep kami dibeberapa Pelabuhan. Terutama, Tanjung Perak yang akan dijadikan dedicated port,” terangnya.

Dengan investasi itu, Pelindo III menargetkan peningkatan arus kapal menjadi 76 ribu unit dengan total berat 272 juta gross tonnage. Target tidak berbeda jauh dari realisasi 2012, yakni 74 ribu kunjungan kapal dengan total berat 262 juta. “Memang tak banyak karena proyek yang sedang kami kerjakan belum biasa terealisasi tahun ini. Kami berharap, arus barang bisa mencapai 91 juta ton dan petikemas bisa mencapai 3,3 juta box,” ucapnya.

Pelindo sedang berpikir untuk memperoleh pinjaman dari bank. Sebab, dana internal mereka dikhawatirkan belum cukup. “sebenarnya, kami punya wacana untuk menurunkan dividen agar dana investasi bisa murni dari internal. Hanya, pemegang saham tidak setuju. Jadi, pilihan alternative adalah meminjam dari bank,”tuturnya.

Kini Pelindo berusaha mendapatkan pemberi pinjaman dengan tawaran paling baik. “Ya, kami sudah berpengalaman untuk mendapatkan pinjaman bank. Tahun lalu, misalnya, kami sudah mendapatkan pinjaman dari ANZ untuk proyek terminal Teluk Lamong,” ujarnya.

 

SUMBER   : JAWA POS

TANGGAL : SELASA, 5 FEBRUARI 2013

Read more
Tuesday, 05 February 2013

Sejumlah pelaku usaha dan Badan Usaha Pelabuhan (BUP) yang memiliki keterkaitan dengan revitalisasi Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) mulai was-was. Kekhawatiran ini terkait ancaman molornya pelaksanaan proyek ini akibat belum jelasnya pemindahan pipa gas milik PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) yang dijadwalkan Maret 2013.

Jika proyek APBS ini molor, yang dikhawatirkan pelaku usaha adalah olah gerak kapal dan muatan kapal menjadi terbatas. Dampaknya adalah cost (biaya) pengiriman logistik membengkak. Ujung-ujungnya pelku usaha di Pelabuhan Tanjujng Perak yang dirugikan.

Karena itu, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III selaku Badan Usaha Pelanuhan (BUP), memiliki kepentingan terhadap pelaku pasar dan perekonomian di Jawa Timur.

“Kami sangat berkepentingan dengan revitalisasi APBS, karena memiliki keterkaitan dengan perekonomian Jatim, khususnya masalah distribusi logistik,” kata kepala Humas PT Pelindo III, Edi Priyanto, kemarin (4/2).

Seperti sering diberitakan bila kedalaman alur hanya -9,5 meter low water spring )LWS). Kedalaman itu tidak memungkinkan untuk mendatangkan kapal besar dengan muatan besar. Otomotis proses pengiriman harus dilakukan dua kali, dan menyebabkan pembengkakan biaya.

Sejauh ini APBS masih terganggu dengan keberadaan pipa gas milik PHE WME yang melintang dibawahnya. “Kita butuh memperdalam alur, guna memudahkan distribusi logistik. Permasalahannya, kami belum pernah mendengar persiapan untuk memindahkan pipa yang dilakukan PHE WME,” lanjut Edi.

Ketua Asosiasi Logistik dan forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, Henky Pratoko mengatakan efek domino yang ditimbulkan cukup besar. “Jumlah kapal yang singgah tetap kecil, tetapi akan lebih banyak. Dampaknya antrean kapal makin panjang akibat dari belum tuntasnya aktifitas bongkar muat,” urainya.

Dia menegaskan diskusi bersama Pemerintah Provinsi JawaTimur 28 November lalu akan sia-sia. Pada diskusi tersebut membahas pentingnya pemindahan pipa guna mendukung  revitalisasi APBS.

“Terminal Multi Purpose Teluk Lamong akan berarti bila didukung dengan revitalisasi APBS,” tutupnya.

November 2012 lalu, PHE WME menjanjikan pemindahan pipa dilakukan Maret 2013. Field Manager PHE WME, Seth Ambat mengungkapkan perusahaannya telah membeli pipa pengganti. Sayangnya, pantauan dilapangan sejauh ini belum ada tanda-tanda rencana pemindahan pipa.

Pemasangan pipa itu tertuang dalam Production Sharing Contract  (PSC) antara BP Migas (sekarang PHE WME) dengan PT Kodeco, tertanam di Kilometer Point 35-36 dan 44-46. Pemasangan pipa itu dianggap mengganggu keselamatan pelayaran. Safety of Life at Sea (SOLAS).

 

SUMBER    : RADAR SURABAYA

TANGGAL : SELASA, 5 FEBRUARI 2013

 

 

Read more
Tuesday, 05 February 2013

PT Pelabuhan Indonesia II mempercepat pembangunan tahap pertama dermaga khusus layanan sandar kapal dan bongkar muat mobil sepanjang 304 m di Pelabuhan Tanjung Priok.

Direktur Utama PT Indonesia  Kendaraan Terminal (IKT), anak usaha PT Pelabuhan Indonesia II atau IPC, Armen Amir mengatakan pembangunan fisik dermaga ditargetkan selesai pada April 2013.

Nantinya, panjang Dermaga khusus layanan sandar kapal dan bongkar muat kendaraan, alat berat dan suku cadang itu bertambah menjadi 612 m.

Setelah dermaga tahap pertama beroperasi, dia melanjutkan pihaknya akan membangun dermaga tahap kedua sepanjang 148 m dengan kedalaman -12 m  loest water standard (LWS).

“Diharapkan semua kegiatan pengembangan dermaga itu bisa diselesaikan hingga akhir tahun ini. Selain itu, kami juga akan memperluas area lapangan penumpukan,” ujarnya kepada bisnis. Senin (3/2)

Armen melanjutkan pihaknya juga akan menambah lahan penumpukan seluas 12,5 ha yang ditargetkan bisa disiapkan hingga akhir 2013.

Saat ini, tuturnya, lapangan penumpukan yang eksisting diterminal itu seluas 9,2 ha ditambah gedung parkir lima lantai seluas 5 ha dan  temporary landing seluas 1,8 ha.

Selain menambah infrastruktur, Armen menyatakan pihaknya juga menambah fasilitas alat keselamatan dengan membangun jaringan penangkal debu diperbatasan lahan Dok Kodja Bahari dan       PT Bogasari.

Untuk operasional unit usaha terminal IKT, Armen menegaskan kini sudah diinvestasikan empat unit head truck dan empat unit chasis. “Seluruh investasi itu disiapkan dari IPC dan internal kami,”paparnya.

Pada 2013, dia menambahkan pihaknya menyiapkan investasi mencapai Rp221,5 m dengan peruntukan pembangunan fasilitas Rp202,6 miliar, peralatan Rp8,4 miliar dan instalasi Rp10,5 miliar.

Armen memaparkan arus bongkar muat melalui terminal mobil setiap tahun terus meningkat didorong pertumbuhan signifikan atas ekspor dan impor mobil.

Pertumbuhan itu, kata dia, juga dipacu minat beberapa car automaker menjadikan Indonesia sebagai basis produksi bagi pasar regional.

 

SUMBER   : BISNIS INDONESIA

TANGGAL : SELASA, 5 FEBRUARI 2013

Read more