Wednesday, 13 March 2013
JAKARTA- Indonesian National Shipowners’ Association menilai angkutan laut domestik belum saatnya menggunakan kapal berukuran besar seperti yang diusulkan dalam konsep Pendulum Nusantara. Wakil Keyua DPP Indonesia National Shipowners’ Association (INSA) Asmary Herry mengatakan kedalaman kolam pelabuhan di Indonesia rata-rata di bawah 12 m sehingga penggunaan kapal ukuran 3.000 twentty-foot equivalent units (TEUs) tidak proporsional. “Untuk kapal berkapasitas 3.000 TEUs draft kolam pelabuhan harus 12 meter-14 meter,” katanya. Sampai saaat ini, menurutnya, hanya Terminal Peti Kemas (TPK) Koja di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta yang Memiliki kedalaman kolam hingga di atas 12 m. Untuk terminal peti kemas domestik di pelabuhan lain seperti Belawan Medan hanya memiliki kedalaman kolam 9,5 m, dan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya hanya 8 m. Menurutnya, konsep Pendulum Nusantara yang diusung PT Pelabuhan Idonesia (Pelindo) II belum tepat saat ini . Konsep itu secara tegas mengatur penggunaan kapal berkapasitas 3.000 TEUs guna melayani angkutan laut domestik di rute Belawan – Tanjung –Priok- Tanjung Perak- Makassar- Sorong. Dia menilai pelabuhan tujuan itu belum seluruhnya bisa menampung bersandarnya kapal berkapasitas 3.000 TEUs. “Pertanyaannya, kapan pelabuhan bisa memiliki kedalaman draft kolam hingga 12 meter. Kalau bisa, kapal akan menyesuaikan,” tuturnya. Asmary mencontohkan jalur tersibuk untuk angkutan laut domestik yakni rute Jakarta-Belawan dan Surabaya- Makassar dengan menggunakan kapal kapasitas di bawah 2.000 TEUs. Dia menilai rute itu memiliki masalah yakni muatan yang masih tidak berimbang, kedalaman alur pelayaran tidak sama, serta fasilitas pelabuhan yang terbatas. Saat ini, rata-rata arus kontainer Jakarta-Belawan dan Surabaya-Makassar baru mencapai 3.000 TEUs per minggu sehingga cukup diangkut menggunakan kapal berkapasitas 1.700 TEUs sedangkan dari arah sebaliknya cenderung kosong. Sejauh ini, di dua rute domestik itu sudah dilayari kapal berukuran di bawah 2.000 TEUs dengan rata-rata tarif angkut Rp5 juta per TEUs Rp6 Juta per TEUs. “Tetapi perlu dicatat, 69% dari freight (Biaya Angkut) itu dibayar untuk tarif-tarif kepelabuhan,”ujarnya. FOKUS PELABUHAN Ketua Umum DPP INSA Carmelia Hartoto menyatakan operator pelabuhan di Indonesia seharusnya fokus memperbaiki layanan di pelabuhan, terutama pelabuhan konvensional dan general cargo yang menjadi sumber inefisiensi logistik di sektor angkutan laut. Dia juga mendesak perlunya moratorium tarif di seluruh pelabuhan di Indonesia. “Sekarang belum waktunya. Hampir semua pelabuhan menaikkan tarif sehingga biaya logistik bukan malah turun , tetapi meningkat.” Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II Richard Joost Lino sebelumnya menyatakan konsep Pendulum Nusantara bisa mewujudkan sistem distribusi barang yang efiensi dan terintegrasi sehingga bisa menurunkan biaya logistik nasional hingga 50%. “Sistem Pendulum Nusantara nantinya mengakomodasi kpal dengan kapasitas minimum 3.000 TEUs, ukuran yang dinilai efisien untuk menurunkan harga logistik,’ katanya. Dia menyatakan pengiriman barang dari Jakarta ke Belawan menggunakan sistem individual penggunaan jasa akan dikenakan biaya sebesar RP ^ juta per TEUs. Dengan konsep Pendulum Nsantara, ungkapnya, biaya itu bisa ditekan menjadi Rp 3 juta per TEUs. SUMBER : BISNIS INDONESIA
Read more
Tuesday, 05 March 2013

Potensi empat pelabuhan di bawah naungan PT Pelabuhan Indonesia III akan diperkenalkan dalam Miami Cruise Shipping, 11-14 Maret. Agenda ini merupakan pameran pariwisata yang meliputi semua aspek kepariwisataan.

            Empat pelabuhan  yang akan dikenalkan Pelindo III adalah Tanjung Bona (Bali), Lembar ( Nusa Tenggara Barat), Tanjung Emas (Semarang), dan Kumai (Kalimantan Tengah). Ke empat daerah tersebut selain memiliki pelabuhan yang memadai, potensi wisatanya juga menjanjikan.

            Kepada Radar Surabaya, Kemarin , Kepala Humas Pelindo III Edi Priyanto, mengungkapkan bila ajang ini berkaitan dengan wisata kapal pesiar. Dimana pameran sekaligus diskusi ini melibatkan banyak pihak. Mulai dari unsure pemerintahan, operator pelabuhan, maskapai pelayaran, dan travel agent.

            “Ini adalah kesempatan kita untuk mempromosikan potensi wisata yang sudah didukung pelabuhan yang memadai. Kebetulan, empat daerah yang akan kita kenalkan memiliki keseimbangan yang memadai,” kata dia.

            Edi mencontohkan Tanjung Benoa dan Tanjung Emas memiliki potensi wisata yang cukup besar. Bahkan dua daerah tersebut memiliki kunjungan wisata (cruise) cukup tinggi di wilayah Pelindo III. Tanjung Benoa yang berada di Bali, potensi wisatanya tertinggi di Indonesia. Cukup banyak objek wisata yang bisa menjadi daya tarik wisata asing.

            Demikian juga dengan Semarang, yang banyak menerima kunjungan wisatawan asing. “Mereka (wisatawan asing) memilih ke Semarang hanya untuk ke Borobudur dan Prambananan. Juga mengunjungi  Solo kota tua di Semarang. Termasuk museum kereta api di Ambarawa,” ulasnya.

            Bagaimana dengan Surabaya? Edi mengakui potensi wisata dan kondisi pelabuhan masih timpang. Apa lagi Tanjung Perak berencana merevitalisasi pelabuhan, sebagai modern port tahun ini. Tetapi potensi wisata yang ada di Suranbaya, kurang menunnjang.

            Seperti tahun lalu, cruise yang membawa wisatawan asing ke Surabaya memilih ke Mojokerto. Tetapi mereka di hadapkan problem infrastruktur transportasi darat dari Surabay menuju Mojokerto.

            Edi mengakui keikutsertaan Pelindo dalam Miami Cruise Shipping ini untuk memperkenalkan pelabuhan dan potensi wisatanya. “Otomatis empat pelabuhan yang kita kenalkan sudah memiliki added value baik dari sisi pelabuhan lain,” tutupnya.

            Keikutsertaan Miami Cruise Shipping ini, pemerintah Indonesia berkesempatan mengirim 37 delegasi. 37 delegasi ini meliputi pemerintahan, operator pelabuhan, maskapai pelayaran, dan tour agent. Demikian juga unsure BUMN, seperti Pelindo IIV dan Pertamina.

Sumber : Radar Surabaya

Read more
Tuesday, 02 April 2013

Kapal sebagai transpotasi laut harus dipeliharaan dalam waktu tertentu. Ada tim khusus yang bertugas dalam bidang pemeliharaan itu. Yakni, mereka yang berada di PT Pelindo Marine Service (PMS) Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

            SIANG, itu sembilan orang berada di area Grafing dock PT PMS. Dengan wajah serius, mereka menghadap ke kolam yang memiliki panjang 45 meter, lebar 15 meter, dan dalam 5 meter. Bentuknya letter U menghadap ke laut. Pandangan mereka tertuju pada kapal yang perlahan mulai masuk ke area tersebut.

            Sekitar 15 menit, kapal yang dimaksud itu sudah berada di dalam kolam grafing dock. Selanjutnya, pintu di ujung grafing dock menutup perlahan. Setelah rapat, area kolam dikosongkan dengan memompa air ke laut.

            Bersamaan itu, dengan menggunakan peralatan selam, Sampuri, 48, menceburkan diri kekolam tersebut. Dia menyelam untuk memastikan bagian bawah kapal sesuai dengan tempat yang sudah disiapkan. Tidak lama, Sampuri muncul ke permukaan lagi. Dia mengabarkan bahwa posisi kapal terlalu serong sehingga tidak tepat pada bantaran yang ada didasar kolam.

            “Geser ke kanan sedikit, “perintahnya kepada rekan-rekan yang ada ditepi kolam itu. Setelah diperkirakan tepat, Sampuri pun kembali menyelam untuk memastikan sudah tepat atau belum. Tidak lama, pria kelahiran Malang itu muncul lagi.”Posisi tepat. Mulai pasang pasak sisi kapal,” perintahnya lagi.

            Pasak yang dimaksud tersebut sejenis kayu yang membujur antara dinding kolam dan lambung kapal. Tujuannya menahan agar kapal tidak bergerak kekiri atau kanan. Setelah terpasang semua, Sampuri keluar dari area kolam dan bergabung dengan rekan-rekannya. Mereka lalu menunggu pemompaan air yang berlangsung hingga enam jam kedepan.

            “ Harus bbersabar,” ungkap Sampuri sambil melepas peralatan selamnya. Tanpa kesabaran bisa berakibatkan fatal. Dia mencontohkan, mamastikan kapal tepat di dalam bantaran dasar kolam tidaklah mudah. Sering kali bapak dua anak itu harus menyelam lebih dua kali ke dasar kolam. “Begitu seterusnya sampai kapal tepat di bantaran, “jelasnya

            Itu saja belum cukup. Sebelum pasak kiri kanan kapal terpasang sempurna, dia tidak bisa meninggalkan area kolam. Karena pemasangan yang tidak sempurna, kapal akan mudah bergerak, jika sudah seperti itu, harus dicek lagi. Sebab, sangat munkin bagian bawah pun bergeser dari bantaran dasar kolam.

            Semua dilakukannya dengan penuh hati-hati. Terutama ketika air mulai surut. Kapal tidak terapung lagi. Jadi, potensi roboh sangat besar. Salah pemnempatan posisi bisa tergencet.” Itu yang selalu kami takutkan ketika memasukan kapal ke grafing dock,” ujar bapak dua anak itu.

            Sambil menunggu air surut. Kapal Sampuri menjelaskan, PT PMS merupakan anak perusahaan PT Pelindo III. Perusahaan tersebut diresmikan pada Januari 2012. Jumlah karyawan seluruhnya lebih dari 30 orang. Namun, yang bertanggung jawaban di area grafing dick sembilan orang.” Satu orang koordinato, lainnya pelaksana di lapangan,” papar pria penghobi olahraga itu.

            Tiba-tiba saat berbincang dengan Jawa Pos, pompa pembuang air berhenti. Tepatnya ketika ketinggian 1.75 meter. Sampuri dan tiga rekannya kembali turun ke area kolam. Kali ini mereka tidak mengenakan peralatan selam. Alasannya, pada ketinggian itu, petugas tidak akan tenggelam.

            Sesampainya di dasar kolam, empat orang tersebut menuju lambung kapal. Mereka lalu memasang tiang di lambung kapal itu. Fungsinya, memperkuat posisi lambung agar tidak bergoyang kekiri ataupun kanan. Setelah tuntas, mereka kembali ke atas kolam. Pemompaan air laut dilanjutkan lagi.

            Menurut Sampuri, penempatan kapal kali ini tergolong mudah. Dia menceritakan, dirinya pernah harus keluar masuk air lebih dari 10 kali. Penyebabnya, kondisi kapal tidak seimbang sehingga suliit menepatkan posisi bagian bawah kapal tepat di bantaran. Area grafing dock.

            Tenaganya cukup terkuras. Namun, tetap saja tanggung jawab harus dijalankan. Penempatan di bantaran kembali dilakukan secara pelan hingga tepat bisa dikunci dengan pasak kiri kanan.

            Sampuri menyatakan, memasukkan kapal yang dilakukan kemarin siang itu tergolong mudah. Selain posisi air sedang pasang, kondisi cuaca cukup mendukung. Dia menambahakan persyaratan utama memasukkan kapal ke grafing dock adalah saat air sedang pasang. Masalahnya, waktu pasang air tidak menetu. Bisa pagi, siang atau dini hari.

            Parahnya, tidak jarang pasang air terjadi dini hari dengan diiringi hujan lebat. Saat itu penerangan hanya mengandalkan lampu. Selain itu, terjangan angin cukup mempengaruhi. Ditambah, derasnya hujan memperlambat pengosongan kolam. “jika normalnya kami membutuhkan waktu enam hjam dalam kondisi hujan bisa lebih dari itu,” ujar suami Kartini tersebut.

            Begitu air surut, pekerjaan perbaikan mulai dilakukan. Lima petugas yang dipimpin Agus Prayitno pun turun ke area kolam. Mereka mengecek bagian bawah kapal. Mulai proppeller atau baling-baling,as baling-baling hingga lambung kapal. Pemeriksaan itu dilakukan untuk memastikan kondisi terakhir bagian-bagian tersebut.

            Agus menyatakan, sebenarnya sebelum kapal masuk ke area kolam, pemilik memberikan gambaran secara umu. Mulai kondisi kapal. Kondisi mesin, hingga keseimbangan kapal.”Tapi, kami tetap harus memastikan kondisi yang sebenarnya dengan cara melihat langsung,”ucapnya.

            Setelah memastikan kondisi masing-masing bagian, mulailah dilakukan tindakan. Misalnya, jika ada bagian lambung yang mengalami korosi, dilakukan pemotongan di bagian itu. Lalu, dipesankan lambung dengan bahan serupa dan dipasang lagi ke lambung tersebut.

            Bahan tidak boleh berubah dengan sebelumnya. Sebab, setiap kapal sudah masuk. Badan Klasifikasi Indonesia (BKI). Mengubah bahan sama artinya dengan melayani aturan BKI. Jika itu terjadi, pemilik kapal bisa terkena sanksi, begitu juga tim perawat kapal.

            Selain korosi lambung, kerusakan sering terjadi pada as baling_baling. Biasanya itu disebabkan faktir umur. Untuk memperbaikinya, normalnya dibutuhkan waktu sekitar dua minggu. Namun, terkadang bisa sampai sebulan. “ Bergantung pada jenis kerusakannya,” ungkapnya.
            Bapak dua anak itu menabahkan, timnya tidak pernah bermain-main dalam memperbaiki bagian bawah kapal. Ketelitian dan penuh hati-hati menjadi kunci utama. Apalagi, pada bagian yang berdekatan dengan pasak-pasak kayu. Jangan sampai terlalu kasar hingga merobohkan pasak. “ Sekali roboh, kapal bisagoyang dan menggencet petugas hingga meninggal,”ucapnya.

            Tetapi, lanjut Agus , selama PT PMS berdiri, yakni awal 2012, belum ada peristiwa yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang. Tidak ada kecelakaan kerja. Sebab, pengamanan area grafing dock sangat ketat. Termasuk prosedur dan ketepatan yang diterapkan di area itu. “ kami junjung kedisiplinan sehingga kecelakaan bisa dihindari,” papar suami Sri Ibtiyah itu.

            Saat ini PT PMS memprioritaskan kapal-kapal milik PT Pelindo. Namun, pada posisi memungkinkan, ada kapal swasta yang juga ditampung. Sepertyi yang terjadi saat ini, di antara tiga grafing dock, hanya dua yang dipakai. Masih sisa satu grafing dock yang selanjutnya digunakan untuk kapal milik pelabuhan rakyat (pelra)

            Agus menjelaskan, pada perbaikan jenis itu, PT PMS hanya menyewakan fasilitas. Tim yang bekerja berasal dari pemilik kapal yang bekerja sama dengan pihak ketiga. “Jadi, kami tidak turut campur secara detail tenteng perawatan dan perbaikannya. Hanya proses pinjam dok saja,” jelasnya.

            Bagi Sampuri maupun Agus, pekerjaan yang dilakoninya cukup berat selain berkaitan dengan alam, jenis benda yang diperbaiki sangat besar. Butuh kesabaran, ketelatenan , dan keikhalasan dalam menjalaninya. “ tanpa itu, kami tidak akan bisa bekerja secara maksimal,” ungkap Sampuri.

 

Read more
Tuesday, 05 February 2013

Perusahaan operator pelabuhan Pelindo III berencana mengeluarkan capital expenditure sebesar Rp 6,1 triliun tahun ini. Jumlah itu empat kali lebih besar dibandingkan investasi pada 2012 yang belum teraudit, yakni Rp 1,5 triliun.

Kepala Humas Pelindo III Edi Priyanto mengatakan, investasi tersebut dibenamkan pada tiga aspek. Yakni, proyek pembangunan, peralatan, dan infrastuktur lainnya. Sebanyak Rp 2,5 triliun akan digunakan untuk proyek pembangunan. Misalnya, proyek terminal multipurpose Teluk Lamong yang masih butuh duit sekitar Rp 2,1 triliun.

Selain itu, ada Rp 1,8 triliun untuk membeli fasilitas dan perlengkapan. Misalnya pengadaan satu unit container crane di dermaga Nilam Timur dan lima unit rubber tyred gantry (RTG) diterminal petikemas Semarang.”Pengadaan peralatan baru tersebut dilakukan untuk mendukung perubahan konsep kami dibeberapa Pelabuhan. Terutama, Tanjung Perak yang akan dijadikan dedicated port,” terangnya.

Dengan investasi itu, Pelindo III menargetkan peningkatan arus kapal menjadi 76 ribu unit dengan total berat 272 juta gross tonnage. Target tidak berbeda jauh dari realisasi 2012, yakni 74 ribu kunjungan kapal dengan total berat 262 juta. “Memang tak banyak karena proyek yang sedang kami kerjakan belum biasa terealisasi tahun ini. Kami berharap, arus barang bisa mencapai 91 juta ton dan petikemas bisa mencapai 3,3 juta box,” ucapnya.

Pelindo sedang berpikir untuk memperoleh pinjaman dari bank. Sebab, dana internal mereka dikhawatirkan belum cukup. “sebenarnya, kami punya wacana untuk menurunkan dividen agar dana investasi bisa murni dari internal. Hanya, pemegang saham tidak setuju. Jadi, pilihan alternative adalah meminjam dari bank,”tuturnya.

Kini Pelindo berusaha mendapatkan pemberi pinjaman dengan tawaran paling baik. “Ya, kami sudah berpengalaman untuk mendapatkan pinjaman bank. Tahun lalu, misalnya, kami sudah mendapatkan pinjaman dari ANZ untuk proyek terminal Teluk Lamong,” ujarnya.

 

SUMBER   : JAWA POS

TANGGAL : SELASA, 5 FEBRUARI 2013

Read more
Tuesday, 05 February 2013

Sejumlah pelaku usaha dan Badan Usaha Pelabuhan (BUP) yang memiliki keterkaitan dengan revitalisasi Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) mulai was-was. Kekhawatiran ini terkait ancaman molornya pelaksanaan proyek ini akibat belum jelasnya pemindahan pipa gas milik PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) yang dijadwalkan Maret 2013.

Jika proyek APBS ini molor, yang dikhawatirkan pelaku usaha adalah olah gerak kapal dan muatan kapal menjadi terbatas. Dampaknya adalah cost (biaya) pengiriman logistik membengkak. Ujung-ujungnya pelku usaha di Pelabuhan Tanjujng Perak yang dirugikan.

Karena itu, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III selaku Badan Usaha Pelanuhan (BUP), memiliki kepentingan terhadap pelaku pasar dan perekonomian di Jawa Timur.

“Kami sangat berkepentingan dengan revitalisasi APBS, karena memiliki keterkaitan dengan perekonomian Jatim, khususnya masalah distribusi logistik,” kata kepala Humas PT Pelindo III, Edi Priyanto, kemarin (4/2).

Seperti sering diberitakan bila kedalaman alur hanya -9,5 meter low water spring )LWS). Kedalaman itu tidak memungkinkan untuk mendatangkan kapal besar dengan muatan besar. Otomotis proses pengiriman harus dilakukan dua kali, dan menyebabkan pembengkakan biaya.

Sejauh ini APBS masih terganggu dengan keberadaan pipa gas milik PHE WME yang melintang dibawahnya. “Kita butuh memperdalam alur, guna memudahkan distribusi logistik. Permasalahannya, kami belum pernah mendengar persiapan untuk memindahkan pipa yang dilakukan PHE WME,” lanjut Edi.

Ketua Asosiasi Logistik dan forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, Henky Pratoko mengatakan efek domino yang ditimbulkan cukup besar. “Jumlah kapal yang singgah tetap kecil, tetapi akan lebih banyak. Dampaknya antrean kapal makin panjang akibat dari belum tuntasnya aktifitas bongkar muat,” urainya.

Dia menegaskan diskusi bersama Pemerintah Provinsi JawaTimur 28 November lalu akan sia-sia. Pada diskusi tersebut membahas pentingnya pemindahan pipa guna mendukung  revitalisasi APBS.

“Terminal Multi Purpose Teluk Lamong akan berarti bila didukung dengan revitalisasi APBS,” tutupnya.

November 2012 lalu, PHE WME menjanjikan pemindahan pipa dilakukan Maret 2013. Field Manager PHE WME, Seth Ambat mengungkapkan perusahaannya telah membeli pipa pengganti. Sayangnya, pantauan dilapangan sejauh ini belum ada tanda-tanda rencana pemindahan pipa.

Pemasangan pipa itu tertuang dalam Production Sharing Contract  (PSC) antara BP Migas (sekarang PHE WME) dengan PT Kodeco, tertanam di Kilometer Point 35-36 dan 44-46. Pemasangan pipa itu dianggap mengganggu keselamatan pelayaran. Safety of Life at Sea (SOLAS).

 

SUMBER    : RADAR SURABAYA

TANGGAL : SELASA, 5 FEBRUARI 2013

 

 

Read more
Tuesday, 05 February 2013

PT Pelabuhan Indonesia II mempercepat pembangunan tahap pertama dermaga khusus layanan sandar kapal dan bongkar muat mobil sepanjang 304 m di Pelabuhan Tanjung Priok.

Direktur Utama PT Indonesia  Kendaraan Terminal (IKT), anak usaha PT Pelabuhan Indonesia II atau IPC, Armen Amir mengatakan pembangunan fisik dermaga ditargetkan selesai pada April 2013.

Nantinya, panjang Dermaga khusus layanan sandar kapal dan bongkar muat kendaraan, alat berat dan suku cadang itu bertambah menjadi 612 m.

Setelah dermaga tahap pertama beroperasi, dia melanjutkan pihaknya akan membangun dermaga tahap kedua sepanjang 148 m dengan kedalaman -12 m  loest water standard (LWS).

“Diharapkan semua kegiatan pengembangan dermaga itu bisa diselesaikan hingga akhir tahun ini. Selain itu, kami juga akan memperluas area lapangan penumpukan,” ujarnya kepada bisnis. Senin (3/2)

Armen melanjutkan pihaknya juga akan menambah lahan penumpukan seluas 12,5 ha yang ditargetkan bisa disiapkan hingga akhir 2013.

Saat ini, tuturnya, lapangan penumpukan yang eksisting diterminal itu seluas 9,2 ha ditambah gedung parkir lima lantai seluas 5 ha dan  temporary landing seluas 1,8 ha.

Selain menambah infrastruktur, Armen menyatakan pihaknya juga menambah fasilitas alat keselamatan dengan membangun jaringan penangkal debu diperbatasan lahan Dok Kodja Bahari dan       PT Bogasari.

Untuk operasional unit usaha terminal IKT, Armen menegaskan kini sudah diinvestasikan empat unit head truck dan empat unit chasis. “Seluruh investasi itu disiapkan dari IPC dan internal kami,”paparnya.

Pada 2013, dia menambahkan pihaknya menyiapkan investasi mencapai Rp221,5 m dengan peruntukan pembangunan fasilitas Rp202,6 miliar, peralatan Rp8,4 miliar dan instalasi Rp10,5 miliar.

Armen memaparkan arus bongkar muat melalui terminal mobil setiap tahun terus meningkat didorong pertumbuhan signifikan atas ekspor dan impor mobil.

Pertumbuhan itu, kata dia, juga dipacu minat beberapa car automaker menjadikan Indonesia sebagai basis produksi bagi pasar regional.

 

SUMBER   : BISNIS INDONESIA

TANGGAL : SELASA, 5 FEBRUARI 2013

Read more