Saturday, 01 June 2013

Pelindo III kembali melakukan restrukturisasi pejabat sekelas General Manager. Kali ini Iwan Sabatini yang telah menahkodai Pelabuhan Cabang Benoa Bali selama 2 tahun dan 3 bulan menggantikan Sumarzen sebagai General Manager Terminal Petikemas Semarang (TPKS).  Pelantikan serta serah terima jabatan dipimpin langsung oleh Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Djarwo Surjanto.

Acara yang berlangsung di Ruang Bromo Kantor Pusat PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) tersebut sekaligus melantik Prasetyo yang dipercaya menggantikan Iwan Sabatini sebagai General Manager Pelabuhan Benoa - Bali. Sebelumnya, Prasetyo menjabat sebagai Askaro Perencanaan Korporat pada Biro Perencanaan Kantor Pusat.

Diharapkan Prasetyo nanti dapat meneruskan perjuangan Iwan Sabatini meneruskan program perusahaan terhadap Pelabuhan Benoa sebagai turn around port dimana Indonesia khususnya Bali memiliki peluang yang sangat besar karena memiliki potensi wisata yang beragam. di Tahun 2013 ini Benoa rencananya akan disinggahi oleh 28  kunjungan kapal pesiar dari total 97 kunjungan kapal pesiar di seluruh pelabuhan yang dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia III (Persero).

Sumber : Dermaga.com

Dalam sambutannya, Djarwo Surjanto menyatakan bahwa pergantian kepemimpinan dilakukan oleh Manajemen PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) untuk meningkatkan kinerja perusahaan secara keseluruhan.  Artinya, rotasi pejabat yang dilakukan ditujukan untuk menciptakan suasana baru dalam lingkup perusahaan dan diharapkan mampu mempengaruhi iklim kerja pegawai.  Bukan hanya itu saja, pergantian kepemimpinan diharapkan mampu mendorong pemikiran-pemikiran baru yang dibutuhkan untuk mengembangkan perusahaan, demi mencapai tujuan perusahaan.

Sementara itu, Sumarzen yang digantikan oleh Iwan Sabatini akan diperbantukan sebagai salah satu Direksi di anak perusahaan bersama PT Pelabuhan Indonesia I, II, III, dan IV yaitu Terminal Petikemas Indonesia. Terminal Petikemas Indonesia merupakan operator pelabuhan yang menyediakan rute pelayaran sepanjang jalur barat-timur Indonesia dan beroperasi seperti pendulum.

Dikatakan seperti pendulum karena akan terus bergerak. Rute yang dimaksud akan melewati enam pelabuhan utama, yakni Belawan, Batam, Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Sorong. Sistem ini diharapkan dapat menurunkan ongkos pengiriman logistik di Indonesia. Selama ini, masih terjadi perbedaan harga antara Pelindo I hingga Pelindo IV. Jika sistem Nusantara berjalan, Pelindo I hingga Pelindo IV akan bekerja sama menentukan satu tarif.

 

 

Read more
Saturday, 01 June 2013

Pelindo III  Banjarmasin belum lama ini melakukan peresmian RF di area Workshop Terminal Petikemas Banjarmasin. Hal ini merupakan komitmen sebagai pelabuhan yang berwawasan lingkungan.

Acara dilangsungkan di lokasi Reception Facility dengan ditandai melalui pengguntingan pita oleh Hamdi (Kepala Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Banjarmasin) sebagai peresmian dan prosesi simulasi pembuangan / penanganan limbah serta pengangkutan limbah oleh pihak rekanan ditunjuk sebagai ilustrasi untuk menunjukan bagaimana penanganan limbah yang berlaku di area PT Pelindo III (Persero) Cabang Banjarmasin

Port Reception Facility merupakan fasilitas penampungan limbah sementara yang digunakan untuk menampung limbah B3 (Bahan berbahaya dan beracun) berupa oli bekas, kain majun dan berbagai sisa proses operasional kantor seperti cartridge printer dan sebagainya. Fasilitas ini dibangun atas dasar komitmen manajemen dalam menjalankan bisnis kepelabuhanan yang berwawasan lingkungan.

Dalam Sambutannya, Toto Heli Yanto (General Manager PT Pelindo III) menyampaikan bahwa Manajemen sangat peduli dalam menjaga lingkungan, dalam memastikan konsistensi pengelolaan limbah, Manajemen tengah menggodok adanya struktur organisasi baru yang khusus menangani limbah dimaksud jelas toto.

“Kami telah menghimbau dan melakukan sosialisasi  kepada mitra / stakeholder yang melakukan aktivitas di area pelabuhan, bahwa setiap limbah B3 yang dihasilkan wajib dikumpulkan di area RF untuk selanjutnya dimusnahkan oleh perusahaan transportir limbah yang ditunjuk manajemen, dan melarang  keras kepada mitra yang memperjualbelikan limbah B3, karena hal tersebut dapat  membahayakan lingkungan”. Tambah Toto.

Tindakan tegas pun akan dilakukan kepada mitra / stakeholder yang melanggar ketentuan tersebut. pada prinsipnya semua mitra yang melakukan aktifitas di pelabuhan diwajibkan membuang limbahnya melalui RF tersebut. “apabila ingin menjual / membuang limbah ke pihak lain silahkan, tapi jangan dilakukan di area Pelindo Banjarmasin” imbuh toto. Pemberlakukan kebijakan tersebut berdasar atas penunjukan transportir limbah yang memenuhi kriteria dan ijin dari kementerian lingkungan hidup.

Manajemen telah menunjuk perusahaan transportir limbah yang memiliki sertifikasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan rekomendasi dari Pemerintah Kota Banjarmasin. sebagai perusahaan transportir, PT Nazar telah memiliki pengalaman yang cukup. Dalam kontrak dengan PT Pelindo, PT Nazar diwajibkan untuk mengambil limbah B3

Hamdi, kepala Dinas Badan Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin memberikan apresiasi positif kepada manajemen atas upayanya menjadi pioneer untuk menuju ecoport yang diharapkan. Kedepan, pihak lingkungan hidup akan memonitor seluruhaktifitas pengelolaan limbah B3 sesuai dengan laporan dari pihak rekanan transportir limbah yang ditunjuk.

Pengelolaan limbah suatu perusahaan juga merupakan salah satu tolok ukur dalam KPI, melalui Program Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) Dalam Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan. kriteria penilaian Proper Kriteria Penilaian PROPER tercantum dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 5 tahun 2011 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan. Secara umum peringkat kinerja PROPER dibedakan menjadi 5 warna Emas, Hijau, Biru, Merah dan Hitam, dimana kriteria ketaatan digunakan untuk pemeringkatan biru, merah dan hitam, sedangkan kriteria penilaian aspek lebih dari yang dipersyaratkan (beyond compliance) adalah hijau dan emas.

Dituturkan oleh Hamdi, dengan pengoperasian Port reception Facility ini diharapkan dapat mencapai peringkat hijau. Pemberian penghargaan PROPER bertujuan mendorong perusahaan untuk taat terhadap peraturan lingkungan hidup dan mencapai keunggulan lingkungan (environmental excellency) melalui integrasi prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dalam proses produksi dan jasa, penerapan system manajemen lingkungan, 3R, efisiensi energi, konservasi sumber daya dan pelaksanaan bisnis yang beretika serta bertanggung jawab terhadap masyarakat melalui program pengembangan masyarakat.

Jika dibandingkan dengan operasional pelabuhan yang sudah berlangsung sebelumnya, pembangunan fasilitas penampungan limbah ini sesuai dengan kepentingannya, karena fasilitas ini dibangun untuk menampung limbah sisa operasional perusahaan yang semakin meningkat pasca pembangunan fasilitas pelabuhan yang pesat.

Kedepan, pengelolaan lingkungan di pelabuhan akan diikuti dengan upaya lain, seperti saat ini tengah penggodokan untuk pengadaan alat sweeperguna mengatasi permasalahan debu yang muncul karena operasional perusahaan. 

Diungkapkan, selain sebagai komitmen menjalankan PP No. 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun, upaya manajemen dalam hal kepedulian terhadap  lingkungan juga berasal dari kecintaan pimpinan terhadap lingkungan. Penataan Pelabuhan Martapura Baru yang memiliki taman, Penghijauan area terminal penumpang juga merupakan wujud kecintaan pribadi terhadap lingkungan hijau.

Sumber : Dermaga.com

 

 

 

Read more
Monday, 03 June 2013

Edi Priyanto memastikan tak ada pemogokan Asosiasi Pelayanan Bongkar Muat, Organisasi Angkutan Darat, Asosiasi Depo Container, Gabungan Pengusaha Eksport, Gabungan Importir, maupun Asosiasi Pelayaran Indonesia, dan Asosiasi Pelayaran Rakyat di 16 pelabuhan yang dikelola Pelindo III, kecuali Pelabuhan Tanjung Emas.

Edi mengatakan semua asosiasi yang terkait dengan pelabuhan tersebut telah sepakat bekerja sesuai tugas dan fungsinya. Pelindo III telah berkomunikasi dan meyakinkan stakeholder pelabuhan, bahwa tindakan pemogokan berdampak luas pada kredibilitas negara serta merugikan pelaku jasa sendiri. "Selain di Tanjung Emas, tidak ada pemogokan. Semua bisa menerima kenyataan ini," kata Edi kepada Tempo, Senin 3 Mei 2013.

Kendati sempat didemo, Edi melihat sebagian aktivitas di Pelabuhan Tanjung Emas tetap berjalan seperti biasa di beberapa titik. Ia menguraikan, ada empat kapal yang melakukan proses bongkar muat. Yakni; 1 kapal bongkar raw sugar di dermaga Samudera, 2 kapal bongkar kayu log di dermaga pelabuhan dalam, dan satu kapal lagi bongkar olien di dermaga curah cair.

Edi belum bisa menjawab berapa angka kerugian akibat mogoknya aktivitas di Pelabuhan Tanjung Emas. "Enggak pengaruh besar terhadap kinerja pelabuhan secara umum. Justru yang rugi mereka sendiri," kata dia.

Di Pelabuhan Tanjung Perak sendiri, aktivitas berjalan normal. Seperti aktivitas di Jamrud Selatan, kapal MV Catleya PBM Suntraco posisi kerja, MV Anggrek 1 PBM AJP posisi kerja, MV LCU Nusiana PBM posisi kerja, MV MI Nomor 1 PBM posisi kerja dan MV Mentari PBM Pelindo posisi kerja, dan MV Daebo Masan PBM Jasko posisi kerja.

Di sisi Jamrud Utara ada kapal Great Rust PBM PSK posisi kerja, MV Vinh Thung PBM SSR posisi kerja, MV Aya3 PBM Jasko posisi kerja, MV Golden Ocean PBM Pelindo posisi kerja. "Semua posisi kerja, tidak ada tanda - tanda mogok," kata Edi.

Sumber : Tempo.com

 

 

Read more
Wednesday, 29 May 2013

Penerapan sistem dedicated area yang diberlakukan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III ditargetkan tahun ini sudah berjalan seluruhnya. Sejak trial (uji coba) yahun 2012, di sejumlah terminal yang ada di Pelabuhan Tanjung Perak belum seluruhnya berjalan. Rencana awal, sistem ini ditargetkan mulai beroperasi penuh tahun 2014.

Salah satu contoh, di Terminal Jamrud masih ada bongkar muat petikemas. Padahal, sesuai sistem dedicated area terminal ini hanya diperuntukkan komoditi curah kering. Demikian juga dengan Terminal Nilam yang akan dijadikan terminal curah cair, masih menerima bongkar muat petikemas.

Seperti yang disampaikan Sekretaris Perusahaan Pelindo III Sumitro Agus Budiarto, dedicated area dijalankan untuk mengurangi penumpukan barang dan kapal di Pelabuhan Tanjung Perak. Pasalnya, kapasitas Pelabuhan Tanjung Perak saat ini sudah tidak mampu lagi menampung arus barang.

“Tahun lalu saja untuk petikemas telah mencapai 2,8 juta TEU’s. Sedangkan untuk curah kering mencapai 85,7 juta ton dan 6,19 juta meter kubik.

Kondisi tersebut , menurut dia, yang menyebabkan Pelindo III selaku Badan Usaha Pelabuhan     ( BUP) sibuk menata diri. Ini tidak lepas dari target yang ditetapkan perusahaan, dimana pertumbuhan petikemas diharapkan mencapai 3,3 juta TEU’s, arus barang 91 juta ton, s,6 juta meter kubik.

Dengan Sumitro menjelaskan, dengan cara dedicated area ini terminal- terminal di Tanjung Perak sudah bisa melakukan penataan dengan peningkatan produktivitas kerja. Langkah ini diharapkan bisa menghindari penumpukan kapal di setiap terminal.

Sementara, lanjut dia, Terminal Multipurpose Teluk Lamong baru beroperasi tahun 2014. Karena itu, kebutuhan memberlakukan dedicated area mutlak dilakukan mulai tahun ini. “ Bila harus menunggu Teluk Lamong beroperasi, arus barang akan semakin menumpuk dan kita tidak bisa bekerja”, ujarnya.

Sumitro menyebutkan, selain dedicated area, ada program lainnya yang harus dilakukan. Langkah kedua dengan pengadaan peralatan bongkar muat yang memadai. Pada triwulan pertama tahun ini Pelindo III telah membelanjakan peralatan bongkar muat senilai Rp 1,5 triliun. Sebelumnya Pelindo III sudah memasang Harbor Mobile Crane (HMC) yang sudah dibeli tahun lalu.

Saat ini empat dari total tujuh HMC sudah dioperasikan di terminal Jamrud Utara sejak awal semester kedua tahun lalu. Demikian juga dengan pengoperasian Terminal Operation System (TOS) yang akan diterapkan di Teluk Lamong.

“Tapi sebelum itu, kita akan mengirim tenaga kerja mengikuti short cruise (kursus singkat) di luar negeri. Ini untuk menunjang program kerja dengan sistem computerize (komputerisasi),” lanjut mantan General Manager Pelindo Cabang Gresik itu. Masalahnya seluruh peralatan dan sistem kinerja di Tanjung Perak sudah berbasis komputer.

Sumber : Bisnis Indonesia

 

 

 

 

 

 

Read more
Tuesday, 28 May 2013

Volume petikemas sepanjang Januari – April 2013 melalui Tanjung Perak, telah mencapai 809.315 boks atau setara 963.178 TEU’s. Angka tersebut menandakan tingginya perdagangan internasional maupun domestik melalui Jawa Timur.

Bila dirinci, jumlah petikemas domestik sejauh ini masih mendominasi. Tercatat 553.290 TEU’s atau 57,4 persen dari total troughput (jumlah terdata) petikemas dalam empat bulan terakhir ini.Sedangkan untuk petikemas internasional tercatat mencapai 409.888 TEU’s atau 42,6 persen.

Kepala Humas PT Pelabuhan Indonesia III Edi Pritanto mengungkapkan data arus petikemas tersebut akumulasi dari beberapa terminal di Pelabuhan Tanjung Perak. Seperti Jamrud, Nilam, Mirah, Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI), dan Terminal Petikemas Surabaya (TPS).

“Untuk petikemas domestik masih didominasi BJTI dengan 279.031 TEU’s atau 50,4 persen,sedangkan intenasional masih dikontrol TPS dengan 373.806 TEU’s atau 91,2 persen,”kata Edi.

Dia menambahkan, timgginya arus petikemas domestik ini lepas dari tingginya perdagangan antardaerah. Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, penjualan produk Jatim mencapai Rp 78,72 triliun pada triwulan pertama 2013. Sebaliknya, arus barang yang masuk mencapai sebesar Rp 64,66 triliun.

Arus petikemas tersebut bila dibagi berdasarkan lokasi terminal di Tanjung Perak, terdiri dari Terminal Konvensional, yang terdiri dari Jamrud, Nilam, dan Mirah. Dari ketiga terminal tersebut terealisir 201.884 boks atau 215.162 TEU’s dan TPS tercapai 318.603 atau 433.301 TEU’s.

Sumber : Radar Surabaya

Read more