Wednesday, 29 May 2013

Penerapan sistem dedicated area yang diberlakukan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III ditargetkan tahun ini sudah berjalan seluruhnya. Sejak trial (uji coba) yahun 2012, di sejumlah terminal yang ada di Pelabuhan Tanjung Perak belum seluruhnya berjalan. Rencana awal, sistem ini ditargetkan mulai beroperasi penuh tahun 2014.

Salah satu contoh, di Terminal Jamrud masih ada bongkar muat petikemas. Padahal, sesuai sistem dedicated area terminal ini hanya diperuntukkan komoditi curah kering. Demikian juga dengan Terminal Nilam yang akan dijadikan terminal curah cair, masih menerima bongkar muat petikemas.

Seperti yang disampaikan Sekretaris Perusahaan Pelindo III Sumitro Agus Budiarto, dedicated area dijalankan untuk mengurangi penumpukan barang dan kapal di Pelabuhan Tanjung Perak. Pasalnya, kapasitas Pelabuhan Tanjung Perak saat ini sudah tidak mampu lagi menampung arus barang.

“Tahun lalu saja untuk petikemas telah mencapai 2,8 juta TEU’s. Sedangkan untuk curah kering mencapai 85,7 juta ton dan 6,19 juta meter kubik.

Kondisi tersebut , menurut dia, yang menyebabkan Pelindo III selaku Badan Usaha Pelabuhan     ( BUP) sibuk menata diri. Ini tidak lepas dari target yang ditetapkan perusahaan, dimana pertumbuhan petikemas diharapkan mencapai 3,3 juta TEU’s, arus barang 91 juta ton, s,6 juta meter kubik.

Dengan Sumitro menjelaskan, dengan cara dedicated area ini terminal- terminal di Tanjung Perak sudah bisa melakukan penataan dengan peningkatan produktivitas kerja. Langkah ini diharapkan bisa menghindari penumpukan kapal di setiap terminal.

Sementara, lanjut dia, Terminal Multipurpose Teluk Lamong baru beroperasi tahun 2014. Karena itu, kebutuhan memberlakukan dedicated area mutlak dilakukan mulai tahun ini. “ Bila harus menunggu Teluk Lamong beroperasi, arus barang akan semakin menumpuk dan kita tidak bisa bekerja”, ujarnya.

Sumitro menyebutkan, selain dedicated area, ada program lainnya yang harus dilakukan. Langkah kedua dengan pengadaan peralatan bongkar muat yang memadai. Pada triwulan pertama tahun ini Pelindo III telah membelanjakan peralatan bongkar muat senilai Rp 1,5 triliun. Sebelumnya Pelindo III sudah memasang Harbor Mobile Crane (HMC) yang sudah dibeli tahun lalu.

Saat ini empat dari total tujuh HMC sudah dioperasikan di terminal Jamrud Utara sejak awal semester kedua tahun lalu. Demikian juga dengan pengoperasian Terminal Operation System (TOS) yang akan diterapkan di Teluk Lamong.

“Tapi sebelum itu, kita akan mengirim tenaga kerja mengikuti short cruise (kursus singkat) di luar negeri. Ini untuk menunjang program kerja dengan sistem computerize (komputerisasi),” lanjut mantan General Manager Pelindo Cabang Gresik itu. Masalahnya seluruh peralatan dan sistem kinerja di Tanjung Perak sudah berbasis komputer.

Sumber : Bisnis Indonesia

 

 

 

 

 

 

Read more
Tuesday, 28 May 2013

Volume petikemas sepanjang Januari – April 2013 melalui Tanjung Perak, telah mencapai 809.315 boks atau setara 963.178 TEU’s. Angka tersebut menandakan tingginya perdagangan internasional maupun domestik melalui Jawa Timur.

Bila dirinci, jumlah petikemas domestik sejauh ini masih mendominasi. Tercatat 553.290 TEU’s atau 57,4 persen dari total troughput (jumlah terdata) petikemas dalam empat bulan terakhir ini.Sedangkan untuk petikemas internasional tercatat mencapai 409.888 TEU’s atau 42,6 persen.

Kepala Humas PT Pelabuhan Indonesia III Edi Pritanto mengungkapkan data arus petikemas tersebut akumulasi dari beberapa terminal di Pelabuhan Tanjung Perak. Seperti Jamrud, Nilam, Mirah, Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI), dan Terminal Petikemas Surabaya (TPS).

“Untuk petikemas domestik masih didominasi BJTI dengan 279.031 TEU’s atau 50,4 persen,sedangkan intenasional masih dikontrol TPS dengan 373.806 TEU’s atau 91,2 persen,”kata Edi.

Dia menambahkan, timgginya arus petikemas domestik ini lepas dari tingginya perdagangan antardaerah. Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, penjualan produk Jatim mencapai Rp 78,72 triliun pada triwulan pertama 2013. Sebaliknya, arus barang yang masuk mencapai sebesar Rp 64,66 triliun.

Arus petikemas tersebut bila dibagi berdasarkan lokasi terminal di Tanjung Perak, terdiri dari Terminal Konvensional, yang terdiri dari Jamrud, Nilam, dan Mirah. Dari ketiga terminal tersebut terealisir 201.884 boks atau 215.162 TEU’s dan TPS tercapai 318.603 atau 433.301 TEU’s.

Sumber : Radar Surabaya

Read more
Monday, 27 May 2013

Asisten Sekretaris Perusahaan PT Pelabuhan Indonesia I Eriansyah mengatakan usulan itu akan dinegoisasikan kepada pemerintah melalui Kementrian Perhubungan dalam waktu dekat.

Saat ini, manajemen Pelindo I melakukan pembahasan intensif dengan Kemenhub guna memperoleh masa Konsesi pengembangan Pelabuhan Belawan.

“Konsesi yang akan kita ajukan sekitar 80 tahun dan dalam tahap pengajuan pada Otoritas Pelabuhan tetapi belum masuk tahap negoisasi.

Menurutnya, pihaknya telah mengembangkan Pelabuhan Belawan sejak 2010 guna memacu produktivitas pelayanan di pelabuhan itu. Eriansyah menjelaskan pihaknya telah mulai mengembangkan Pelabuhan Belawan pada tahap pertama atau yang dikenal dengan urgent program pada 2010-2012 guna meningkatkan produktivitas pelabuhan melalui pinjaman US$ 87,5 juta dari Islamic Development Bank.

Proyek pengembangan tahap pertama berupa perpanjangan dermaga 100 m, perluasan lapangan penumpukan seluas 6.000 m2, penambahan peralatan dermaga seperti lima unit container crane, dua unit harbour mobile crane dan 15 unit rubber tire gantry.

Khusus pengembangan tahap kedua atau yang disebut dengan optimalization program, menurutnya, akan dimulai 2013 hingga 2014 bertujuan meningkatkan layanan kapal dari ukuran Panamax menjadi Post Panamax.

Dia menjelaskan proyek pekerjaan tahap kedua dibagi dalam dua paket yaitu menambah dermaga sepanjang 700 m, lapangan penumpukan 30 ha, penambahan delapan unit container crane dan 24 unit transtainer.

Sejauh ini, masterplan proyek pengembangan tahap kedua telah disetujui Menteri Perhubungan E.E Mangindaan dan engineering design juga telah mendapat surat persetujuan prinsip Menhub.

Saat ini, Pelindo I berencana mengerjakan proyek tahap ketiga atau expansion program mulai 2013 hingga 2015 dengan tujuan membangun Indonesia Hub Container Port di Pelabuhan Kuala tanjung.

Proyek pengembangan tahap ketiga terbagi dalam 21 modul dan setiap modul meliputi pembangunan dermaga sepanjang 1.000 m dengan kedalaman -17 m low water spring (LWS) , lapangan penumpukan 40 ha, penambahan 10 unit container crane dan 30 unit trainstainer.

Namun, proyek pengembangan tahap ketiga masih menunggu pengesahan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) kendati mesterplan telah disahkan Kemenhub. Eriansyah menegaskan pengembangan proyek Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung dalam tiga tahap diperkirakan menelan dana hingga Rp 3,7 triliun.

Pengembangan Pelabuhan Belawan sejak 2010, imbuhnya, nisa menrunkan turn round time kapal dari 7 hari – 8 hari menajdi 2 hari.

Sumber : Bisnis Indonesia

Read more
Saturday, 25 May 2013

Satu penghargaan dari Mark Plus diterima Pelindo III Benoa di tahun 2013 ini. PT Pelindo III Benoa mendapat penghargaan sebagai pelayanan terbaik bidang sumber daya manusia dan sarana prasarana (resources and utilities) bersama PT PLN.   Iwan Sabatini, GM Pelindo III Cabang Benoa mengatakan, tak menyangka akan mendapatkan penghargaan marketing ini. “Penghargaan ini merupakan   suatu apresiasi  terhadap langkah-langkah  yang sudah dilakukan  Pelindo III Benoa dalam rangka meningkatkan pelayanan,   terutama kepada pelayanan kapal penumpang cruise. Saat ini, PT Pelindo III Benoa telah melakukan kerja sama dengan beberapa BUMN seperti PT Pos Indonesia, PT Telkom dan perbankan yang akan menyiapkan ATM di Pelabuhan Benoa, dan Indonesia  Power untuk meningkatkan daya listrik.   
 
Selama ini, tanpa disadari, Pelindo III Benoa telah menerapkan strategi pemasaran new waves marketing  seperti yang sering disampaikan ahli marketing Hermawan Kertajaya, untuk bertahan di lokal champion. “Konsep ini  kami manfaatkan sebagai pendekatan pemasaran yang menggunakan media seperti komunikasi lewat email, web, facebook, bahkan jalur BB kepada stake holder dan para cruises liner. Bahkan, para cruises liner di luar negeri minta dua kali sebulan update data pelabuhan Benoa,” ujarnya.

Menurut Iwan, dalam bisnis, perubahan terjadi begitu cepat dan mengejutkan. Apabila tidak bangun dan segera berubah dari pelabuhan konvensional menjadi modern secara bertahan, maka akibatnya Benoa bahkan Indonesia akan ditinggalkan. Akhirnya, aspek pariwisata cruise tidak diminati lagi dan direbut negara lain yang telah bangkit. “Kami mencermati konsep pemasaran pun bergeser. Dalam pendekatan pemasaran era legacy, dikenal istilah 4 C yakni change, competitor, customer, dan company, Biasanya konsep 4 C digunakan menganalisa  sebuah lanskep bisnis,  namun layanan pelabuhan membutuhkan keterlibatan yang kuat dengan beberapa pihak  seperti habour master, imigrasi, pelayaran dan sebagainya,  sehingga  diperlukan  komunikasi yang inten. “Di era horizontal ini,  posisi                4 C  berdiri sejajar. Keempatnya bisa berkomunikasi secara real time sekarang ini secara interaktif dan transparan. Hal ini terjadi karena ada factor C kelima yakni connector,” ujarnya.
 
Untuk merubah Benoa Port menjadi pelabuhan modern membutuhkan biaya besar seperti memperpanjang dermaga 295 meter bisa menjadi sekitar 400 atau 500 meter. Kebutuhan pendalaman alur hingga -12 m LWS membutuhkan biaya sekitar 850 miliar. Penataan tata ruang sesuai rencana induk pelabuhan membutuhkan waktu dan biaya. Namun, hal ini sudah menjadi bagian road map PT Pelindo III secara bertahap akan dilakukan dengan tema new Benoa port development sehingga  ke depannya akan meningkatkan sentra bisnis marina dan cruises dan perniagaan yang berbasis eco port. Iwan berharap, ke depannya, Pelindo III Benoa terus dapat memperkuat karyanya di bidang pelayanan menjadi lebih baik, terutama kepada cruise line.

Sumber : dermaga.com

Read more
Sunday, 26 May 2013

Secara umum, total arus petikemas yang melalui Pelabuhan Tanjung Perak selama Januari s.d. April 2013 terealisasi sebanyak  809.315 box atau setara 963.178 TEU’s,. Arus petikemas tersebut apabila diperinci lagi berdasarkan lokasi terminal di Pelabuhan Tanjung Perak, terdiri dari : Terminal Konvensional (yang terdiri dari Terminal Jamrud, Nilam dan Mirah) terealisir 201.884 box atau setara 215.162 TEU’s, selanjutnya Terminal Berlian (PT Berlian Jasa Terminal Indonesia) terealisasi 288.828 box atau setara 314.815 TEU’s dan Terminal Petikemas (PT Terminal Petikemas Surabaya) tercapai 318.603 atau setara 433.201 TEU’s.

Arus petikemas di Pelabuhan Tanjung Perak tersebut apabila diprosentasikan berdasarkan asal dan tujuan perdagangan, arus petikemas domestik masih mendominasi, dimana dalam satuan TEU’s diketahui sebanyak 42,6% merupakan petikemas internasional dan 57,4% adalah petikemas domestik. Realisasi arus petikemas internasional mencapai 409.888 TEU’s dan petikemas domestik mencapai 553.290 TEU’S.

Distribusi arus petikemas domestik di Pelabuhan Tanjung Perak dalam satuan TEU’s didominasi oleh Terminal Berlian sebesar 50,4% atau setara dengan 279.031 TEU’s, disusul Terminal Konvensional (Jamrud, Mirah dan Nilam) sebesar 38% atau setara dengan 214.864 TEU’s dan Terminal Petikemas Surabaya (PT TPS) yang hanya mencapai 10,7% atau setara dengan 59.395 TEU’s.

Tetapi sebaliknya distribusi arus petikemas internasional didominasi oleh Terminal Petikemas (PT TPS) sebesar 91,2% atau setara dengan 373.806 TEU’S, disusul Terminal Berlian  sebesar 8,7% atau setara dengan 35.784 TEU’S dan Terminal Konvensional (Jamrud, Nilam dan Mirah) sebesar 0,1% atau setara dengan 298 TEU’S.

Berdasarkan data 3 (tiga) tahun terakhir (tahun 2010 s.d. 2012) bahwa arus petikemas yang melalui Pelabuhan Tanjung Perak menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, pada tahun 2010 realisasi arus petikemas mencapai 2.407.487 TEU’s, meningkat pada tahun 2011 menjadi 2.643.518 TEU’s dan terealisir 2.849.138 TEU’s pada tahun 2012.

Ukuran muatan dalam kegiatan pembongkaran maupun pemuatan barang dengan menggunakan container dinyatakan dalam TEU’S (Twenty Foot Equivalent Units). Oleh karena ukuran standar dari petikemas atau container di mulai dari panjang 20 feet, maka satu petikemas 20’ dinyatakan 1 (satu) TEU’s dan petikemas 40’ dinyatakan sebagai 2 (dua).

Sumber : dermaga.com

 

Read more
Friday, 24 May 2013

Prediksi tinggi chemical product (produk kimia cair) pada lima tahun kedepan sudah diantisipasi oleh PT Pelabunan Indonesia (Pelindo) III. Ini bisa dilihat dari pembangunan Silo untuk menampung produk jenis ini yang telah disiapkan di Terminal Curah Cair Nilam Utara, Pelabuhan Tanjung Perak.

Kapasitas Silo di Terminal Nilam Utara ini mampu menampung 4,2 juta Kilo Liter (KL) setiap tahunnya. Tetapi saat ini proses pengiriman chemical product ke Surabaya masih belum lancar lantaran rendahnya kapasitas produksi kimia cair yang masuk Tanjung Perak saat ini.

Sumber : Bisnis Indonesia

“ Kita sudah membangun dan melakukan uji coba April lalu untuk melihat kesiapan Silo di Nilam Utara, “ kata Kepala Humas Pelindo III, Edi Priyanto.

Edi menjelaskan belum lancarnya pengiriman produk kimia cair karena perusahaan pengiriman Asahi Chemical Corp baru mengirim produk ini satu bulan sekali. Hal ini terkait belum lancarnya pasokan dari industri bahan kimia.

“Nantinya kita tidak hanya menerima dari Asahi Chemical saja tetapi akan ada sejumlah perusahaan lain yang sudah melakukan pembicaraan. Kedepan pengoperasian terminal curah cair Nilam Utara ini bisa menampung lebih banyak pengiriman produk ini,” lanjut Edi.

Pembangunan Silo produk kimia cair ini kerja sama antara Pelindo III dengan perusahaan lain. Edi belum bisa menjelaskan perusahaan yang digandeng lantaran saat ini beru penjajagan. Saat ini Pelindo III masih konsentrasi pelayanan dari Asahi Chemical.

Sejak uji coba pengoperasian lalu, pengiriman HCL (Chemical Product) dari Asahi Chemical baru satu bulan sekali, dengan sekali pengiriman mencapai 1.600 ton. Tetapi saat ini pengiriman sudah mencapai dua kali dalam satu bulan dengan tonase yang sama.

“Bisa saja pada bulan berikutnya pengiriman produk HCL akan semakin bertambah,”ungkapnya. Pengoperasian Terminal Nilam Utara ini merupakan joint operation antara Pelindo III dengan     PT Aneka Kimia Raya (AKR). Edi menjelaskan bila lahan tersebut milik Pelindo yang terintegrasi dalam Pelabuhan Tanjung Perak. Sedangkan pihak AKR yang membangun Silo tersebut.

 

 

 

 

 

 

Read more