Monday, 19 May 2014
PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) terus melakukan ekspansi bisnis untuk memperkokoh korporasi. Salah satunya dengan menyiapkan empat anak perusahaan yang akan diubah menjadi perusahaan atau perseroan yang berdiri sendiri yaitu Cabang Tanjung Perak, Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS), Berlian Jasa Terminal (BJTI) dan Terminal Petikemas Surabaya (TPS).

Kepala Humas PT Pelindo III Edi Proyanto mengatakan bahwa Cabang Tanjung Perak dan TPKS diharapkan sudah menjadi perseroan tahun ini dan untuk menjadi anak perusahaan maka kedua perusahaan tersebut harus memiliki cash flow yang sehat.

Secara korporasi, anak perusahaan yang telah berdiri menjadi perseroan itu bisa mengambil kebijakan tanpa melalui birokrasi di kantor pusat sehingga adanya hal itu akan memudahkan perusahaan untuk fokus pada kinerjanya. Demikian juga secara organisasi, anak perusahaan akan dipimpin seorang Direktur Utama yang posisinya bisa menetap sementara general manager bisa sewaktu-waktu berganti.

Selain menjadi operator tunggal, TPKS nantinya hanya memberikan pelayanan peti kemas domestik dan internasional sehingga core bussiness TPKS juga akan sama dengan TPS yaitu pelayanan jasa kepelabuhanan. Tanjung Perak murni melayani bongkar muat sedangkan pelayanan kapal tunda dan pandu akan diserahkan kepada anak perusahaan Pelindo III lainnya yaitu PT Pelindo Marine Service (PMS). (19/05/2014)

SUMBER : RADAR SURABAYA 
Read more
Friday, 16 May 2014
Wajah kompleks pergudangan di Pelabuhan Tanjung Perak segera berubah. PT Pelindo III akan melakukan modernisasi. Rencananya, ada sebelas gudang yang dibongkar. Saat ini pembongkaran masih menunggu izin dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Kepala Humas PT Pelindo III Cabang Tanjung Perak Dhany Rachmad Agustian menyatakan, izin pembongkaran gudang sudah diajukan ke Kemenkeu. Pembongkaran itu harus disertai izin. Sebab, gudang tersebut termasuk aset negara. "Kalau terkait dengan aset negara, izinnyake Kemenkeu", ujarnya.

Total ada sebelas gudang yang akan dibongkar. Pergudangan itu menyebar di beberapa tempat. Yaitu, di Terminal Jamrud Utara, Jamrud Selatan, Mirah dan Pelabuhan Kalimas. Jumlah gudang yang dibongkiar berbeda-beda, tergantung tempatnya. Di Terminal Jamrud Utara, misalnya. Ada dua gudang yang diusulkan dibongkar, yakni nomo102 dan 101.

Selain itu, ada dua gudang yang akan dibongkar di Jamrud Selatan, yakni nomor 1234 dan 125. Di Terminal MIrah akan ada tiga gudang yang akan dibongkar. Di Pelabuhan Kalimas, rencananya ada empat gudang yang dibongkar. "Jumlahnya paling banyak dibandingkan dengan pergudangan lainnya", kata Dhany. (15/05/2014)

SUMBER : JAWA POS 
Read more
Wednesday, 14 May 2014
Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia menyatakan pendapatan pelaku industri galangan kapal nasiional lebih banyak disumbang dari pengerjaan reparasi kapal ketimbang membangun kapal baru.

Ketua Bidang Lepas DPP Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Eddy K. Logam mengatakan keuntungan yang didapat kalangan pelaku usaha galangan kapal memang lebih besar dari reparasi kapal dibandingkan pembangunan kapal baru.

Dengan fokus mereparasi kapal, lanjutnya, para pengusaha tidak perlu mengeluarkan modal lebih besar seperti pengadaan komponen kapal guna membangun armada baru.

Namun, dia mengkhawatirkan kondisi itu akan berimbas terhadap kemampuan Indonesia untuk membangun kapal di dalam negeri.

"Kesalahan bukan di industri galangan, tapi karena regulasi yang belum memihak", katanya.

Saat ini, dia menuturkan kinerja industri galangan kapal nasional masih belum optimal karena masih terkendala pajak pembelian komponen kapal dari luar negeri, minimnya dukungan dari pihak perbankan dan kalangan pengusaha industri pelayaran nasional.

Selama ini, kalangan pelayaran nasional lebih memilih membeli atau memesan kapal dari luar negeri karena industri galangan dalam negeri belum kompetitif.
Akibatnya, volume produksi kapal dari galangan kapal dalam negeri belum optimal sehingga menyebabkan industri penyedia komponen kapal belum tertarik untuk berinvestasi di Indonesia. "Jadi memang ada beberapa simpul yang harus dibenahi".

Direktur Industri Maritim, Kedirgantaraan dan Alat Pertahanan, Ditjen IUBTT Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Hasbi Assiddiq S. mengatakan selama ini penyediaan komponen kapal belum optimal untuk mendukung industri galangan kapal.

Dia optimistis prospek industri galangan kapal dalam negeri sangat cerah dan akan menjadi salah satu pilar ekonomi nasional.

Sementara itu, Ketua Bidang Angkutan Lepas Pantai DPP) Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Nova Y Mugijanto mengatakan pengusaha lebih banyak mendatangkan kapal khusus dengan teknologi tinggi dari luar negeri.

Negara yang banyak memasok kapal offshore khusus dengan teknologi tinggi ke Indonesia antara lain ialah China, Singapura dan Malaysia. (14/05/2014)

SUMBER : BISNIS INDONESIA
Read more
Wednesday, 14 May 2014
PT Pelabuhan III (Pelindo III) segera merealisasikan pembangunan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) atau biasa disebut proyek "jalan tol bawah laut". Pelindo III akan memperlebar alur dari 100 meter menjadi 150 meter. Dan memperdalam alur dari 8,5 meter menjadi 14-14 meter. Proyek yang menelan anggaran sebesar USD 67 juta itu dikerjakan selama satu tahun sejak Mei 2014 hingga 2015.

Kepastian Pelindo III melakukan pengerukan APBS, setelah BUMN tersebut melakukan penandatanganan bersama Surat Perjanjian Pemborongan Pekerjaan Pengerukan APBS dengan Van Oord Dredging and MArine Contractor BV (Van Oord) asal Belanda.

Selain itu, Pelindo III juga melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama penyediaan dan pelayanan jasa penggunaan APBS dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan UTama Tanjung Perak Surabaya Sahat Simatupang dengan Direktur Utama PT Pelabuhan III Djarwo Surjanto di kantor Kemenhub pada tanggal 8 Mei 2014. Turut menyaksikan penandatanganan itu, Menetri Perhubungan E.E. Mangindaan dan Dirjen Perhubungan Laut Kemenhub Bobby R. Mamahit.

APBS merupakan pintu masuk menuju pelabuhan Tanjung Perak dan sekitarnya. Saat ini kondisinya kurang layak. Sebab, aksesnya hanya memiliki lebar 100 meter dengan kedalaman minus 8,5 meter low meter spring (LWS). Keterbatasan ini menyebabkan APBS tidak mampu untuk dilewati kapal-kapal dengan bobot dan draf yang lebih besar.

Ruang lingkup yang telah disepakati dalam perjanjian kerja sama tersebut meliputi kegiatan penyediaan dan pelayanan jasa APBS untuk membiayai, merencanakan atau merancang, membangun, mengoperasikan dan memelihara APBS. Termasuk pemasangan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) dan melaksanakan pemungutan jasa alur kepada kapal yang menggunakan APBS.

Jangka waktu yang diberikan pemerintah kepada Pelindo III adalah 25 tahun. Rinciannya satu tahun masa prakonstruksi, satu tahun masa konstruksi dan 23 tahun masa operasi.

Untuk meningkatkan kapasitas APBS akan dilakukan beberapa tindakan. Antara lain pengerukan alur, pemasangan SBNP dan pemasangan Vessel Traffic Management System (VTMS).

Menhub mengatakan bahwa pembangunan dan pengelolaan APBS merupakan satu diantara program strategis terkait dengan kelancaran operasional di Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Gresik dan Terminal Teluk Lamong yang didesain untuk melayani kapal dengan draf 14 meter.

"Pembangunan alur ini tepat guna untuk mengantisipasi pertumbuhan ekonomis global dan dan pertumbuhan arus peti kemas yang tinggi. KArena itu, perlu dilakukan langkah-langkah untuk meningkatkan kapasitas terminal peti kemas. Tujuan mengakomodasi arus peti kemas pada masa yang akan datang", kata Mangindaan.

Saat ini, APBS hanya mampu untuk dilewati kapal curah kering bermuatan 40 ribu ton, kapal LNG 20 ribu ton dan kapal peti kemas 20 ribu dead weight tons (DWT).

Setelah pengerukan, kapasitas APBS mempu untuk dilewati kapal curah kering bermuatan 90 ribu ton, kapal tanker 65 ribu DWT, kapal LNG bernuatan 60 ribu ton dan kapal peti kemas berbobot 50 ribu DWT. 
Read more
Tuesday, 13 May 2014
Terminal Teluk Lamong (TTL) kembali kedatangan dua alat bongkar muat peti kemas ship to shoe (STS) crane dalam bentuk utuh dan siap beroperasi Sabtu tanggal 10 Mei 2014 yang lalu. Sebelumnya, datang dua automatic stacking crane (ASC) dalam bentuk rangkaian yang belum terpasang. Dua STS merek Konecrane tersebut diangkut dengan kapal Korea Express dari Finlandia.

DIrektur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III Djarwo Surjanto mengatakan, dua alat itu merupakan paket pertama diantara sepuluh STS yang akan dioperasikan di Terminal Teluk Lamong yang dikonsep sebagai dermaga ramah lingkungan (green port). "Paket kedua sebanyak dua unit akan datang pada bulan Juli dan lima unit lagi pada 2016", katanya saat menyaksikan kedatangan peralatan STS kemarin.

STS tersebut berbeda dari container crane (CC). STS dioperasikan dengan listrik, sedangkan CC dengan diesel. STS merupakan alat modern yang ramah lingkungan, tidak menimbulkan kebisingan, dan tidak mengeluarkan limbah udara yang mengganggu lingkungan.

Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha PT Pelindo III Husein Latief menerangkan, STS merupakan alat baru bagi pelabuhan di Indonesia. Selama ini bongkar muat peti kemas di terminal masih menggunakan CC.

Alat lain ayang akan datang adalah paket 20 ASC. Semuanya diproduksi Konecrane Finlandia. Perjanjian pembelian sepuluh STS dan 20 ASC itu dilakukan Pelindo III dengan Konecrane pada 1 Maret lalu.

Sementara itu Duirektur Utama PT Terminal Teluk Lamong (TTL) Prasetyahadi mengatakan, pihaknya membuka lelang investor untuk pembangunan powerplan energi pembangkit listrik. Pembangkit listrik tersebut digunakan untuk menyuplai operasional di terminal ramah lingkungan yang sudah meninggalkan BBM itu.

"Kami sudah membuka peserta lelang investor, bukan kontraktor untuk membuat powerplan pembangkit listrik tenaga gas. Masalahnya, kalau kami mengandalkan suplai dari PT PLN, tidak cukup", katanya. (13/05/2014)

SUMBER : RADAR SURABAYA 
Read more
Monday, 12 May 2014

Sejumlah asosiasi yang berkaitan dengan Pelabuhan Tanjung Perak meminta agara tarip layanan di Terminal Teluk Lamong segera diumumkan. Permintaan tersebut tidak lepas dari mepetnya waktu persiapan operasi, sementara pihak asosiasi harus mempersiapkan diri.

Ketua Umum Indonesia Nasional Shipowner Association (INSA) Surabaya Stenven H. Lasewengan berharap, tarip layanan di Teluk Lamong itu segera diumumkan bulan ini. Sebab, INSA berharap bisa segera menyosialisasikannya kepada anggotanya.

“Sejauh ini, kami belum mendapat undangan dari operator terminal pelabuhan. Idealnya, saat ini adalah waktu yang tepat untuk sosialisasi, mengingat pelaksanaan operasi terminal sudah semakin dekat”, kata Stenven.

Dia meminta agar tarip layanan tersebut disamakan dengan terminal terdekat. Yakni, terminal di Tanjung Perak, Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI) maupun Terminal Peti Kemas Surabaya (TPS). Baik yang menyangkut layanan peti kemas maupun non peti kemas.

Perlu diketahui bahwa PT Terminal Teluk Lamong telah memiliki rencana mengumumkan tarip layanan pada akhir Juni nanti. Direktur Operasional PT Terminal Teluk Lamong, Agung Kresno Sarwono sudah memastikan bahwa acuan tarip akan disamakan dengan layanan PT Terminal Peti Kemas Surabaya (TPS). “Dua terminal tersebut memeliki karakter yang hampir sama dari sisi pelayanan maupun produktivitas”, katanya. Alasan lain posisi Teluk Lamong sedikit lebih jauh daripada Tanjung Perak. (10/05/2014)

SUMBER : RADAR SURABAYA
Read more