Wednesday, 30 January 2013

Fasilitas yang ada disemua terminal PT Pelabuhan Indonesia III Cabang Tanjung Perak akan mendapat penilaian. Program tersebut untuk memacu dan berkompetisi antar terminal yang ada di Tanjung Perak.

Deputy General Manager PT Pelindo III Cabang Tanjung Perak, Bambang Hasbullah, kemarin(29/1), menginginkan penilaian ini melibatkan semua pihak.

“Tidak hanya fasilitas yang kami miliki, tetapi juga keterlibatan Perusahaan Bongkar Muat (PBM) dan maskapai pelayaran,” Kata Bambang.

Cara ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas pelayanan kepada pengguna jasa di Pelabuhan Tanjung Perak. Bambang mengakui pengguna jasa di Tanjung Perak cukup banyak dan kompleks.

“Dasar pemikirannya untuk memberi motifasi kepada operator di Tanjung Perak sekaligus peranan PBM dan maskapai pelayaran. Masih banyak fasilitas yang ada perlu perbaikan pelayanan,” urai Bambang.

Dia menunjuk peralatan crane kapal yang sudah cukup tua. Demikian juga dengan kapal yang berlayar banyak yang sudah saatnya masuk doking atau justru sudah waktunya beroperasi, tetapi masih ada. Termasuk daya masuk crane kapal yang perlu ada pembenahan dari operator pelabuhan.

Pelabuhan di Tanjung Perak yang dibawah kendali Pelindo III Cabang Tanjung Perak adala, Nilam, Jamrud (Utara, Selatan, dan Barat), dan Mirah. Sedangkan berlian sudah dibawah kontrol PT Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI).

Tidak dijelaskan sistem penilaian yang akan diterapkan PT Pelindo III Cabang Tnajung Perak. Tetapi Bambang sudah memiliki draft berdasarkan sistem ranking.

“Nantinya masing-masing operator, PBM, dan maskapai pelayaran akan kita beri ranking berdasarkan skor. Sehingga pengguna jasa akan memilih. Dari situlah akan tercipta kompetisi yang sehat,”jelas Bambang.

Program ini diakui tidak akan berjalan bila tidak ada dukungan dari semua pihak. Keterlibatan asosiasi diharapkan memberi dukungan. Sedikitnya ada enam asosiasi seperti ALFI, INSA, Ansus Organda, GPEI, Ginsi, dan APBMI.

SUMBER                              : RADAR SURABAYA

HARI, TANGGAL                               : RABU, 30 JANUARI 2013

 

Read more
Wednesday, 30 January 2013

Pengaturan kapal di dermaga Kalimas harus segera dilakukan. Sebab, dermaga yang digadang-gadang menjadi wisata budaya (heritage) itu tampak semrawut. Banyak kapal, baik kapal kayu maupun kapal besar, yang bongkar muat disana. Dampaknya, dermaga tersebut tampak tidak tertata.

                Kapal kayu dan kapal besar (warga setempat menyebutnya kapal besi) parkir tidak teratur tanpa ada area pembatas yang jelas. Dermaga itu hanya diperuntukkan bagi kapal kayu pelayaran rakyat (pelra). Faktanya, ada kapal besi yang parkir untuk perbaikan dan bongkar muat.

                Sumarto, salah seorang pemilik kapal pelra asal gresik, mengaku kecewa dengan kesemrawutan tersebut. Dia meminta PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III segera menerbitkan kapal-kapal itu. Apalagi, dermaga tersebut akan direnovasi untuk wisata heritage.

                “Kadang kami sulit masuk dan mencari tempat bersandar di dermaga. Sebab, kapal besi yang parkir seenaknya dan ukurannya lebih besar,” ungkap Sumarto. Padahal, kapal pelra membutuhkan tempat khusus untuk parkir.

                Berdasar pantauan Jawa Pos kemarin (29/1), hampir 40 persen kapal yang parkir disana adalah kapal besi. Hal tersebut otomotis menimbulkan konflik antar pemilik kapal. Truk yang sedang bongkar muat juga melintang seenaknya. Jika ada dua truk yang berpapasan, salah satunya minggir.

                Humas Pelindo III Edi Priyanto mengatakan, pihaknya siap menerbitkan kesemrawutan disana. “Kami sering memantau dermaga tersebut. Kami akan menerbitkan sekaligus melakukan sosialisasi,”ujarnya.

 

SUMBER                              : JAWA POS

HARI, TANGGAL                    : RABU, 30 JANUARI 2013

Read more
Friday, 18 January 2013

Revitalisasi alur pelayaran barat Surabaya (APBS) bakal dimulai tahun ini. Proyek multiyear itu kini masuk dalam proses lelang. Jika lelang selesai, pengerjaan fisik proyek yang digagas Kementrian Perhubungan (Kemenhub) itu bisa segera dimulai. Kepala Dishub Jatim Wahid Wahyudi menyatakan, proyek APBS dibagi dua tahap. Tahap pertama yang dimulai tahun ini akan berakhir pada 2014. Pemerintah menyediakan anggaran USD 73 juta. Dana sebesar irtu  digunakan untuk memperlebar alur efektif dari 100 meter menjadi 150 meter serta memperdalam alur 9,5 meter menjadi 13 meter.

Proyek tahap II akan memperlebar alur dari 150 meter menjadi 200 meter dan diperdalam  hingga 16 meter. Total anggaran untuk tahap II yang dijadwalkan dimulai pada 2014 mencapai USD 111 juta. “Setelah tender selesai, proyek segera digarap,” tegas Wahid.

Dia mengakui, realisasi proyek itu sempat terhambat karena membentangnya pipa gas Kodeco di alur pelayaran Surabaya Barat. Namun, persoalan tersebut sudah dibahas bersama Kemenhub. “Sudah bukan hambatan karena siap direlokasi,”ujarnya. Apalagi, kata Wahid, panjang pipa gas Kodeco yang melintas alur 200 meter. Karena itu, pemerintah optimistis pemindahan pipa tersebut hanya membutuhkan waktu sekitar dua bulan. “Pemindahan pipa akan dilakukan PT Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore,” katanya.

Dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi di Jatim saat ini mencapai 7,22 persen. Tingkat pertumbuhan itu melebihi DKI Jakarta. Sejatinya, kata Wahid, tingkat pertumbuhan ekonomi di Jatim bisa maksimal hingga 8 persen, namun terkendala sistem transportasi.

Pelabuhan Tanjung Perak, ungkap Wahid, bukan hanya pusat aktivitas ekonomi di Jatim, tapi juga Indonesia Timur. Apalagi, Tanjung Perak, mempunyai 20 rute atau lebih banyak dibanding Tanjung Priok. Persoalannya, alur pelayaran barat Surabaya (APBS) hanya memiliki kedalaman 9,5 mete. Karena itu, kapal yang boleh masuk atau lewat di situ hanya kapal generasi kedua.

Kapal jenis itu hanya memiliki daya muat barang 15 ribu DWT (day weight ton) . Padahal, untuk bisa dilewati pelayaran internasional, alur tersebut harus bisa dimasuki kapal generasi ke-9. “Kita kalah tujuh generasi,” ujarnya. Dampaknya, barang ekspor tidak bisa sampai langsung samapai ke tujuan dan harus transit lebih dulu di Singapura, kemudian diangkut lagi oleh kapal yang lebih besar. Gubernur Jatim Soekarwo mengusulkan agar APBS diperdalam hingga minus 16 meter. Jika target itu terealisasi, kapal yang bisa masuk ke Pelabuhan Tanjung Perak maupun Teluk Lamong bisa melompat dari jenis generasi kedua ke kapal generasi ketujuh dengan kapasitas muat 60 ribu DWT.

“Dengan demikian, tidak harus transit di Singapura. Diharapkan, upaya itu bisa menekan cost transport, sehingga barang ekspor dari Jatim dan Indonesia Timur bisa langsung dipasarkan di pasar Internasional,”ujarnya.

Saat ini, lelang proyek dilakukan Dirjen Perhubungan Laut. Beberapa waktu lalu, kata Wahid, gubernur membentuk BUMD yang bisa ikut konsorsium untuk menormalisasi APBS. Selanjutnya, dilakukan MoU antara Jatim Graha Utama yang mewakili BUMD Jatim dan Pelindo III, Petrokimia, serta Wijaya Karya. Setelah MoU, tahap selanjtnya adalah meambentuk konsorsium agar bisa mengikuti lelang oleh Dirjen Perhubungan Laut. “Insya Allah, konsorsium ini bisa memenangi lelang. Apalagi, Pelindo sudah punya dokumen perencenaan yang lengkap. Saya yakin Pelindo punya perencanaan terlengkap untuk APBS,”jelasnya.

Pemprov optimistis, jika proyek tersebut terealisasi, Jatim akan mempunyai sistem transportasi baru untuk mengurangi arus perdagangan lewat laut. Kapal-kapal besar nanti singgah dan berlabuh di Tanjung Perak.

 

Sumber            : Jawa Pos

Hari/tanggal   : Jum’at, 18 Januari 2013

 

 

Read more
Wednesday, 16 January 2013
PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III mengumumkan hasil realisasi kunjungan kapal pada tahun 2012 mengalami peningkatan. Hasil tahun 2012 kunjungan kapal mencapai 14.680 unit, atau meningkat sekitar 4 % dibanding tahun sebelumnya. Kepala Humas PT Pelindo III Edi Priyanto mengatakan, peningkatan kunjungan kapal di seluruh Pelabuhan Tanjung Perak ini belum bisa optimal. Penyebabnya, revitalisasi Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) belum dioptimalkan sehingga peningkatan kunjungan kapal tersendat. “Realisasinya sesuai target, tetapi masih bisa lebih optimal lagi,” kata Edi Priyanto. Dijumpai diruang kerjanya,dia menyebutkan tahun 2011 arus kunjungan kapal (ship call) hanya tercatat 14.117. Dari total kapal yang singgah di Tanjung Perak kunjungan kapal masih mendominasi. Sebanyak 12.509 kapal domestik hilir mudik di Tanjung Perak sedangkan 2.171 unit merupakan kapal asing. Adanya asas Cabotage sedikit yang menyebabkan tingginya kunjungan kapal domestik. Asas Cabotage ini adalah aturan yang melarang semua kapal asing melakukan perdagangan dinegara pantai. Artinya negara pantai berhak melarang kapal asing yang berlayar dan berdagang. Penerapan Asas Cabotage didukung ketentuan Hukum Laut International, berkaitan dengan kedaulatan dan yuridiksi negara pantai atas wilayah lautnya.”Hal ini yang menyebabkan kapal asing tidak mudah memasuki wilayah perairan tanpa izin dan alasan jelas, “ lanjut Edi. Sementara untuk tonase atau angkutan yang dibawa kapal menurun dibanding tahun sebelumnya. Bila tahun 2011 mampu mencapai 38.050.941 GT, tahun 2012 menurun menjadi 34.405.702 GT. Sumber : RADAR SURABAYA Hari/tanggal : RABU, 16 Januari 2013
Read more
Wednesday, 16 January 2013

Kadin Jawa Timur meminta pemerintah mempercepat proyek pengembangan pelabuhan strategis untuk mendukung pengusaha pelayaran mendatangkan kapal baru.

Ketua Pengembangan Pelayaran Kadin Jawa Timur Lukman Ladjonu mengatakan pengembangan pelabuhan akan menstimulus pelayaran untuk berinvestasi dengan membeli kapal baru pada tahun ini. Saat ini, menurutnya, harga kapal dunia menurun hingga hampir 50% untuk semua jenis ukuran.

“Pengusaha pelayaran sulit mendatangkan kapal-kapal baru bahkan kapal berskala lebih besar karena infrastruktur tidak siap,” katanya dalam siaran pers.

Data Indonesia National Shipowners’ Association (INSA) mencatat harga hampir semua jenis kapal baru atau bekas, baik angkuta curah cair, curah kering, kontainer dan general cargo turun secara signifikan akibat dampak krisis global.

INSA memaparkan harga kapal curah kering bekas berusia 10 tahun jenis handymax berkapasitas 52.000 DWT turun 46% menjadi US$ 14,5 juta pada Januari 2013 dibandingkan dengan harga tertinggi pada Mei 2010 sebesar US$ 27 juta.

Harga kapal handymax baru kapasitas 50.000 DWT tercatat US$ 24 juta atau turun 24% ketimbang posisi Agustus 2010 sebesar US$ 31,5 juta. “Selama periode 2010 hingga sekarang, tren harga kapal cenderung turun,” ujarnya.

Dia menilai rencana pelayaran menginvestasikan dana untuk membeli kapal berskala besar dalam waktu dekat akan semakin memperburuk kondisi pelabuhan karena tidak siap menerima kapal baru. “Kunci menurunkan biaya logistik sekarang ini ada di pelabuhan,” ungkapnya.

Lukman juga meminta pemerintah tidak terjebak ke dalam wacana Pendulum Nusantara karena wacana tersebut dinilainya sudah basi.

“Konsep itu sudah dikenal sebelum istilah liner dan tremper diterapkan sekarang. Jika saat ini tetap dibahas dan diwacanakan, itu sudah terlambat.” Menurutnya, pemerintah dan operator pelabuhan seharusnya lebih fokus mempercepat modernisasi pelabuhan ketimbang mewacanakan konsep Pendulum Nusantara.

Dia melihat saat ini merupakan waktunya pemerintah bekerja membangun infrastruktur guna meningkatkan daya saing. Dia mengingatkan era liberalisasi pasar Asean 2015 sudah di depan mata. “Kalau momentum sekarang tidak kita tangkap, kita akan menajdi penonton di negeri sendiri pada saat era liberalisasi pasar ASEAN 2015 diterapkan.”

“Kalai biaya dan tarif kepelabuhan bisa turun 50% - 70%, tarif angkutan laut akan tertolong secara signifikan. Selama ini komponen tarif, pada pelabuhan menelan 60% dari total biaya angkutan laut,”ucapnya.

 

Sumber                         : BISNIS INDONESIA

Hari/tanggal                   : Rabu, 16 Januari 2013

Read more
Wednesday, 16 January 2013

Rencana penambahan fungsi Dermaga Kalimas menjadi area wisata akan mengalami kendala. Itu disebabkan saat ini masih ada beberapa lahan dan gudang di dermaga tersebut yang difungsikan untuk swasta dan komersial. Bahkan, ada yang digunakan secara sepihak.

Beberapa kapal pun tidak tertib saat bersandar. Akhirnya, dermaga 1 kilometer tersebut terkesan kurang penataan.Sebenarnya, dermaga tersebut dikhususkan untuk kapal kayu pelayaran rakyat (pelra). Fakta di lapangan, ternyata bayak kapal besi yang sedang bersandar. Otomatis itu menghambat lalu lintas bagi kapal pelra.

Penataan untuk penambahan fungsi tersebut sudah dimulai. Namun, itu dilakukan secara bertahap dan belum menyentuh bagian dalam dermaga. PT Pelabuhan Indonesia III ( Pelindo ) menyatakan bahwa tahun ini masih disosialisasikan . Hal tersebut memperlama rencana untuk mempecantik dermaga peninggalan Belanda itu.

Humas Pelindo Tanjung Perak Edi Priyanto menerangkan, pada tahun ini penataan kembali berjalan. “Setelah rampung penataan sisi selatan, tahun ini targetnya sosialisasi pada bagian dalam dermaga itu,”terang Edi. Untuk lahan – lahan yang masih bertuan dan disewa, Pelindo akan menawarkan investasi bersama. “Investasi tersebut bisa berupa pembangunan beberapa fasilitas pendukung wisata seperti hotel dan lainnya agar tak terlihat semrawut seperti sekarang,” kata Edi.

Masalah yang sekarang muncul adalah pembebasan area di sekitar Kalimas.Yang menjadi kendala adalah masalah sosial terkait pemukiman liar di sepanjang area Kalimas serta kapal – kapal yang bersandar. Kapal besi yang masih berada di area Dermaga  Kalimas nanti digeser keluar. “ Di sana nanti hanya boleh kapal kayu pelra dan kapal wisata. Kapal besi akan kami pindahkan ke Dermaga Nilam dan Berlian. Sedangkan, untuk masalah pemukiman, Pelindo akan berkoordinasi dengan pemkot seperti rencana sebelumnya:.

Ketua DPC Pelra Tanjung Perak M.Yusup sebenarnya menyambut baik rencana tersebut. Namun, dia ingin kebijakan benar-benar sesuai fungsinya. Sebab, selama ini menurut dia, Di Dermaga Kalimas masih banyak penyelewengan fungsi  tang mengakibatkan kesemrawutan.

Kepala Otoritas Pelabuhan Tanjung Perak Nyoman Gede Saputra menyebutkan, penambahan fungsi tersebut memang ada. Namun, kata dia, penambahan untuk wisata tersebut bertujuan untuk revitalisasi Dermaga Kalimas agar terlihat rapi.

“Karena tempat tersebut peninggalan Belanda dan cikal bakal Pelabuhan Tanjung Perak, memang perlu direvitalisasi,”tegas Nyoman

 

 

Sumber             : Jawa Pos

Hari/tanggal       : Rabu, 16 Januari 2013

Read more