Monday, 08 April 2013

              Pada tanggal 08 April 2013 PT Pelindo Marine Service meresmikan gedung baru Grha Marine . Grha marine berlokasi di Jalan Prapat Kurung Utara No. 58 Surabaya, hal ini merupakan upaya PT PMS mengembangkan sarana dan fasilitas yang telah ada selama ini.

            Grha Merine ini belokasi cukup strategis karena berada di tengah – tengah lokasi bisnis jasa kepelabuhanan (terminal penumpukan, terminal curah cair dan kering).

           Grha Marine yang berlokasi di Prapat Kurung Utara ini memiliki 2 (dua) lantai dengan luas masing – masing lantai yaitu lantai 1 (satu) 62 m2  dan lantai 2 (dua) 546 m2.  Lanatai 2 (dua) merupakan fungsi utama dai kegiatan bisnis PT PMS karena di desain dengan fungsi sebagai Multifunction /Hall Room, VIP Room, Lobby dan Pantry, sedangkan lanatai 1 (satu) disain untuk lobby dan recepsionis.Kapasitasnya juga cukup besar  dapat menampung 200 (dua ratus) orang.

          Dalam acara peresmian ini dihadiri oleh Dekom dan Setkom PT PMS, Pejabat – Pejabat Kantor Pusat   PT Pelabuhan Indonesia III (Persero), Instansi Pemerintah dan Pimpinan Proyek pembangunan Grha Marine. 

         PT PMS juga telah memiliki website untuk lebih memperkenalkan bisnis PT PMS melalui media on line. Website PT PMS bisa diakses melalui www.pelindomarine.com.  Banyak informasi yang dapat diperoleh melalui website PT PMS antara lain tentang Perusahaan (PT PMS), Fasilitas serta kegiatan bisnis,Bursa Kapal,  Wisata bahari dan berita – berita yang terkait dengan kepelabuhanan.

         Acara dibuka dengan sambutan Direksi dan Komisaris Utama PT PMS, dilanjutkan dengan pengguntingan pita serta peninjauan ruang.

          Peresmian Grha Marine dan Lounching Website ini diharapkan mampu menjadi Kebangkitan dan Kiprah PT PMS untuk lebih maju dalam bisnis jasa perkapalan baik secara nasional maupun internasional.

Read more
Tuesday, 05 March 2013

Belum ada kesungguhan dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk membangun rel kereta api di Terminal Multipurpose Teluk Lamong melegakan PT Pelabuhan Indonesia III. Sejauh ini konsep pembangunan Terminal Multipurpose Teluk Lamong sudah berjalan dengan masterplan.

            Pimpinan Proyek Teluk Lamong Harry Dharmawan menegaskan tidak akan mengubah desain pelabuhan prestisius itu. Apalagi sejauh ini PT Kereta Api Indonesia (KAI) juga belum kunjung memberikan kepastian pembangunan rel kereta api.

            “Untuk mengubah desain pelabuhan, membutuhkan biaya besar dan waktu yang panjang. Sementara pengerjaan proyek ini sudah berjalan, dan di antaranya sudah selesai,” kata Harry Dharmawan, kemarin. Dia mengakui wacana dari KAI untuk membangun rel kereta sudah pernah dibahas tahun lalu.

            Wacana tersebut direspons positif oleh Pelindo III selaku operator pelabuhan. Bahkan Pelindo III berencana membawa konsep tersebut untuk dibahas dengan melibatkan pemerintah. Hal ini untuk melihat secara detail keseriusan KAI membangun rel di Teluk Lamong. Kebetulan KAI tengah mengembangkan bisnis angkutan barang.

            Harry Dharmawan menyebut pembangunan rel kereta api di Teluk Lamong sangat membantu, mengurai kepadatan lalu lintas. Berdasarkan prediksi Pelindo III, truk yang lalu lalng d Teluk Lamong mencapai 1.500 perhari.

            “Bisa dibayangkan seperti apa nantinya kondisi lalu lintas di Kalianak, Margomulyo, Osowilangun, dan sekitarnya. Keberadaan Kereta Api di Teluk Lamong akan sangat membantu untuk menekan kepadatan lalu lintas,” ungkapnya.

            Sebetulnya Pelindo III sudah menyiapkan antisipasi dengan mengusulkan pembangunan Simpang Susun. Tetapi usulan tersebut sejauh ini belum ada respons dari Kementrian Pekerjaan Umum.

 

Sumber : Radar Surabaya

Read more
Tuesday, 05 March 2013
Manajer SDM dan Umum Pelindo IV Balikpapan Teguh Haryono mengatakan pihaknya perlu mencari strategis bisnis baru pasca beralihnya aktivitas bongkar muat koontainer ke Terminal Peti Kemas (TPK) Kariangau. Fungsi pelabuhan sebagai terminal penumpang akan tetap berlangsung dengan perbaikan pada fasilitas yang perlu direnovasi. “Tahun ini kami rencanakan untuk renovasi dan mempercantik terminal penumpang agar penumpang betah di dalamnya,” ujarnya. Teguh mengakui aktivitas pelabuhan tertinggi didominasi oleh kapal ro-ro yang sepanjang tahun lalu mencapai 599 panggilan atau 43% dari total panggilan. Hal ini disebakan oleh tingginya arus distribusi barang dari luar daerah ke Balikpapan. Adapun untuk kapal penumpang, pihaknya mencatat hanya mendapatkan 230 panggilan sepanjang tahun lalu atau sekitar 17% dari total panggilan. Peningkatan arus penumpang biasanya terjadi hanya pada saat mudik atau tahun baru karena harga tiket pesawat udara yang hamper menyentuh batas atas. Teguh menuturkan Pelindo IV Balikpapan tengah mengembangkan bisnis supply base dengan memanfaatkan lapangan kontainer Semayang yang tidak lagi banyak diisi oleh peti kemas. Masih prospektifnya bisnis pengeboran minyak di lepas pantai Selat Makasar menjadi salah satu alasan pengembangan nisnis Pelabuhan Semayang ke supply base. “Sudah ada yang menjajaki peluang untuk kerja sama. Kami harapkan ini terealisasi dan bisa menarik pelaku bisnis lain untuk bekerja sama,” tukasnya. Adapun untuk car terminal Pelindo Balikpapan akan memanfaatkan lapangan Tukung seluas 6.300 meter persegi guna menampung kendaraan sehingga tidak lagi menggunakan area jalan. Rencananya, Pelindo juga akan melakukan reklamasi untuk menambah luasan areal. Teguh mengaku telah mengomunikasikan usulan ini kepada Pemkot Balikpapan dan telah memperoleh persetujuan,”Jadi, Pelabuhan Semayang akan lebih rapi karena kapal dengan muatan yang macam-macam dilokasikan di Lapangan Tukung.” Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Balikpapan Suryanto menambahkan pemerintah mendukung pengembangan Pelabuhan Semayang menjadi supply base karena sifatnya yang hanya berhubungan dari laut ke laut. Namun, untuk bisnis car terminal,pihaknya masih keberatan karena akan memengaruhi kondisi lalu lintas di dalam kota. “Kalau bisa yang semacam itu di TPK Kariangau saja. Kami juga masih menunggu pengembangan di sana karena baru 10 ha yang dikembangkan dari luas total 72,5 ha,” tambahnya. KUALA TANJUNG Dalam perkembangan lain, pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung di Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara, sudah memasuki tahap penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), sehingga pembangunan fisiknya dapat dimulai pada 2014. Asisten Corporate Secretary Humas Pelindo I Medan Eriansyah mengaku tahapan pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung Baru memasuki penyusunan amdal, sedangkan studi kelayakan dan detail engineering design (DED) sudah selesai. “ Kini tahapan pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung sudah memasuki penyusunan amdal. Diharapkan pembangunan fisik sudah bisa dimulai pada tanggal 2014,” ujarnya di Medan. Tahun lalu, Pelindo I Medan menjalin kerja sama dengan PT Pembangunan Perumahan (PP) dan PT Hutama Karaya untuk membangun Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai hun port dengan inventasi sedikitnya Rp 4 triliun. Menurut Eriansyah, sesuai jadwal yang ditetapkan, memang kemajuan pembangunan Kuala Tanjung masih pada tahap yang wajar mengingat perizinan yang harus dipenuhi sebanyak 11 jenis. Sumber : Bisnis Indonesia
Read more
Wednesday, 13 March 2013
JAKARTA- Indonesian National Shipowners’ Association menilai angkutan laut domestik belum saatnya menggunakan kapal berukuran besar seperti yang diusulkan dalam konsep Pendulum Nusantara. Wakil Keyua DPP Indonesia National Shipowners’ Association (INSA) Asmary Herry mengatakan kedalaman kolam pelabuhan di Indonesia rata-rata di bawah 12 m sehingga penggunaan kapal ukuran 3.000 twentty-foot equivalent units (TEUs) tidak proporsional. “Untuk kapal berkapasitas 3.000 TEUs draft kolam pelabuhan harus 12 meter-14 meter,” katanya. Sampai saaat ini, menurutnya, hanya Terminal Peti Kemas (TPK) Koja di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta yang Memiliki kedalaman kolam hingga di atas 12 m. Untuk terminal peti kemas domestik di pelabuhan lain seperti Belawan Medan hanya memiliki kedalaman kolam 9,5 m, dan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya hanya 8 m. Menurutnya, konsep Pendulum Nusantara yang diusung PT Pelabuhan Idonesia (Pelindo) II belum tepat saat ini . Konsep itu secara tegas mengatur penggunaan kapal berkapasitas 3.000 TEUs guna melayani angkutan laut domestik di rute Belawan – Tanjung –Priok- Tanjung Perak- Makassar- Sorong. Dia menilai pelabuhan tujuan itu belum seluruhnya bisa menampung bersandarnya kapal berkapasitas 3.000 TEUs. “Pertanyaannya, kapan pelabuhan bisa memiliki kedalaman draft kolam hingga 12 meter. Kalau bisa, kapal akan menyesuaikan,” tuturnya. Asmary mencontohkan jalur tersibuk untuk angkutan laut domestik yakni rute Jakarta-Belawan dan Surabaya- Makassar dengan menggunakan kapal kapasitas di bawah 2.000 TEUs. Dia menilai rute itu memiliki masalah yakni muatan yang masih tidak berimbang, kedalaman alur pelayaran tidak sama, serta fasilitas pelabuhan yang terbatas. Saat ini, rata-rata arus kontainer Jakarta-Belawan dan Surabaya-Makassar baru mencapai 3.000 TEUs per minggu sehingga cukup diangkut menggunakan kapal berkapasitas 1.700 TEUs sedangkan dari arah sebaliknya cenderung kosong. Sejauh ini, di dua rute domestik itu sudah dilayari kapal berukuran di bawah 2.000 TEUs dengan rata-rata tarif angkut Rp5 juta per TEUs Rp6 Juta per TEUs. “Tetapi perlu dicatat, 69% dari freight (Biaya Angkut) itu dibayar untuk tarif-tarif kepelabuhan,”ujarnya. FOKUS PELABUHAN Ketua Umum DPP INSA Carmelia Hartoto menyatakan operator pelabuhan di Indonesia seharusnya fokus memperbaiki layanan di pelabuhan, terutama pelabuhan konvensional dan general cargo yang menjadi sumber inefisiensi logistik di sektor angkutan laut. Dia juga mendesak perlunya moratorium tarif di seluruh pelabuhan di Indonesia. “Sekarang belum waktunya. Hampir semua pelabuhan menaikkan tarif sehingga biaya logistik bukan malah turun , tetapi meningkat.” Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II Richard Joost Lino sebelumnya menyatakan konsep Pendulum Nusantara bisa mewujudkan sistem distribusi barang yang efiensi dan terintegrasi sehingga bisa menurunkan biaya logistik nasional hingga 50%. “Sistem Pendulum Nusantara nantinya mengakomodasi kpal dengan kapasitas minimum 3.000 TEUs, ukuran yang dinilai efisien untuk menurunkan harga logistik,’ katanya. Dia menyatakan pengiriman barang dari Jakarta ke Belawan menggunakan sistem individual penggunaan jasa akan dikenakan biaya sebesar RP ^ juta per TEUs. Dengan konsep Pendulum Nsantara, ungkapnya, biaya itu bisa ditekan menjadi Rp 3 juta per TEUs. SUMBER : BISNIS INDONESIA
Read more
Tuesday, 05 March 2013

Potensi empat pelabuhan di bawah naungan PT Pelabuhan Indonesia III akan diperkenalkan dalam Miami Cruise Shipping, 11-14 Maret. Agenda ini merupakan pameran pariwisata yang meliputi semua aspek kepariwisataan.

            Empat pelabuhan  yang akan dikenalkan Pelindo III adalah Tanjung Bona (Bali), Lembar ( Nusa Tenggara Barat), Tanjung Emas (Semarang), dan Kumai (Kalimantan Tengah). Ke empat daerah tersebut selain memiliki pelabuhan yang memadai, potensi wisatanya juga menjanjikan.

            Kepada Radar Surabaya, Kemarin , Kepala Humas Pelindo III Edi Priyanto, mengungkapkan bila ajang ini berkaitan dengan wisata kapal pesiar. Dimana pameran sekaligus diskusi ini melibatkan banyak pihak. Mulai dari unsure pemerintahan, operator pelabuhan, maskapai pelayaran, dan travel agent.

            “Ini adalah kesempatan kita untuk mempromosikan potensi wisata yang sudah didukung pelabuhan yang memadai. Kebetulan, empat daerah yang akan kita kenalkan memiliki keseimbangan yang memadai,” kata dia.

            Edi mencontohkan Tanjung Benoa dan Tanjung Emas memiliki potensi wisata yang cukup besar. Bahkan dua daerah tersebut memiliki kunjungan wisata (cruise) cukup tinggi di wilayah Pelindo III. Tanjung Benoa yang berada di Bali, potensi wisatanya tertinggi di Indonesia. Cukup banyak objek wisata yang bisa menjadi daya tarik wisata asing.

            Demikian juga dengan Semarang, yang banyak menerima kunjungan wisatawan asing. “Mereka (wisatawan asing) memilih ke Semarang hanya untuk ke Borobudur dan Prambananan. Juga mengunjungi  Solo kota tua di Semarang. Termasuk museum kereta api di Ambarawa,” ulasnya.

            Bagaimana dengan Surabaya? Edi mengakui potensi wisata dan kondisi pelabuhan masih timpang. Apa lagi Tanjung Perak berencana merevitalisasi pelabuhan, sebagai modern port tahun ini. Tetapi potensi wisata yang ada di Suranbaya, kurang menunnjang.

            Seperti tahun lalu, cruise yang membawa wisatawan asing ke Surabaya memilih ke Mojokerto. Tetapi mereka di hadapkan problem infrastruktur transportasi darat dari Surabay menuju Mojokerto.

            Edi mengakui keikutsertaan Pelindo dalam Miami Cruise Shipping ini untuk memperkenalkan pelabuhan dan potensi wisatanya. “Otomatis empat pelabuhan yang kita kenalkan sudah memiliki added value baik dari sisi pelabuhan lain,” tutupnya.

            Keikutsertaan Miami Cruise Shipping ini, pemerintah Indonesia berkesempatan mengirim 37 delegasi. 37 delegasi ini meliputi pemerintahan, operator pelabuhan, maskapai pelayaran, dan tour agent. Demikian juga unsure BUMN, seperti Pelindo IIV dan Pertamina.

Sumber : Radar Surabaya

Read more
Tuesday, 02 April 2013

Kapal sebagai transpotasi laut harus dipeliharaan dalam waktu tertentu. Ada tim khusus yang bertugas dalam bidang pemeliharaan itu. Yakni, mereka yang berada di PT Pelindo Marine Service (PMS) Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

            SIANG, itu sembilan orang berada di area Grafing dock PT PMS. Dengan wajah serius, mereka menghadap ke kolam yang memiliki panjang 45 meter, lebar 15 meter, dan dalam 5 meter. Bentuknya letter U menghadap ke laut. Pandangan mereka tertuju pada kapal yang perlahan mulai masuk ke area tersebut.

            Sekitar 15 menit, kapal yang dimaksud itu sudah berada di dalam kolam grafing dock. Selanjutnya, pintu di ujung grafing dock menutup perlahan. Setelah rapat, area kolam dikosongkan dengan memompa air ke laut.

            Bersamaan itu, dengan menggunakan peralatan selam, Sampuri, 48, menceburkan diri kekolam tersebut. Dia menyelam untuk memastikan bagian bawah kapal sesuai dengan tempat yang sudah disiapkan. Tidak lama, Sampuri muncul ke permukaan lagi. Dia mengabarkan bahwa posisi kapal terlalu serong sehingga tidak tepat pada bantaran yang ada didasar kolam.

            “Geser ke kanan sedikit, “perintahnya kepada rekan-rekan yang ada ditepi kolam itu. Setelah diperkirakan tepat, Sampuri pun kembali menyelam untuk memastikan sudah tepat atau belum. Tidak lama, pria kelahiran Malang itu muncul lagi.”Posisi tepat. Mulai pasang pasak sisi kapal,” perintahnya lagi.

            Pasak yang dimaksud tersebut sejenis kayu yang membujur antara dinding kolam dan lambung kapal. Tujuannya menahan agar kapal tidak bergerak kekiri atau kanan. Setelah terpasang semua, Sampuri keluar dari area kolam dan bergabung dengan rekan-rekannya. Mereka lalu menunggu pemompaan air yang berlangsung hingga enam jam kedepan.

            “ Harus bbersabar,” ungkap Sampuri sambil melepas peralatan selamnya. Tanpa kesabaran bisa berakibatkan fatal. Dia mencontohkan, mamastikan kapal tepat di dalam bantaran dasar kolam tidaklah mudah. Sering kali bapak dua anak itu harus menyelam lebih dua kali ke dasar kolam. “Begitu seterusnya sampai kapal tepat di bantaran, “jelasnya

            Itu saja belum cukup. Sebelum pasak kiri kanan kapal terpasang sempurna, dia tidak bisa meninggalkan area kolam. Karena pemasangan yang tidak sempurna, kapal akan mudah bergerak, jika sudah seperti itu, harus dicek lagi. Sebab, sangat munkin bagian bawah pun bergeser dari bantaran dasar kolam.

            Semua dilakukannya dengan penuh hati-hati. Terutama ketika air mulai surut. Kapal tidak terapung lagi. Jadi, potensi roboh sangat besar. Salah pemnempatan posisi bisa tergencet.” Itu yang selalu kami takutkan ketika memasukan kapal ke grafing dock,” ujar bapak dua anak itu.

            Sambil menunggu air surut. Kapal Sampuri menjelaskan, PT PMS merupakan anak perusahaan PT Pelindo III. Perusahaan tersebut diresmikan pada Januari 2012. Jumlah karyawan seluruhnya lebih dari 30 orang. Namun, yang bertanggung jawaban di area grafing dick sembilan orang.” Satu orang koordinato, lainnya pelaksana di lapangan,” papar pria penghobi olahraga itu.

            Tiba-tiba saat berbincang dengan Jawa Pos, pompa pembuang air berhenti. Tepatnya ketika ketinggian 1.75 meter. Sampuri dan tiga rekannya kembali turun ke area kolam. Kali ini mereka tidak mengenakan peralatan selam. Alasannya, pada ketinggian itu, petugas tidak akan tenggelam.

            Sesampainya di dasar kolam, empat orang tersebut menuju lambung kapal. Mereka lalu memasang tiang di lambung kapal itu. Fungsinya, memperkuat posisi lambung agar tidak bergoyang kekiri ataupun kanan. Setelah tuntas, mereka kembali ke atas kolam. Pemompaan air laut dilanjutkan lagi.

            Menurut Sampuri, penempatan kapal kali ini tergolong mudah. Dia menceritakan, dirinya pernah harus keluar masuk air lebih dari 10 kali. Penyebabnya, kondisi kapal tidak seimbang sehingga suliit menepatkan posisi bagian bawah kapal tepat di bantaran. Area grafing dock.

            Tenaganya cukup terkuras. Namun, tetap saja tanggung jawab harus dijalankan. Penempatan di bantaran kembali dilakukan secara pelan hingga tepat bisa dikunci dengan pasak kiri kanan.

            Sampuri menyatakan, memasukkan kapal yang dilakukan kemarin siang itu tergolong mudah. Selain posisi air sedang pasang, kondisi cuaca cukup mendukung. Dia menambahakan persyaratan utama memasukkan kapal ke grafing dock adalah saat air sedang pasang. Masalahnya, waktu pasang air tidak menetu. Bisa pagi, siang atau dini hari.

            Parahnya, tidak jarang pasang air terjadi dini hari dengan diiringi hujan lebat. Saat itu penerangan hanya mengandalkan lampu. Selain itu, terjangan angin cukup mempengaruhi. Ditambah, derasnya hujan memperlambat pengosongan kolam. “jika normalnya kami membutuhkan waktu enam hjam dalam kondisi hujan bisa lebih dari itu,” ujar suami Kartini tersebut.

            Begitu air surut, pekerjaan perbaikan mulai dilakukan. Lima petugas yang dipimpin Agus Prayitno pun turun ke area kolam. Mereka mengecek bagian bawah kapal. Mulai proppeller atau baling-baling,as baling-baling hingga lambung kapal. Pemeriksaan itu dilakukan untuk memastikan kondisi terakhir bagian-bagian tersebut.

            Agus menyatakan, sebenarnya sebelum kapal masuk ke area kolam, pemilik memberikan gambaran secara umu. Mulai kondisi kapal. Kondisi mesin, hingga keseimbangan kapal.”Tapi, kami tetap harus memastikan kondisi yang sebenarnya dengan cara melihat langsung,”ucapnya.

            Setelah memastikan kondisi masing-masing bagian, mulailah dilakukan tindakan. Misalnya, jika ada bagian lambung yang mengalami korosi, dilakukan pemotongan di bagian itu. Lalu, dipesankan lambung dengan bahan serupa dan dipasang lagi ke lambung tersebut.

            Bahan tidak boleh berubah dengan sebelumnya. Sebab, setiap kapal sudah masuk. Badan Klasifikasi Indonesia (BKI). Mengubah bahan sama artinya dengan melayani aturan BKI. Jika itu terjadi, pemilik kapal bisa terkena sanksi, begitu juga tim perawat kapal.

            Selain korosi lambung, kerusakan sering terjadi pada as baling_baling. Biasanya itu disebabkan faktir umur. Untuk memperbaikinya, normalnya dibutuhkan waktu sekitar dua minggu. Namun, terkadang bisa sampai sebulan. “ Bergantung pada jenis kerusakannya,” ungkapnya.
            Bapak dua anak itu menabahkan, timnya tidak pernah bermain-main dalam memperbaiki bagian bawah kapal. Ketelitian dan penuh hati-hati menjadi kunci utama. Apalagi, pada bagian yang berdekatan dengan pasak-pasak kayu. Jangan sampai terlalu kasar hingga merobohkan pasak. “ Sekali roboh, kapal bisagoyang dan menggencet petugas hingga meninggal,”ucapnya.

            Tetapi, lanjut Agus , selama PT PMS berdiri, yakni awal 2012, belum ada peristiwa yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang. Tidak ada kecelakaan kerja. Sebab, pengamanan area grafing dock sangat ketat. Termasuk prosedur dan ketepatan yang diterapkan di area itu. “ kami junjung kedisiplinan sehingga kecelakaan bisa dihindari,” papar suami Sri Ibtiyah itu.

            Saat ini PT PMS memprioritaskan kapal-kapal milik PT Pelindo. Namun, pada posisi memungkinkan, ada kapal swasta yang juga ditampung. Sepertyi yang terjadi saat ini, di antara tiga grafing dock, hanya dua yang dipakai. Masih sisa satu grafing dock yang selanjutnya digunakan untuk kapal milik pelabuhan rakyat (pelra)

            Agus menjelaskan, pada perbaikan jenis itu, PT PMS hanya menyewakan fasilitas. Tim yang bekerja berasal dari pemilik kapal yang bekerja sama dengan pihak ketiga. “Jadi, kami tidak turut campur secara detail tenteng perawatan dan perbaikannya. Hanya proses pinjam dok saja,” jelasnya.

            Bagi Sampuri maupun Agus, pekerjaan yang dilakoninya cukup berat selain berkaitan dengan alam, jenis benda yang diperbaiki sangat besar. Butuh kesabaran, ketelatenan , dan keikhalasan dalam menjalaninya. “ tanpa itu, kami tidak akan bisa bekerja secara maksimal,” ungkap Sampuri.

 

Read more