Monday, 12 May 2014
Kementerian Perhubungan akhirnya memberikan hak konsesi pengelolaan Alur Pelayaran Barat Surabaya kepada PT Pelabuhan Indonesia III selama 25 tahun setelah BUMN itu siap mengucurkan US$73 juta untuk proyek itu.

Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III Djarwo Surjanto mengatakan pihaknya akan mengucurkan dana investasi US$73 juta untuk pembangunan APBS antara lain dengan melakukan pengerukan alur, pemasangan sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) dan pemasangan vessel traffic management systrem (VTMS).

"Itu dana Pelindo III untuk membangun APBS, untuk itu Pelindo dikasih hak konsesinya", ujarnya sesaat setelah melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama  dengan Kantor Syahbandara dan Otoritas Pelabuhan Tanjung Perak tentang penyediaan dan Pelayanan Jasa Penggunaan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS).

Menurutnya, pihaknya mendapt hak konsesi selama 25 tahun dengan perincian 1 tahun untuk prakonstruksi, 1 tahun untuk realisasi konstruksi dan 23 tahun untuk masa operasi.

Dia menjelaskan ruang lingkup yang disepakati dalam perjanjian kerja sama itu meliputi kegiatan penyediaan dan pelayanan jasa APBS serta melaksanakan pemungutan jasa alur terhadap kapal pengguna jasa.

Djarwo melanjutkan pihaknya akan mengeruk alur APBS menjadi 14 m low water spring (LWS) dari yang ada saat ini sekitar 8,5 m LWS.

Dia mengharapkan pertambahan kedalaman alur akan memperlancar akses pelayaran bagi kapal yang memiliki bobot hingga 60.000 ton gross tonnage (GT). Selama ini, PT Petrokimia Gresik mengangkut barang dalam jumlah besar melalui APBS. Namun, perusahaan itu terpaksa menggunakan kapal berkapasita 25 GT karena harus melalui APBS yang memiliki kedalaman terbatas. Dampaknya, perusahaan itu harus mengeluarkan kas lebih besar untuk membayar tarip ongkos angkut barang. Bila APBS dapat dilalui oleh kapal 60.000 GT, sambungnya, secara otomatis akan memotong onglos angkut barang perusahaan hingga 50%.

"Nanti alurnya 14 m LWS, nanti bisa dilalui kapal 60.000 GT. Nah itu ongkos kirim tinggal 50%. Itu salah satu contoh. Belum lagi bicara kontainer", ucapnya.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub Bobby R. Mamahit menilai saat ini kondisi APBS kurang layak karena hanya memiliki lebar 100 meter da kedalaman 8,5 LWS sehingga menyebabkan kapasitas APBS sangat terbatas untuk dilalui kapal.

Akibat lainnya, lanjutnya, kapal berbobot besar tidak dapat melalui alur yang merupakan pintu masuk menuju Pelabuhan TAnjung Perak dan sekitarnya tersebut.

Menurutnya, pembangunan dan pengelolaan APBS  merupakan salah satu program strategis terkait dengan kelancaran operasional di Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Gresik dan Pelabuhan Teluk Lamong yang didesain untuk melayani kapal dengan draf 14 meter.

Di sisi lain, katanya, pembangunan ketiga pelabuhan tersebut, imbuhnya, sangat tepat untuk mengantisipasi pertumbuhan ekonomi global, pertumbuhan arus peti kemas yang tinggi dan meningkatnya dimensi kapal.

Atas dasar itu, Bobby menilai diperlukan langkah untuk meningkatkan kapasitas Terminal Peti Kemas guna mengakomodasi arus peti kemas pada masa yang akan datang.

Menteri Perhubungan E.E. Mangindaan menuturkan perjanjian kerja sama antara pemerintah dengan PT Pelindo III sudah dinantikan sejak lama.

Dia mengharapkan PT Pelindo III dapat mengelola APBS dengan baik mengingat kunjungan di Pelabuhan Tanjung Perak dan Pelabuhan Utama Gresik dalam beberap waktu terakhir terus meningkat. (09/05/2014)

SUMBER : BISNIS INDONESIA 
Read more
Monday, 12 May 2014
PT Pelindo III selaku penanggung jawab sementara Terminal Peti Kemas Teluk Lamong, menerapkan konsep ramah lingkungan. Konsep itu diwujudkan pada bidang transportasi. Hanya kendaraan berbahan gas (BBG) yang boleh masuk di kawasan itu.

Juru bicara PT Pelindo III Edi Priyanto menegaskan, truk trailer yang tidak berbahan gas hanya diperbolehkan masuk ke area transit. Dari area transit, muatan dipindahkan ke truk ber-BBG untuk masuk kelapangan penumpukan peti kemas. "Enam bulan pertama tidak ada penarikan biaya", katanya.

Pengambilan peti kemas juga demikian, hanya truk BBG yang boleh masuk ke lapangan penumpukan. Setelah mengangkut, truk tersebut bisa keluar dan menuju lokasi. Bisa ke PAsuruan, Gresik atau depo-depo terdekat.

Biasanya ada dua kriteria pengusaha. Pertama, menggunakan truk BBG dari area terminal peti kemas. Kedua, tetap menggunakan truk miliki perusahaan yang ber-BBM. Kriteria kedua hanya bisa dilakukan di depo-depo terdekat. Artinya, dari lapangan, muatan diangkut truk BBG dan ditukar di depo tersebut. "Tentu saja biayanya lebih mahal", ucap Edi.

Jika memperhatikan aspek efisiensi, banayak pengusaha kriteria kedua yang berubah pikiran. Mereka memilih menggunakan kendaraan ber-BBG yang sudah disiapkan. Apalagi, pada enam bulan pertama.

Nanti ada dua jenis kendaraan yang dipersiapkan. PT Pelindo III mempersiapkan 50 unit truk ber-BBG. Truk itu hanya boleh bergerak dari lapangan penumpukan menuju area transit atau disekitar terminal.

Kendaraan lain, sekitar 100 unit, berasal dari Organda Surabaya. Truk itulah yang bisa mengangkut peti kemas dari lapangan penumpukan ke daerah-daerah. Akhir Mei, dipastikan sudah ada 25 unit yang siap dioperasikan. "Kendaraan itu hasil patungan beberapa pengusaha yang tergabung dalam Organda", ucap Edi.

Dia menegaskan, dalam penerapan truk ber-BBG itu, tidak ada maksud monopoli. Apalagi Organda memeiliki kesempatan besar dengan menempatkan 100 unit truk di area Terminal Peti Kemas Teluk Lamong. "Itu bukan monopoli", tegasnya.

Pria asal Sragen itu menjelaskan, jika ada pengusaha yang memiliki truk ber-BBG, mereka berhak masuk kelapangan penumpukan. Jadi, tidak harus menggunakan truk milik PT Pelindo III atau Organda. (09/05/2014)

SUMBER : JAWA POS 
Read more
Monday, 05 May 2014
Arus kunjungan kapal di Pelabuhan Tanjung Perak pada triwulan I-2014 mengalami peningkatan sekitar 7 persen. Jumlah itu terhitung untuk satuan unit kapal yang masuk ke pelabuhan utama di Surabaya tersebut. Satuan bobot gross tonnage  (GT) mengalami kenaikan sekitar 4 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

PT Pelabuhan Indonesia III (Pelindo) Cabang Tanjung Perak, menyatakan, hingga Maret 2014, arus kunjungan kapal di Tanjung Perak tercatat naik 3.271 unit, sedangkan satuan bobot tercapai 17,5 juta GT.

Kepala Humas PT Pelindo III Cabang Tanjung Perak Dhany Rahmad Agustian mengungkapkan, jenis kapal yang masuk ke Tanjung Perak sepanjang kuartal pertama tahun ini masih didominasi kapal peti kemas. "Berdasar jenis kapal, peti kemas masih mendominasi. Jumlahnya 1.125 unit dengan berat yang mencapai 8,9 juta GT. Itu disusul 386 kapal tanker dengan berat yang mencapai 3,1 juta GT", jelasnya.

Dia menerangkan bahwa kunjungan kapal penumpang hingga triwulan pertama tercatat 378 unit setara dengan 2,9 juta GT. Kapal non peti kemas, antara lain, break bulk, general cargo, dan jenis kapal lainnya yang mencapai 613 unit atau setara dengan 1,8 juta GT.
Dhany menuturkan, kenaikan kunjungan kapal ini lebih banyak menuju ke Indonesia Timur. Sebab, selama ini Pelabuhan Tanjung Perak menjadi pintu masuk perdagangan ke wilayah Indonesia Timur. "Banyak feeder internasional maupun domestik yang melakukan transhipment di Tanjung Perak", tuturnya.

Sepanjang kuartal pertama tahun ini, kapal yang berbendera Indonesia mendominasi kunjungan ke Tanjung Perak dengan capaian 54% atau 2.805 unit dengan berat 9,4 juta GT. Kapal yang berbendera asing tercatat hanya 466 unit setara dengan 8 juta GT.

Sementara itu, General Manager Pelindo III Cabang Tanjung Perak Toto Heli Yanto menjelaskan, ukuran kapal mengalami banyak perubahan. Kedepan, kapal akan semakin besar meski jumlahnya akan menurun. Dengan demikian, muatannya semakin besar seiring dengan revitalisasi Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS). (02/05/2014).

SUMBER : RADAR SURABAYA
Read more
Monday, 05 May 2014
PT Pelabuhan INdonesia (Pelindo) III mengincar dana eksternal untuk pengembangan perusahaan melalui penerbitanglobal bond sebesar USD 290 juta dan commercial loan (pinjaman komersial) USD 130 juta pada tahun ini.

Untuk global bond, Pelindo III masih menunggu hasil dari perusahaan pemeringkat asing. Sejauh ini, Pelindo III mendapat rating AA+ dari perusahaan pemeringkat dalam negeri Pefindo.

Untuk mendapat dana melalui commercial loan, sudah ada 17 lembaga keuangan dan bank lokal yang berminat. Itu terdiri atas enam bank lokal dan sisanya bank luar negeri.

"Jadi, kami ini ibarat perempuan cantik yang terus mendapat rayuan dari pihak ketiga untuk memberi pinjaman utang, selain juga berencana untuk menarik dana dari publik melalui global bond", kata Direktur Keuangan PT Pelindo III Wahyu Suparyono diruang kerjanya.

Menurut beliau, ciri perusahaan yang sehat adalah merespons keinginan pelanggan. Bentuk respons terhadap keinginan pelanggan itu adalah agresif dalam berinvestasi untuk meningkatkan pelayanan. Diantaranya, menerbitkan surat utang melalui global bond dan commercial loan.

Dengan latar belakang keuntungan perusahaan pada 2009 hingga 2013 yang mengalami peningkatan, Wahyu yakin bahwa surat utang itu akan diminati. Keuntungan Pelindo III pada 2009 mencapai Rp 500 miliar dan pada 2013 menembus Rp 1,3 triliun dengan aset sebesar Rp 10 triliun.

"Artinya, kami harus menarik dana yang bisa berbentuk global bond maupun commercial loan. Sementara itu, anggaran internal tidak memungkinkan untuk diinvestasikan dan itu juga salah satu upaya kami untuk memberikan pelayanan kepada kastemer", urainya.

Pelindo III memiliki rasio keuangan yang cukup sehat untuk mendapatkan utang. Komposisi antara utang dan dana internal sekitar 1 berbanding 5. Batas maksimal antara keuangan internal dengan eksternal adalah 1 berbanding 3,3.

"Kami masih memiliki rasio 30 persen dana internal berbanding 70 persen. Itu masih sehat", timpal Yon Irawan, senior manager treasury Pelindo III , yang turut mendampingi wahyu. Pelindo III sudah membentuk tim untuk menarik dana melalui global bond.

Melalui rencana, dana tersebut diinvestasikan disejumlah daerah dan penyertaan modal ke anak perusahaan. Salah satunya ditujukan kepada PT Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI) yang berinvestasi di Manyar (Gresik) untukl mendirikan Java Integrated Industrial Port (JIIPE) bersama PT Aneka Kimia Raya. (05/05/2014)

SUMBER : RADAR SURABAYA
Read more
Monday, 28 April 2014

Satu persatu langkah terkait dengan revitalisasi Pelabuhan Kalimas sudah dimulai. Salah satunya, tidak di perpanjang kontrak sewa gudang. Ada sembilan perusahaan yang izin sewanya tidak diperpanjang lagi.

“Tidak hanya masalah dengan perusahaan penyewa. Ini hanya mengenai revitalisasi pelabuhan, gudang tersebut diperbaiki. Karena itu, izin sewanya tidak diperpanjang”, kata Kepala Humas PT Pelindo III Cabang Pelabuhan Tanjung Perak Dhany Rachman Agustian.

Dia menyebutkan, terdapat empat kompleks pergudangan di pelabuhan tersebut. Ada 16 perusahaan yang menyewa. Masa sewanya berbeda-beda.”Kebetulan, masa sewa sembilan perusahaan itu habis sekarang”, lanjutnya.

Bagaimana dengan tujuh perusahaan yang kontrak sewa gedungnya belum habis ? Dhany menyatakan akan menawarkan dua opsi bagi mereka. Yaitu, ganti rugi atau investasi. Masa kontrak bakal di hentikan, lantas perusahaan penyewa di beri ganti rugi sesuai dengan waktu perjanjian. Jika kontrak sewa masih kurang setahun, ganti ruginya akan di hitung setahun.

Bila mereka tidak setuju , bakal di tunjukan opsi kedua. Perusahaan tersebut di minta menjadi investor revitalisasipelabuhan. Mereka bisa ikut serta berinvestasi untuk pembangunan terminal modern.” Terserahperusahaan penyewa mau pilih opsi yang mana,” ujar Dhany.

Selain gudang milik PT pelindo III, di sepanjang pelabuhan kalimas terdapat pergudangan milik swasta. Jumpahnya masih mencapai sekitar enam kompleks pergudangan. Gudang itu masih aktif di gunakan. Banguna tersebut merupakan milik swasta. Namun, lahan yang di gunakan adalah milik PT Pelindo III.

Alumnus Universitas Airlangga (Unair) itu menuturkan, pihaknya juga akan melakukan pendekatan dengan perusahaan pemilik gudang. Mereka pun bakal di tawari untuk berinvestaris dalam pembanguna tersebut. “Sekarang masih di proses. Kami yakin mereka mendukung pembangunan,” katanya.

Pembanguna fisik gudang , ujar Dhany, baru di mulai tahun depan. Lokasi pertama yang akan di bangun adalah pergudangandi dermaga tempat bersandarnyakapal pelayaran rakyat ( pelra ). Dengan itu, kegiatan bongkar muat barang tidak terganggu. Setelah itu, di bangun gedung lain.

Kepala Humas PT Pelindo III Edi Prayitno menjelaskan, revitalisasi pelabuhan kalimas tidak cukup dilaksanakan hanya setahun, pembangunan membutuhkan waktu beberapa tahun. Diperkirakan, pembangunan baru tuntas pada 2018. Jika dihitung sejak sekarang, pihaknya butuh lima tahun untuk merampung proyek tersebut. ‘'Kalimas akan berubah bentuk menjadi pelabuhan modern”, tandasnya. (28/04/2014)

SUMBER : JAWA POS
Read more
Monday, 28 April 2014

Pengerjaan pembangunan Terminal Teluk Lamong yang hampir selesai disorot Wakil Presiden Boediono. Dia mempertanyakan perkembangan terbaru pemindahan pipa eks Kodeco di Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS). Selain itu, wapres mengkhawatirkan masalah transpotasi darat yang menjadi akses dari dan menuju Teluk Lamong.

Dua pertanyaan itu muncul saat Boediono mengunjungi Terminal Teluk Lamong kemarin pagi (26/4). Dia datang pukul 09.30 bersama rombongan dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan disambut petinggi PT Pelindo III serta pejabat Penprov Jatim. Yakni, Sekdaprov Achmad Sudarki dan Kepala Dishub Jatim Wahid Wahyudi. Terjadi dialog sekitar setengah jam sebelum rombongan tersebut melihat langsung kondisi terkini terminal.

Mantan Gubernur Bank Indonesia itu mengungkapkan, jalan-jalan tersebut bakal semakin padat. potensi kerusakan jalan juga akan semakin tinggi. Dia berharap bukan hanya jalan raya yang dipakai, tetapi juga jalur kereta api. “Jalur kereta api ini akan sangat membantu”, ujarnya.

Pemanfaatan jalur kereta api itu memang telah masuk dalam perencanaan PT Pelindo III. Mereka telah memikirkan untuk membuat transportasi berbasis monorel yang akan menjadi akses pemindah peti kemas dari Tanjung Perak ke Teluk Lamong.

“Soal teknis, teknologi sudah dibuat. Hanya kami menunggu izin pemanfaatan ruang dari Pemkot Surabaya”, jelas Dirut PT Pelindo III Djarwo Surjanto. Izin serupa sedang dikoordinasikan dengan TNI-AL. Sebagian lahan yang bakal dilewati monorel itu memang adalah lahan militer.

Rencana lain yang tengah dibuat adalah akses dari terminal Teluk Lamong menuju Stasiun Veteran, Gresik. Akses itu pun akan dibikin dengan menggunakan model rel. Untuk mengurangi beban jalan dan kemacetan, PT Pelindo III sudah membuat rencana pembangunan flyover. Jalan layang tersebut bakal langsung menghubungi tol Surabaya – Gresik. Dengan demikian, truk-truk kontainer tidak perlu berdesakan dengan kendaraan lain.

Hal lain yang menjadi pemikiran wapres adalah keberadaan pipa eks Kodeco yang kini menjadi milik Pertamina Hulu Energi West Madura Offshare (PHE-WMO)tersebut. Menurut dia, pipa tersebut bisa mengganggu pengoperasian Teluk Lamong. “Saya berharap pipa (eks) Kodeco ini bisa segera digeser. Tanpa ini, tentu kelancaran arus tak akan bisa optimal”, tuturnya setelah mendengar paparan dari Djarwo Surjanto.

Pipa eks Kodeco itu memang harus dipindahkan dari lokasi sekarang. Tepatnya di APBS. Sebab, APBS bakal di lebarkan dan diperdalam. Bila APBS tidak segera dilebarkan, kapal-kapal besar tidak bisa leluasa masuk ke terminal. Menurut rencana, APBS itu dilebarkan dari 100 meter menjadi 150 meter. Termasuk kedalamannya dari 9,50 meter LWS (low water spring) menjadi  -13 meter LWS.

General Manager PHE WMO Byker Pardede mengatakan bahwa tender dan kontrak untuk pemindahan pipa itu telah terselesaikan. Bahkan, jadwal pemindahan pipa sepanjang 21 kilometer tersebut sudah dibuat. “Semoga, pada Oktober-Nopember, (pemindahan pipa) bisa seusai dengan jadwal,’ katanya. (27/04/2014)

SUMBER : JAWA POS
Read more