Monday, 10 June 2013

Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Muhammad Syarkawi Rauf mengatakan penurunan omzet perusahaan di luar pelabuhan itu bahkan ada yang lebih dari 50%. Namun, kondisi itu berkebalikan dengan omzet dan pangsa pasar PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I, II, III, dan IV yang naik.

Keempat pelabuhan  yang diteliti KPPU yakni Pelabuhan Teluk Bayur Padang, Tanjung Emas Semarang, Belawan Medan, dan Tanjung Priok Jakarta Utara.

“Awalnya kami menduga penurunan itu akibat faktor melemahnya ekonomi global, ekspor dan impor turun, tapi saat bersamaan market share Pelindo dan anak perusahaan meningkat, kami menduga mungkin ada pengaruh persaingan,katanya.

Dia menambahkan penurunan omzet itu terjadi pada bisnis bongkar muat swasta yang beroperasi di pelabuhan dengan persentase penurunan antara 30% - 50%.

Syarkawi yang merupakan anggota KPPU termuda periode 2012-2017 itu melanjutkan penurunan omzet tertinggi terjadi di Pelabuhan Teluk Bayur Padang.

Dia menilai langkah penyelidikan dugaan monopoli di pelabuhan itu bertujuan mendukung pemerintah mempercepat efisiensi logistik nasional sebagaimana amanat undang-undang (UU) No. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Sampai saat ini, Syarkawi mengungkapkan pihaknya memproses dua penyelidikan dugaan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat di Pelabuhan Teluk Bayur dan Tanjung Priok yang dikelolan PT Pelindo II atau Port Corporation (IPC).

Pada kasus pertama, ungkapnya, pihaknya sudah memeriksa 22 saksi yang diajukan oleh investigator belum termasuk saksi yang disodorkan oleh Pelindo II. Setelah proses penuntutan, Dia menargetkan KPPU akan menghasilkan keputusan pada Agustus 2013.

Pada kasus di Pelabuhan Tanjung Priok, imbuhnya, masih dalam tahap pengumpulan berkas. Pada pekan ini, dia menargetkan akan masuk penuntutan atau pemeriksaan para saksi.

Sumber : Bisnis Indonesia

Read more
Tuesday, 11 June 2013

PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk merevitalisasi Terminal Tanjung Perak. Secara keseluruhan anggaran yang dialokasikan kurang lebih sebesar Rp 2 triliun. Anggaran tersebut untuk program multiyears yang melibatkan semua terminal konvensional di Tanjung Perak, seperti Mirah, Jamrud, dan Nilam. Sedangkan, khusus untuk tahun ini alokasi anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 260 miliar di seluruh terminal konvensional Tanjung Perak. Besaran anggaran tersebut untuk meningkatkan kinerja pelabuhan.

“Saat ini kita butuh areal yang memadai, dan tidak hanya luas. Terutrama untuk Terminal Jamrud Utara, Barat, dan Selatan, selain Mirah dan Nilam yang kita revitalisasi,”jelas Kepala Humas Pelindo III Edi Priyanto.

Di Terminal Jamrud, lanjut Edi, ada sebelas gudang yang dijadikan tempat penimbunan. Rinciannya ada enam di Jamrud Utara dan sisanya di Jamrud Selatan. Sementara gudang yang belum dibongkar gudang 119,121,122-123, 124 dan 125 yang di Jamrud Selatan. Sedangkan di Jamrud Utara yang belum roboh 100, 101, dan 102.

Edi menambahkan sejumlah gudang yang sudah dirobohkan telah dipasang Harbour Mobile Crane (HMC) Pad. “Di Jamrud Utara tersisa satu gudang, di gudang 102 yang akan dirobohkan untuk penguatan dermaga,” lanjut Edi.

Perobohan gudang ini dialihfungsikan sebagai lapangan penumpukan. Sebab Terminal Jamrud akan dioperasikan HMC untuk kegiatan bongkar muat curah dan steel product. Sementara keberadaan gudang kurang mendukung pergerakan dan kinerja HMC di Jamrud.

Tetapi bila pelaku usaha yang membutuhkan gudang akan dibuatkan gudang. Tetapi lokasinya berdekatan dengan dermaga agar tidak menggangggu kinerja bongkar muat. Sejauh ini Edi mengatakan belum mengetahui persis masomg- masing alokasi untuk kegiatan revitalisasi terminal Jamrud.

“Tetapi alokasi tersebut tidak termasuk untuk pembelian tujuh unit HMC. Sebelumnya alokasi HMS untuk Terminal Jamrud adalah empat di Jamrud Utara, satu di Jamrud Barat, dan dua sisanya di Jamrud Selatan untuk mengantisipasi kedatangan kapal Post Panamax dan banyaknya kapal domestik.

Sumber : Radar Surabaya

Read more
Friday, 07 June 2013

PT Terminal Petikemas Indonesia (TPI) dijadwalkan beroperasi tahun ini. Saat ini PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III telah menyiapkan Terminal Nilam Timur yang akan digunakan sebagai window atau lokasi sementara sebelum Terminal Mltipurpose Teluk Lamong beroperasi tahun 2014 nanti.

Hal ini disampaikan Kepala Humas PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III Edi Priyanto saat dikonfirmasi Radar Surabaya, kemarin petang.

Menurut Edi, langkah tersebut dimaksudkan bilka TPI harus beroperasi tahun ini atau selambat-lambatnya awal 2014.

TPI merupakan anak perusahaan joint operation antara Pelindo I hingga IV untuk mendukung main sea corridor atau Pendulum Nusantara . TPI ini untuk mendukung jalur distribusi petikemas domestik dari Belawan (Medan) hingga Sorong (Papua).

Edi mengatakan, Pelindo III telah menyiapkan terminal domestik di Terminal Multipurpose Teluk Lamong yang diperkirakan baru beroperasi April 2014 nanti.

“TPI nantinya dipastikan tidak mengganggu kegiatan operasional petikemas domestik. Kita sudah menerapkan sistem window. Misalnya Surabaya nantinya dengan Makassar, dan Makassar dengan Sorong untuk Indonesia Timur.sedangkan Indonesia Barat, Surabaya-Jakarta-Batam-Belawan, jadi sudah terkoneksi dengan sistem,”katanya.

Sistem ini diharapkan tidak mengganggu kinerja anak perusahaan Pelindo I-IV. Meskipun anak perusahaan Pelindo juga sudah terkoneksi dengan sistem window yang sudah berjalan.

“Saya rasa tidak. Seperti Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI) dan Terminal Petikemas Surabaya (TPS) sudah memiliki sistem yang tertata,”tambahnya.

Sementara operasional saat ini masih digodok jajaran direksi perusahaan TPI. Saat ini jajaran manajemen PT Terminal Petikemas Indonesia sudah terbentuk, tinggal menentukan jadwal operasional.

Sumnber : Radar Surabaya

 

Read more
Wednesday, 05 June 2013

Kadin Indonesia mendesak pemerintah agar menata ulang bisnis BUMN pelabuhan guna menuntaskan kisruh persaingan usaha antara PT Pelabuhan Indonesia I,II,III,IV dengan dunia usaha jasa terkait kepelabuhan.

Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto mengatakan pemerintah mesti segera turun tangan menuntaskan kisruh antara PT Pelabuhan Indonesia I,II,III,IV dengan dunia usaha jasa terkait kepelabuhan khususnya angkutan khusus pelabuhan, usaha bongkar muat, forwader, transportasi laut, dan logistik.

“Kami mendesak pemerintah untuk segera turun tangan guna menuntaskan kisruh persaingan usaha antara PT Pelindo dengan dunia usaha dengan mereposisi bisnis BUMN pelabuhan.

Reposisi bisnis yang dimaksud yakni BUMN sebaiknya berkonsentrasi pada usaha pokok atau bisnis inti perusahaan yakni penyediaan prasarana pelabuhan dan penyediaan jasa yang belum bisa disediakan oleh swasta.

Adapun penyediaan sarana pelabuhan, termasuk pelayaran, baik jalur dan kapal diserahkan kepada swasta dan mekanisme pasar.

Dia menilai penataan ulang bisnis BUMN pelabuhan seperti itu positif untuk mencipakan  persaiangan usahan yang sehat di pelabuhan, menjaga akselerasi perekonomian domestik, dan menciptakan pemerataan.

Selain itu, imbuhnya, model bisnis itu juga akan saling menguatkan dunia usaha nasional sesuai dengan amanat Undang-Undang (UU) No.5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

“Pelabuhan adalah urat nadi bagi ribuan perusahaan penyedia jasa usaha kepelabuhanan, tetapi BUMN pelabuhan di Indonesia masih memonopoli sehingga perlu mekanisme yang jelas untuk menjaga persaingan usha yang sehat,”tuturnya.

Suryo menjelaskan mekanisme dalam menjaga persaingan usaha yang sehat itu termasuk dengan meningkatkan peran regulator di pelabuhan. Oleh karena itu,wakil pemerintah di pelabuhan,dalam hal ini, Otoritas Pelabuhan diminta kuat dan netral.

Kadin menilai perlunya iklim usaha pada sektor tansportasi dan logistik yang kondusif guna menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi domestik di atas 6% pada tahun ini di tengah instabilitas ekonomi global.

Kondusifnya sektor itu juga akan meningkatkan arus investasi, menguatkan ekspor, dan meningkatkan perdagangan domestik sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi.

Dia dinilai tidak harus terjadi jika pemerintah turun tangan dengan melakukan intervensi kuat guna menjamin terciptanya asas fairness dalam berusaha di sektor kepelabuhanan.

“Kami melihat aksi setop operasi awal pekan ini bukan tanpa alasan karena ini menyangkut kelangsungan usaha mereka,”katanya.

Bagi Kadin, peran swasta di sektor kepelabuhanan di Indonesia sangat vital karena selama ini mereka telah berkontribusi besar dalam menjaga pertumbuhan dan ketahanan perekonomian nasional melalui aktivitas di pelabuhan.

Sumber : Bisnis Indonesia

Read more
Tuesday, 04 June 2013

Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dan Pelabuhan Belawan Medan tetap berjalan seperti sedia kala kendati perusahaan bongkar muat menggelar aksi setop operasi.

Mohammad Syafiudin, Pelaksana Harian General Manager PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III Cabang Tanjung Emas Semarang, mengatakan kegiatan bongkar muat tetep berjalan di beberapa titik dermaga yanag ada di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Ada empat kapal yang melakukan proses bongkar muat di sejumlah titik dermaga di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Menurutnya, ada empat kapal yang melakukan aktivitas bongkar muat tersebut berada di Dermaga Samudera satu kapal, Dermaga Pelabuhan Dalam ada dua kapal, dan Dermaga Curah Cair satu kapal.

Di Dermaga Samudera terdapat kapal membongkar raw sugar, di Dermaga Pelabuhan Dalam ada dua kapal membongkar kayu log sedangkan Dermaga Curah Cair ada kapal membongkar olien.

Dia menjamin aktivitas bongkar muat tidak  terganggu karena terkait erat dengan pergerakan perekonomian masyarakat. Bila Pelindo III Cabang Tanjung Emas tidak melayani permintaan jasa bongkar muat, justru akan melanggar undang-undang. “Bahkan yang melakukan bongkar muat tersebut juga tidak semua PBM Pelindo III Tanjung Emas Semarang tapi juga ada PBM swasta, jadi tidak benar ada monopoli, tuturnya.

Sementara itu, ratusan pekerja perusahaan bongkat muat yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Jateng menggelar aksi mogok operasional di Dermaga Pelabuhan Dalam , kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Aksi itu dilakukan dengan memarkir puluhan truk serta alat berat sebagai bentuk protes terhadap PT Pelindo III Cabang Tanjung Emas Semarang yang turut membuka usaha jasa bongkar muat.

Romulo Simangunsong, Ketua APBMI Jateng, menilai usaha bongkar muat yang dilakukan         PT Pelindo III Cabang Tanjung Emas Semarang dilakukan sejak 2011.

“Aksi ini agar Pelindo III Tanjung Emas taat terhadap peraturan dan perundangan yang berlaku, karena sudah membuka usaha bongkar muat tapi tidak berizin,”tuturnya.

Dari Medan, aksi mogok yang terjadi di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta tidak diikuti perusahaan bongkar muat di Pelabuhan Medan, Sumatera Utara.

Khairul Mahalli. Wakil Ketua Kadin Sumatera Utara Bidang Logistik dan Multimoda, menegaskan aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Belawan aman dari aksi mogok.

Kadin Sumut bersama dengan Syahbandar, Pelindo I dan Bea Cukai Belawan telah melakukan pemantauan secara langsung.

“Di Medan aman-aman saja, jangan sampai ada kendala. Demo hanya ada di Priok saja,”ujarnya. Mohammad Eka Tarigan, Ketua DPW Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) Sumatra Utara, mengatakan aksi mogok tidak berdampak luas ke Sumatra Utara.

 

 

Read more
Saturday, 01 June 2013

Pelindo III kembali melakukan restrukturisasi pejabat sekelas General Manager. Kali ini Iwan Sabatini yang telah menahkodai Pelabuhan Cabang Benoa Bali selama 2 tahun dan 3 bulan menggantikan Sumarzen sebagai General Manager Terminal Petikemas Semarang (TPKS).  Pelantikan serta serah terima jabatan dipimpin langsung oleh Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Djarwo Surjanto.

Acara yang berlangsung di Ruang Bromo Kantor Pusat PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) tersebut sekaligus melantik Prasetyo yang dipercaya menggantikan Iwan Sabatini sebagai General Manager Pelabuhan Benoa - Bali. Sebelumnya, Prasetyo menjabat sebagai Askaro Perencanaan Korporat pada Biro Perencanaan Kantor Pusat.

Diharapkan Prasetyo nanti dapat meneruskan perjuangan Iwan Sabatini meneruskan program perusahaan terhadap Pelabuhan Benoa sebagai turn around port dimana Indonesia khususnya Bali memiliki peluang yang sangat besar karena memiliki potensi wisata yang beragam. di Tahun 2013 ini Benoa rencananya akan disinggahi oleh 28  kunjungan kapal pesiar dari total 97 kunjungan kapal pesiar di seluruh pelabuhan yang dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia III (Persero).

Sumber : Dermaga.com

Dalam sambutannya, Djarwo Surjanto menyatakan bahwa pergantian kepemimpinan dilakukan oleh Manajemen PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) untuk meningkatkan kinerja perusahaan secara keseluruhan.  Artinya, rotasi pejabat yang dilakukan ditujukan untuk menciptakan suasana baru dalam lingkup perusahaan dan diharapkan mampu mempengaruhi iklim kerja pegawai.  Bukan hanya itu saja, pergantian kepemimpinan diharapkan mampu mendorong pemikiran-pemikiran baru yang dibutuhkan untuk mengembangkan perusahaan, demi mencapai tujuan perusahaan.

Sementara itu, Sumarzen yang digantikan oleh Iwan Sabatini akan diperbantukan sebagai salah satu Direksi di anak perusahaan bersama PT Pelabuhan Indonesia I, II, III, dan IV yaitu Terminal Petikemas Indonesia. Terminal Petikemas Indonesia merupakan operator pelabuhan yang menyediakan rute pelayaran sepanjang jalur barat-timur Indonesia dan beroperasi seperti pendulum.

Dikatakan seperti pendulum karena akan terus bergerak. Rute yang dimaksud akan melewati enam pelabuhan utama, yakni Belawan, Batam, Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Sorong. Sistem ini diharapkan dapat menurunkan ongkos pengiriman logistik di Indonesia. Selama ini, masih terjadi perbedaan harga antara Pelindo I hingga Pelindo IV. Jika sistem Nusantara berjalan, Pelindo I hingga Pelindo IV akan bekerja sama menentukan satu tarif.

 

 

Read more