Saturday, 02 February 2013

Peningkatan produksi yang dibukukan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III sepanjang 2012 didominasi oleh petikemas dan kunjungan kapal. Peningkatan yang paling tinggi adalah distribusi petikemas yang mengalami pertumbuhan sebesar 9 persen dibanding tahun sebelumnya. Pada 2012 tercatat 3.925.930 TEU’s atau sebanyak 3.247.972 boks.

Kepala Humas PT. Pelindo III, Edi Priyanto, mengungkapkan tren petikemas sepanjang tahun 2012 telah menggeser pengiriman dengan system kargo. “Dipilihnya petikemas untuk pengiriman ini Karena jauh lebih praktis dan isinya lebih banyak sehingga banyak pelaku usaha yang memilih kemasan container,”kata Edi, kemarin (1/2).

Ia mengungkapkan, penyuplai petikemas tertinggi adalah Pelabuhan Tanjung Perak, yang member kontribusi 2.852.705 TEU’s (2.390.122 box), meningkat 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Disusul Tanjung Emas (termasuk TPK Semarang) sebesar 456.993 TEU’s atau meningkat 7 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan dalam satuan box tercapai 286.366 box atau naik 8 persen.

Terminal petikemas Banjarmasin tercapai 419.335 TEU’s naik 15 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan satuan box tercapai 484.323 box atau 14 persen dari tahun lalu. Tingginya peningkatan di Pelabuhan Banjarmasin disebabkan dari penerapan window system dan pemeliharaan alur yang dikelola PT Ambang Barito Persada.

Edi menambahkan, sejumlah pelabuhan lain juga memberi dukungan selain ketiga pelabuhan tersebut. Seperti Pelabuhan Kotabaru (Batulicin), Sampit, Kumai, Tenau Kupang, Lembar, dan Maumere disebabkan perubahan kontainerisasi. Sementara peningkatan arus petikemas tersebar terjadi di Pelabuhan Kotabaru (Batulicin) yang mencapai 104 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara arus kunjungan kapal juga mengalami peningkatan. Secara Total tahun ini tercatat 74.889 unit kapal, dengan total gross tonnage (GT) mencapai 262.660.080. Angka tersebut naik sekitar satu persen dibanding tahun sebelumnya untuk kunjungan kapal.

Pelabuhan Celukan Bawang mencatat kunjungan kapal tertinggi yang mencapai 51 persen dibanding tahun sebelumnya. Disusul Kumai yang mencapai 24 persen, dan Maumere yang mengalami kenaikan 10 persen.

 

SUMBER   : RADAR SURABAYA

TANGGAL : SABTU, 2 FEBRUARI 2013

 

Read more
Wednesday, 06 February 2013

PT Adhi Karya Tbk berhasil meraih kontrak untuk membangun dua pelabuhan laut di Teluk Lamong dan Halmahera dengan total Rp757 miliar.

Untuk proyek Pelabuhan Teluk Lamong perseroan menggarap dua paket, dimana satu paket sudah selesai. Paket yang baru didapat pada akhir tahun lalu ialah sambungan dari paket A senilai Rp237 miliar. Sementara paket yang sudah selesai dikerjakan ialah Paket A dengan nilai kontrak sebesar Rp401 miliar.

Corporate Secretary Adhi Karya Amrozi Hamidi mengungkap perseroan yakin dapat menyelesaikan seksi yang baru didapat pada akhir tahun itu selesai lebih cepat.

“Untuk Teluk Lamong perseroan dapat satu seksi lagi pada bulan Desember 2012. Progres pengerjaan sendiri sudah 36%,”ujarnya kepada bisnis selasa (5/2).

PROYEK Pelabuhan Teluk Lamong merupakan proyek milik BUMN PT Pelindo III. Selain Adhi Karya beberapa BUMN Karya yang juga ikut menggarap proyek itu seperti PT Nindya Karya, PT Wijaya Karya Tbk, dan PT PP.

Adapun progress secara keseluruhan untuk Teluk Lamong sudah mencapai 54%. Proyek itu diharapkan akan rampung pada 2014. Nilai investasi Pelindo III untuk pembangunan Pelabuhan itu mencapai Rp3,4 triliun.

Sementara pengerjaan Pelabuhan Halmahera, Maluku merupakan proyek milik PT Aneka Tambang Tbk dengan nilai proyek mencapai Rp129 miliar. Hingga sejauh ini pengerjaan pelabuhan diwilayah Kepulauan Tidore itu memasuki tahap pemancangan tiang ditengah laut.

Selain menggarap pelabuhan, perseroan juga tengah menggarap proyek migas milik PT Pertamina di daerah cilacap. Proyek residual fluid catalytic cracking (RFCC) itu digarap bersama perusahaan Korea Selatan, Goldstar Engineering Construction Corp dengan nilai kontrak sebesar U$$846 juta dolar.

Sementara itu, PT Hutama Karya berhasil mendapatkan kontrak proyek senilai Rp 1,5 triliun per Januari atau pencapaiannya sudah mencapai 15% terhadap target sepanjang tahun ini.

BUMN tersebut menargetkan dapat meraup kontrak senilai Rp9,6 triliun atau naik 13% dibandingkan dengan target tahun lalu Rp8,5 triliun. Dengan realisasi pada Januari, sisa nilai proyek yang harus dicapai perusahaan senilai Rp8,1 triliun.

Sekretaris Perusahaan Hutama Karya Ari Widiantoro mengatakan nilai proyek konstruksi yang harus diperoleh pada tahun ini adalah senilai Rp40 triliun untuk mengejar target yang ditetapkan perusahaan.

“Kami mendapatkan proyek pembangunan terminal, pabrik semen, transportasi, dan juga infrastruktur dengan nilai total Rp1,5 triliun,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (5/2).

 

SUMBER   : BISNIS INDONESIA

TANGGAL : RABU, 6 JANUARI 2013

 

Read more
Wednesday, 30 January 2013

SURABAYA – Program kerja tahun 2013 ini PT Pelabuhan Indonesia (Pelabuhan Indonesia) III mengalokasikan anggaran Rp 491 miliar. Dana tersebut untuk pengadaan barang guna meningkatkan  kapasitas produksi bongkar muat.

                Kepala Humas PT Pelindo III Edi Priyanto, mengungkapkan dari total anggaran tersebut difokuskan untuk pembelian tujuh unit container Crane, 11 Rubber Tyred Gentry, 1 unit Restracker, dan 10 Combined Terminal Tractor.

                “Dari total 29 peralatan itu untuk tiga kota, Surabaya, Semarang, Banjarmasin, Edi kepada Radar Surabaya, kemarin (29/1).

                Dia menambahkan, masing-masing besaran peralatan tersebut belum bisa dijelaskan. Masalahnya seluruh peralatan akan dibeli melalui lelang secara serentak.

                Ia mengatakan, untuk Pelabuhan Tanjuk Perak memiliki dua program yang harus dikerjakan pada tahun 2013 ini. Program pertama adalah modernisasi dan peningkatan kapasitas produksi.

                “Untuk modernisasi di Terminal Nilam akan dibangun instalasi pipa dan tangki timbun untuk bongkar muat CPO. Pembangunan ini guna mempercepat produksi (bongkar muat) di terminal ini,” urainya. Edi menambahkan, dengan menggunakan pipa, diharapkan proses bongkar muat curah cair lebih cepat.

                Penempatan di Terminal Nilam ini menuju spesialisasi masing-masing terminal di Tanjung Perak. Sedangkan untuk Terminal Nilam kedepan akan dijadikan terminal untuk curah kering, curah cair, dan petikemas.

                Dari total 29 peralatan yang diinvestasikan PT Pelindo III, Terminal Nilam mendapat satu Container Crane (CC). Selain itu, Terminal Nilam juga mendapat suntikan satu unit kapal pandu. Sementara untuk enam CC lainnya terbagi dalam empat unit untuk Banjarmasin dan dua unit lainnya untuk Terminal Petikemas Semarang (TPKS).

                Sebelas Rubber Tyred Gantry (RTG) yang diinvestasikan, enam didistribusikan untuk Banjarmasin dan sisanya untuk TPKS. Demikian juga untuk restracker dan 10 Combined Terminal Tractor (CTT) didistribusikan untuk TPSK.

                Sementara untuk program modernisasi di Terminal Tanjung Perak di antaranya modernisasi terminal penumpang. “Tahun ini program dijalankan untuk modernisasi adalah merevitalisasi terminal penumpang. Dan diharapkan akhir tahun sudah selesai,” jelasnya.

                PT Pelindo III menyebutkan, bila tahun ini masih ada program multiyears. Seperti penyelesaian pembangunan Harbor Mobile Crane (HMC) dan pemasangan rubber vender di Terminal Teluk Lamong. Multiyears merupakan program yang tidak selesai pengerjaannya dalam satu tahun. (rif/hen)

Sumber              : RADAR SURABAYA

Hari, Tanggal      : RABU, 30 JANUARI 2013

 

 

 

 

 

 

Read more
Wednesday, 30 January 2013

Fasilitas yang ada disemua terminal PT Pelabuhan Indonesia III Cabang Tanjung Perak akan mendapat penilaian. Program tersebut untuk memacu dan berkompetisi antar terminal yang ada di Tanjung Perak.

Deputy General Manager PT Pelindo III Cabang Tanjung Perak, Bambang Hasbullah, kemarin(29/1), menginginkan penilaian ini melibatkan semua pihak.

“Tidak hanya fasilitas yang kami miliki, tetapi juga keterlibatan Perusahaan Bongkar Muat (PBM) dan maskapai pelayaran,” Kata Bambang.

Cara ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas pelayanan kepada pengguna jasa di Pelabuhan Tanjung Perak. Bambang mengakui pengguna jasa di Tanjung Perak cukup banyak dan kompleks.

“Dasar pemikirannya untuk memberi motifasi kepada operator di Tanjung Perak sekaligus peranan PBM dan maskapai pelayaran. Masih banyak fasilitas yang ada perlu perbaikan pelayanan,” urai Bambang.

Dia menunjuk peralatan crane kapal yang sudah cukup tua. Demikian juga dengan kapal yang berlayar banyak yang sudah saatnya masuk doking atau justru sudah waktunya beroperasi, tetapi masih ada. Termasuk daya masuk crane kapal yang perlu ada pembenahan dari operator pelabuhan.

Pelabuhan di Tanjung Perak yang dibawah kendali Pelindo III Cabang Tanjung Perak adala, Nilam, Jamrud (Utara, Selatan, dan Barat), dan Mirah. Sedangkan berlian sudah dibawah kontrol PT Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI).

Tidak dijelaskan sistem penilaian yang akan diterapkan PT Pelindo III Cabang Tnajung Perak. Tetapi Bambang sudah memiliki draft berdasarkan sistem ranking.

“Nantinya masing-masing operator, PBM, dan maskapai pelayaran akan kita beri ranking berdasarkan skor. Sehingga pengguna jasa akan memilih. Dari situlah akan tercipta kompetisi yang sehat,”jelas Bambang.

Program ini diakui tidak akan berjalan bila tidak ada dukungan dari semua pihak. Keterlibatan asosiasi diharapkan memberi dukungan. Sedikitnya ada enam asosiasi seperti ALFI, INSA, Ansus Organda, GPEI, Ginsi, dan APBMI.

SUMBER                              : RADAR SURABAYA

HARI, TANGGAL                               : RABU, 30 JANUARI 2013

 

Read more
Wednesday, 30 January 2013

Pengaturan kapal di dermaga Kalimas harus segera dilakukan. Sebab, dermaga yang digadang-gadang menjadi wisata budaya (heritage) itu tampak semrawut. Banyak kapal, baik kapal kayu maupun kapal besar, yang bongkar muat disana. Dampaknya, dermaga tersebut tampak tidak tertata.

                Kapal kayu dan kapal besar (warga setempat menyebutnya kapal besi) parkir tidak teratur tanpa ada area pembatas yang jelas. Dermaga itu hanya diperuntukkan bagi kapal kayu pelayaran rakyat (pelra). Faktanya, ada kapal besi yang parkir untuk perbaikan dan bongkar muat.

                Sumarto, salah seorang pemilik kapal pelra asal gresik, mengaku kecewa dengan kesemrawutan tersebut. Dia meminta PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III segera menerbitkan kapal-kapal itu. Apalagi, dermaga tersebut akan direnovasi untuk wisata heritage.

                “Kadang kami sulit masuk dan mencari tempat bersandar di dermaga. Sebab, kapal besi yang parkir seenaknya dan ukurannya lebih besar,” ungkap Sumarto. Padahal, kapal pelra membutuhkan tempat khusus untuk parkir.

                Berdasar pantauan Jawa Pos kemarin (29/1), hampir 40 persen kapal yang parkir disana adalah kapal besi. Hal tersebut otomotis menimbulkan konflik antar pemilik kapal. Truk yang sedang bongkar muat juga melintang seenaknya. Jika ada dua truk yang berpapasan, salah satunya minggir.

                Humas Pelindo III Edi Priyanto mengatakan, pihaknya siap menerbitkan kesemrawutan disana. “Kami sering memantau dermaga tersebut. Kami akan menerbitkan sekaligus melakukan sosialisasi,”ujarnya.

 

SUMBER                              : JAWA POS

HARI, TANGGAL                    : RABU, 30 JANUARI 2013

Read more
Friday, 18 January 2013

Revitalisasi alur pelayaran barat Surabaya (APBS) bakal dimulai tahun ini. Proyek multiyear itu kini masuk dalam proses lelang. Jika lelang selesai, pengerjaan fisik proyek yang digagas Kementrian Perhubungan (Kemenhub) itu bisa segera dimulai. Kepala Dishub Jatim Wahid Wahyudi menyatakan, proyek APBS dibagi dua tahap. Tahap pertama yang dimulai tahun ini akan berakhir pada 2014. Pemerintah menyediakan anggaran USD 73 juta. Dana sebesar irtu  digunakan untuk memperlebar alur efektif dari 100 meter menjadi 150 meter serta memperdalam alur 9,5 meter menjadi 13 meter.

Proyek tahap II akan memperlebar alur dari 150 meter menjadi 200 meter dan diperdalam  hingga 16 meter. Total anggaran untuk tahap II yang dijadwalkan dimulai pada 2014 mencapai USD 111 juta. “Setelah tender selesai, proyek segera digarap,” tegas Wahid.

Dia mengakui, realisasi proyek itu sempat terhambat karena membentangnya pipa gas Kodeco di alur pelayaran Surabaya Barat. Namun, persoalan tersebut sudah dibahas bersama Kemenhub. “Sudah bukan hambatan karena siap direlokasi,”ujarnya. Apalagi, kata Wahid, panjang pipa gas Kodeco yang melintas alur 200 meter. Karena itu, pemerintah optimistis pemindahan pipa tersebut hanya membutuhkan waktu sekitar dua bulan. “Pemindahan pipa akan dilakukan PT Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore,” katanya.

Dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi di Jatim saat ini mencapai 7,22 persen. Tingkat pertumbuhan itu melebihi DKI Jakarta. Sejatinya, kata Wahid, tingkat pertumbuhan ekonomi di Jatim bisa maksimal hingga 8 persen, namun terkendala sistem transportasi.

Pelabuhan Tanjung Perak, ungkap Wahid, bukan hanya pusat aktivitas ekonomi di Jatim, tapi juga Indonesia Timur. Apalagi, Tanjung Perak, mempunyai 20 rute atau lebih banyak dibanding Tanjung Priok. Persoalannya, alur pelayaran barat Surabaya (APBS) hanya memiliki kedalaman 9,5 mete. Karena itu, kapal yang boleh masuk atau lewat di situ hanya kapal generasi kedua.

Kapal jenis itu hanya memiliki daya muat barang 15 ribu DWT (day weight ton) . Padahal, untuk bisa dilewati pelayaran internasional, alur tersebut harus bisa dimasuki kapal generasi ke-9. “Kita kalah tujuh generasi,” ujarnya. Dampaknya, barang ekspor tidak bisa sampai langsung samapai ke tujuan dan harus transit lebih dulu di Singapura, kemudian diangkut lagi oleh kapal yang lebih besar. Gubernur Jatim Soekarwo mengusulkan agar APBS diperdalam hingga minus 16 meter. Jika target itu terealisasi, kapal yang bisa masuk ke Pelabuhan Tanjung Perak maupun Teluk Lamong bisa melompat dari jenis generasi kedua ke kapal generasi ketujuh dengan kapasitas muat 60 ribu DWT.

“Dengan demikian, tidak harus transit di Singapura. Diharapkan, upaya itu bisa menekan cost transport, sehingga barang ekspor dari Jatim dan Indonesia Timur bisa langsung dipasarkan di pasar Internasional,”ujarnya.

Saat ini, lelang proyek dilakukan Dirjen Perhubungan Laut. Beberapa waktu lalu, kata Wahid, gubernur membentuk BUMD yang bisa ikut konsorsium untuk menormalisasi APBS. Selanjutnya, dilakukan MoU antara Jatim Graha Utama yang mewakili BUMD Jatim dan Pelindo III, Petrokimia, serta Wijaya Karya. Setelah MoU, tahap selanjtnya adalah meambentuk konsorsium agar bisa mengikuti lelang oleh Dirjen Perhubungan Laut. “Insya Allah, konsorsium ini bisa memenangi lelang. Apalagi, Pelindo sudah punya dokumen perencenaan yang lengkap. Saya yakin Pelindo punya perencanaan terlengkap untuk APBS,”jelasnya.

Pemprov optimistis, jika proyek tersebut terealisasi, Jatim akan mempunyai sistem transportasi baru untuk mengurangi arus perdagangan lewat laut. Kapal-kapal besar nanti singgah dan berlabuh di Tanjung Perak.

 

Sumber            : Jawa Pos

Hari/tanggal   : Jum’at, 18 Januari 2013

 

 

Read more