Tuesday, 05 February 2013

Perusahaan operator pelabuhan Pelindo III berencana mengeluarkan capital expenditure sebesar Rp 6,1 triliun tahun ini. Jumlah itu empat kali lebih besar dibandingkan investasi pada 2012 yang belum teraudit, yakni Rp 1,5 triliun.

Kepala Humas Pelindo III Edi Priyanto mengatakan, investasi tersebut dibenamkan pada tiga aspek. Yakni, proyek pembangunan, peralatan, dan infrastuktur lainnya. Sebanyak Rp 2,5 triliun akan digunakan untuk proyek pembangunan. Misalnya, proyek terminal multipurpose Teluk Lamong yang masih butuh duit sekitar Rp 2,1 triliun.

Selain itu, ada Rp 1,8 triliun untuk membeli fasilitas dan perlengkapan. Misalnya pengadaan satu unit container crane di dermaga Nilam Timur dan lima unit rubber tyred gantry (RTG) diterminal petikemas Semarang.”Pengadaan peralatan baru tersebut dilakukan untuk mendukung perubahan konsep kami dibeberapa Pelabuhan. Terutama, Tanjung Perak yang akan dijadikan dedicated port,” terangnya.

Dengan investasi itu, Pelindo III menargetkan peningkatan arus kapal menjadi 76 ribu unit dengan total berat 272 juta gross tonnage. Target tidak berbeda jauh dari realisasi 2012, yakni 74 ribu kunjungan kapal dengan total berat 262 juta. “Memang tak banyak karena proyek yang sedang kami kerjakan belum biasa terealisasi tahun ini. Kami berharap, arus barang bisa mencapai 91 juta ton dan petikemas bisa mencapai 3,3 juta box,” ucapnya.

Pelindo sedang berpikir untuk memperoleh pinjaman dari bank. Sebab, dana internal mereka dikhawatirkan belum cukup. “sebenarnya, kami punya wacana untuk menurunkan dividen agar dana investasi bisa murni dari internal. Hanya, pemegang saham tidak setuju. Jadi, pilihan alternative adalah meminjam dari bank,”tuturnya.

Kini Pelindo berusaha mendapatkan pemberi pinjaman dengan tawaran paling baik. “Ya, kami sudah berpengalaman untuk mendapatkan pinjaman bank. Tahun lalu, misalnya, kami sudah mendapatkan pinjaman dari ANZ untuk proyek terminal Teluk Lamong,” ujarnya.

 

SUMBER   : JAWA POS

TANGGAL : SELASA, 5 FEBRUARI 2013

Read more
Tuesday, 05 February 2013

Sejumlah pelaku usaha dan Badan Usaha Pelabuhan (BUP) yang memiliki keterkaitan dengan revitalisasi Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) mulai was-was. Kekhawatiran ini terkait ancaman molornya pelaksanaan proyek ini akibat belum jelasnya pemindahan pipa gas milik PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) yang dijadwalkan Maret 2013.

Jika proyek APBS ini molor, yang dikhawatirkan pelaku usaha adalah olah gerak kapal dan muatan kapal menjadi terbatas. Dampaknya adalah cost (biaya) pengiriman logistik membengkak. Ujung-ujungnya pelku usaha di Pelabuhan Tanjujng Perak yang dirugikan.

Karena itu, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III selaku Badan Usaha Pelanuhan (BUP), memiliki kepentingan terhadap pelaku pasar dan perekonomian di Jawa Timur.

“Kami sangat berkepentingan dengan revitalisasi APBS, karena memiliki keterkaitan dengan perekonomian Jatim, khususnya masalah distribusi logistik,” kata kepala Humas PT Pelindo III, Edi Priyanto, kemarin (4/2).

Seperti sering diberitakan bila kedalaman alur hanya -9,5 meter low water spring )LWS). Kedalaman itu tidak memungkinkan untuk mendatangkan kapal besar dengan muatan besar. Otomotis proses pengiriman harus dilakukan dua kali, dan menyebabkan pembengkakan biaya.

Sejauh ini APBS masih terganggu dengan keberadaan pipa gas milik PHE WME yang melintang dibawahnya. “Kita butuh memperdalam alur, guna memudahkan distribusi logistik. Permasalahannya, kami belum pernah mendengar persiapan untuk memindahkan pipa yang dilakukan PHE WME,” lanjut Edi.

Ketua Asosiasi Logistik dan forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, Henky Pratoko mengatakan efek domino yang ditimbulkan cukup besar. “Jumlah kapal yang singgah tetap kecil, tetapi akan lebih banyak. Dampaknya antrean kapal makin panjang akibat dari belum tuntasnya aktifitas bongkar muat,” urainya.

Dia menegaskan diskusi bersama Pemerintah Provinsi JawaTimur 28 November lalu akan sia-sia. Pada diskusi tersebut membahas pentingnya pemindahan pipa guna mendukung  revitalisasi APBS.

“Terminal Multi Purpose Teluk Lamong akan berarti bila didukung dengan revitalisasi APBS,” tutupnya.

November 2012 lalu, PHE WME menjanjikan pemindahan pipa dilakukan Maret 2013. Field Manager PHE WME, Seth Ambat mengungkapkan perusahaannya telah membeli pipa pengganti. Sayangnya, pantauan dilapangan sejauh ini belum ada tanda-tanda rencana pemindahan pipa.

Pemasangan pipa itu tertuang dalam Production Sharing Contract  (PSC) antara BP Migas (sekarang PHE WME) dengan PT Kodeco, tertanam di Kilometer Point 35-36 dan 44-46. Pemasangan pipa itu dianggap mengganggu keselamatan pelayaran. Safety of Life at Sea (SOLAS).

 

SUMBER    : RADAR SURABAYA

TANGGAL : SELASA, 5 FEBRUARI 2013

 

 

Read more
Tuesday, 05 February 2013

PT Pelabuhan Indonesia II mempercepat pembangunan tahap pertama dermaga khusus layanan sandar kapal dan bongkar muat mobil sepanjang 304 m di Pelabuhan Tanjung Priok.

Direktur Utama PT Indonesia  Kendaraan Terminal (IKT), anak usaha PT Pelabuhan Indonesia II atau IPC, Armen Amir mengatakan pembangunan fisik dermaga ditargetkan selesai pada April 2013.

Nantinya, panjang Dermaga khusus layanan sandar kapal dan bongkar muat kendaraan, alat berat dan suku cadang itu bertambah menjadi 612 m.

Setelah dermaga tahap pertama beroperasi, dia melanjutkan pihaknya akan membangun dermaga tahap kedua sepanjang 148 m dengan kedalaman -12 m  loest water standard (LWS).

“Diharapkan semua kegiatan pengembangan dermaga itu bisa diselesaikan hingga akhir tahun ini. Selain itu, kami juga akan memperluas area lapangan penumpukan,” ujarnya kepada bisnis. Senin (3/2)

Armen melanjutkan pihaknya juga akan menambah lahan penumpukan seluas 12,5 ha yang ditargetkan bisa disiapkan hingga akhir 2013.

Saat ini, tuturnya, lapangan penumpukan yang eksisting diterminal itu seluas 9,2 ha ditambah gedung parkir lima lantai seluas 5 ha dan  temporary landing seluas 1,8 ha.

Selain menambah infrastruktur, Armen menyatakan pihaknya juga menambah fasilitas alat keselamatan dengan membangun jaringan penangkal debu diperbatasan lahan Dok Kodja Bahari dan       PT Bogasari.

Untuk operasional unit usaha terminal IKT, Armen menegaskan kini sudah diinvestasikan empat unit head truck dan empat unit chasis. “Seluruh investasi itu disiapkan dari IPC dan internal kami,”paparnya.

Pada 2013, dia menambahkan pihaknya menyiapkan investasi mencapai Rp221,5 m dengan peruntukan pembangunan fasilitas Rp202,6 miliar, peralatan Rp8,4 miliar dan instalasi Rp10,5 miliar.

Armen memaparkan arus bongkar muat melalui terminal mobil setiap tahun terus meningkat didorong pertumbuhan signifikan atas ekspor dan impor mobil.

Pertumbuhan itu, kata dia, juga dipacu minat beberapa car automaker menjadikan Indonesia sebagai basis produksi bagi pasar regional.

 

SUMBER   : BISNIS INDONESIA

TANGGAL : SELASA, 5 FEBRUARI 2013

Read more
Saturday, 02 February 2013

Peningkatan produksi yang dibukukan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III sepanjang 2012 didominasi oleh petikemas dan kunjungan kapal. Peningkatan yang paling tinggi adalah distribusi petikemas yang mengalami pertumbuhan sebesar 9 persen dibanding tahun sebelumnya. Pada 2012 tercatat 3.925.930 TEU’s atau sebanyak 3.247.972 boks.

Kepala Humas PT. Pelindo III, Edi Priyanto, mengungkapkan tren petikemas sepanjang tahun 2012 telah menggeser pengiriman dengan system kargo. “Dipilihnya petikemas untuk pengiriman ini Karena jauh lebih praktis dan isinya lebih banyak sehingga banyak pelaku usaha yang memilih kemasan container,”kata Edi, kemarin (1/2).

Ia mengungkapkan, penyuplai petikemas tertinggi adalah Pelabuhan Tanjung Perak, yang member kontribusi 2.852.705 TEU’s (2.390.122 box), meningkat 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Disusul Tanjung Emas (termasuk TPK Semarang) sebesar 456.993 TEU’s atau meningkat 7 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan dalam satuan box tercapai 286.366 box atau naik 8 persen.

Terminal petikemas Banjarmasin tercapai 419.335 TEU’s naik 15 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan satuan box tercapai 484.323 box atau 14 persen dari tahun lalu. Tingginya peningkatan di Pelabuhan Banjarmasin disebabkan dari penerapan window system dan pemeliharaan alur yang dikelola PT Ambang Barito Persada.

Edi menambahkan, sejumlah pelabuhan lain juga memberi dukungan selain ketiga pelabuhan tersebut. Seperti Pelabuhan Kotabaru (Batulicin), Sampit, Kumai, Tenau Kupang, Lembar, dan Maumere disebabkan perubahan kontainerisasi. Sementara peningkatan arus petikemas tersebar terjadi di Pelabuhan Kotabaru (Batulicin) yang mencapai 104 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara arus kunjungan kapal juga mengalami peningkatan. Secara Total tahun ini tercatat 74.889 unit kapal, dengan total gross tonnage (GT) mencapai 262.660.080. Angka tersebut naik sekitar satu persen dibanding tahun sebelumnya untuk kunjungan kapal.

Pelabuhan Celukan Bawang mencatat kunjungan kapal tertinggi yang mencapai 51 persen dibanding tahun sebelumnya. Disusul Kumai yang mencapai 24 persen, dan Maumere yang mengalami kenaikan 10 persen.

 

SUMBER   : RADAR SURABAYA

TANGGAL : SABTU, 2 FEBRUARI 2013

 

Read more
Wednesday, 06 February 2013

PT Adhi Karya Tbk berhasil meraih kontrak untuk membangun dua pelabuhan laut di Teluk Lamong dan Halmahera dengan total Rp757 miliar.

Untuk proyek Pelabuhan Teluk Lamong perseroan menggarap dua paket, dimana satu paket sudah selesai. Paket yang baru didapat pada akhir tahun lalu ialah sambungan dari paket A senilai Rp237 miliar. Sementara paket yang sudah selesai dikerjakan ialah Paket A dengan nilai kontrak sebesar Rp401 miliar.

Corporate Secretary Adhi Karya Amrozi Hamidi mengungkap perseroan yakin dapat menyelesaikan seksi yang baru didapat pada akhir tahun itu selesai lebih cepat.

“Untuk Teluk Lamong perseroan dapat satu seksi lagi pada bulan Desember 2012. Progres pengerjaan sendiri sudah 36%,”ujarnya kepada bisnis selasa (5/2).

PROYEK Pelabuhan Teluk Lamong merupakan proyek milik BUMN PT Pelindo III. Selain Adhi Karya beberapa BUMN Karya yang juga ikut menggarap proyek itu seperti PT Nindya Karya, PT Wijaya Karya Tbk, dan PT PP.

Adapun progress secara keseluruhan untuk Teluk Lamong sudah mencapai 54%. Proyek itu diharapkan akan rampung pada 2014. Nilai investasi Pelindo III untuk pembangunan Pelabuhan itu mencapai Rp3,4 triliun.

Sementara pengerjaan Pelabuhan Halmahera, Maluku merupakan proyek milik PT Aneka Tambang Tbk dengan nilai proyek mencapai Rp129 miliar. Hingga sejauh ini pengerjaan pelabuhan diwilayah Kepulauan Tidore itu memasuki tahap pemancangan tiang ditengah laut.

Selain menggarap pelabuhan, perseroan juga tengah menggarap proyek migas milik PT Pertamina di daerah cilacap. Proyek residual fluid catalytic cracking (RFCC) itu digarap bersama perusahaan Korea Selatan, Goldstar Engineering Construction Corp dengan nilai kontrak sebesar U$$846 juta dolar.

Sementara itu, PT Hutama Karya berhasil mendapatkan kontrak proyek senilai Rp 1,5 triliun per Januari atau pencapaiannya sudah mencapai 15% terhadap target sepanjang tahun ini.

BUMN tersebut menargetkan dapat meraup kontrak senilai Rp9,6 triliun atau naik 13% dibandingkan dengan target tahun lalu Rp8,5 triliun. Dengan realisasi pada Januari, sisa nilai proyek yang harus dicapai perusahaan senilai Rp8,1 triliun.

Sekretaris Perusahaan Hutama Karya Ari Widiantoro mengatakan nilai proyek konstruksi yang harus diperoleh pada tahun ini adalah senilai Rp40 triliun untuk mengejar target yang ditetapkan perusahaan.

“Kami mendapatkan proyek pembangunan terminal, pabrik semen, transportasi, dan juga infrastruktur dengan nilai total Rp1,5 triliun,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (5/2).

 

SUMBER   : BISNIS INDONESIA

TANGGAL : RABU, 6 JANUARI 2013

 

Read more
Wednesday, 30 January 2013

SURABAYA – Program kerja tahun 2013 ini PT Pelabuhan Indonesia (Pelabuhan Indonesia) III mengalokasikan anggaran Rp 491 miliar. Dana tersebut untuk pengadaan barang guna meningkatkan  kapasitas produksi bongkar muat.

                Kepala Humas PT Pelindo III Edi Priyanto, mengungkapkan dari total anggaran tersebut difokuskan untuk pembelian tujuh unit container Crane, 11 Rubber Tyred Gentry, 1 unit Restracker, dan 10 Combined Terminal Tractor.

                “Dari total 29 peralatan itu untuk tiga kota, Surabaya, Semarang, Banjarmasin, Edi kepada Radar Surabaya, kemarin (29/1).

                Dia menambahkan, masing-masing besaran peralatan tersebut belum bisa dijelaskan. Masalahnya seluruh peralatan akan dibeli melalui lelang secara serentak.

                Ia mengatakan, untuk Pelabuhan Tanjuk Perak memiliki dua program yang harus dikerjakan pada tahun 2013 ini. Program pertama adalah modernisasi dan peningkatan kapasitas produksi.

                “Untuk modernisasi di Terminal Nilam akan dibangun instalasi pipa dan tangki timbun untuk bongkar muat CPO. Pembangunan ini guna mempercepat produksi (bongkar muat) di terminal ini,” urainya. Edi menambahkan, dengan menggunakan pipa, diharapkan proses bongkar muat curah cair lebih cepat.

                Penempatan di Terminal Nilam ini menuju spesialisasi masing-masing terminal di Tanjung Perak. Sedangkan untuk Terminal Nilam kedepan akan dijadikan terminal untuk curah kering, curah cair, dan petikemas.

                Dari total 29 peralatan yang diinvestasikan PT Pelindo III, Terminal Nilam mendapat satu Container Crane (CC). Selain itu, Terminal Nilam juga mendapat suntikan satu unit kapal pandu. Sementara untuk enam CC lainnya terbagi dalam empat unit untuk Banjarmasin dan dua unit lainnya untuk Terminal Petikemas Semarang (TPKS).

                Sebelas Rubber Tyred Gantry (RTG) yang diinvestasikan, enam didistribusikan untuk Banjarmasin dan sisanya untuk TPKS. Demikian juga untuk restracker dan 10 Combined Terminal Tractor (CTT) didistribusikan untuk TPSK.

                Sementara untuk program modernisasi di Terminal Tanjung Perak di antaranya modernisasi terminal penumpang. “Tahun ini program dijalankan untuk modernisasi adalah merevitalisasi terminal penumpang. Dan diharapkan akhir tahun sudah selesai,” jelasnya.

                PT Pelindo III menyebutkan, bila tahun ini masih ada program multiyears. Seperti penyelesaian pembangunan Harbor Mobile Crane (HMC) dan pemasangan rubber vender di Terminal Teluk Lamong. Multiyears merupakan program yang tidak selesai pengerjaannya dalam satu tahun. (rif/hen)

Sumber              : RADAR SURABAYA

Hari, Tanggal      : RABU, 30 JANUARI 2013

 

 

 

 

 

 

Read more