Thursday, 16 May 2013

HaskoningDHV ditunjuk sebagai konsultan utama untuk mengawasi pembangunan tahap pertama Terminal Kalibaru atau New Priok Port.

Project Director Royal HaskoningDHV HermanPals mengatakan perseroan memenangkan proyek jutaan dolar pengerjaan pelabuhan utama Indonesia itu.

Menurutnya, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II atau Indonesia Port Corporation (IPC) menunjuk perseroan karena dinilai paling kompetitif dan terbaik dari segi metodologi yang diusulkan dan komposisi tim.

“Ini adalah salah satu pengembangan pelabuhan terbesar saat ini. Proyek strategis dalam hal pembangunan infrastruktur di Indonesia, sehingga untuk kedua pelabuhan dan terminal operator taruhannya tinggi,” katanya.

Kontrak itu merupakan bagian dari tahap pertama pengembangan terminal bagian utara Kalibaru dan termasuk pengembangan kapasitas peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok mencapai 4,5 juta twenty-foot equivalent units (TEUs) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pembangunan salah satu pelabuhan terbesar di dunia itu sudah dimulai sejak groundbreaking dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada  23 Maret 2013. Bila proyek itu selesai pada 2023, kapasitas Pelabuhan Tanjung Priok yang saat ini menangani sebagian besar ekspor dan impor Indonesia akan naik menjadi 18 Juta TEUs atau naik lenih dari tiga kali lipat dari saat ini.

Pals menambahkan Kalibaru berperan penting dalam pembangunan Indonesia, memperkuat rantai logistik nasional, meningkatkan daya saing global dan berfungsi sebagai hubungan internasional.

Sumber : Bisnis Indonesia
Read more
Wednesday, 15 May 2013

Distributor BBM PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) mencari dana Rp 7 triliun – Rp 8 triliun untuk membiayai tahap pertama proyek pelabuhan industri terintegrasinya di Gresik, Jawa Timur.

Presiden Direktur AKR Corporindo Haryanto Adikoesoemo mengatakan dana untuk proyek bernama Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) itu akan berasal dari lima sumber, yakni dana kas internal, modal disetor Pelindo IIII, penjualan aset, sisa dana obligasi, dan pinjaman perbankan.

Dia menjelaskan Pelindo III adalah mitra perseroan di proyek tersebut. Untuk dana obligasi sudah diraih Desember tahun lalu Rp 1,5 triliun. Adapun, penjualan aset akan berupa tanah kawasan industri, sedangkan pinjaman perbankan akan dibicarakan dengan sejumlah bank krediturnya.

Haryanto menyebutkan beberapa bank yang selama ini sudah mendanai bisnis eksisting perseroan antara lain PT Bank BCA Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Internasional Indonesia Tbk, JP Morgan dan beberapa bank asing.

Proyek JIIPE adalah proyek yang akan mengakomodasi seluruh bagian dari kawasan industri yang berintegrasi dengan fasilitas pelabuhan laut dalam, serta ditunjang oleh infrastruktur dan perlengkapan yang baik.

Proyek tersebut nantinya akan menjadi penting sebagai gerbang ekspor impor untuk Jawa Timur. Proyek ini dibagi menjadi 3 tahap. Tahap I berupa kawasan industri seluas 700 hektar dan dermaga sepanjang 600 meter yang diharapkan selesai semester II / 2015.

Sumber : Bisnis Indonesia

 

Read more
Monday, 13 May 2013

PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III akan mengurangi emisi pada pengoperasian Terminal Multipurpose Teluk Lamong tahun 2014 nanti. Perusahaan plat merah ini akan menggunakan listrik sebagai pasokan energi untuk operasionalnya.

Kebutuhan energi untuk operasional di Teluk Lamong sebesar 16 Mega watt (MW) yang terbagi dalam dua line (jalur). Kebutuhan operasional yang paling pokok adalah Ship to Shore Crane (STS) dan Automatic Stacking Crane (ASC).

Kepala Humas Pelindo III Edi Priyanto mengungkapkan , penggunaan energi listrik untuk menekan biaya operasional pembelian bahan bakar serta menekan pembuangan emisi. “ Peralatan yang kita gunakan lebih ramah lingkungan, karena sumber energinya 90 persen dari listrik,” kata Edi.

Dia menambahkan penggunaan listrik ini untuk mendukung program eco green port (pelabuhan ramah lingkungan) yang digagas sejak tahun lalu. Setidaknya, ada tiga peralatan bongkar muat yang diharapkan bisa menekan buangan emisi.

Edi menyebut STS dan ASC yang sepenuhnya menggunakan listrik. Alat ini merupakan yang pertama di Asia Tenggara yang menggunakan listrik.               “ Sebelumnya kami (Pelabuhan Tanjung Perak) selalu menggunakan solar untuk pengoperasian Rubber Tyrd Gentry (RTG) dan Container Crane (CC). Dua alat ini telah kita ganti dengan STS dan ASC,” jelasnya.

Sementara Automatic Terminal Trailer (ATT) masih menggunakan solar. Tetapi ATT ini jauh lebih efisien dibanding operasional truk pemindah kontainer dari kapal menuju lapangan penumpukan.

Mesin ATT secara otomatis mati dalam beberapa menit ketika tidak digunakan. Artinya pembuangan emisi melalui bahan bakar bisa ditekan. Selain itu, roda yang dimiliki ATT jauh sedikit dibanding truk kontainer. Hal ini berfungsi menghindari limbah karet.

 

Read more
Saturday, 11 May 2013

PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III berencana memasang tiga Shore to Ship (STS) Crane di Pelabuhan Domestik Teluk Lamong. Pemasangan ini dimaksudkan untuk mengantisipasi lonjakan arus petikemas domestik di Pelabuhan Tanjung Perak. Sementara untuk dermaga internasional diperkirakan terpasang dua STS Crane.

“Dari tahun ke tahun, pertumbuhan petikemas domestik selalu mengalami kenaikan, termasuk pergeseran tren,” kata Kepala Humas Pelindo III Edi Priyanto.

Saat ini pembangunan dermaga di Terminal Multipurpose Teluk Lamong telah seratus persen selesai untuk internasional. Sedangkan untuk domestik hingga 30 April pembangunannya sudah mencapai 54 persen.

Menurut Edi, tiga STS Crane yang dibeli dari Konecranes, Finlandia, itu akan dipasang di dermaga domestik. Sedangkan dua STS lainnya akan dioperasikan untuk dermaga petikemas internasional yang kini sudah selesai pembangunannya.

Edi menjelaskan, meski membeli STS dari perusahaan yang sama tetapi fungsi crane ini berbeda. “ Untuk petikemas internasional menggunakan twin lift, dimana bisa mengangkut dua petikemas sekaligus ukuran 20 feet.

Demikian juga dengan kemampuannya, Edi mengatakan memiliki perbedaan. Untuk crane internasional ukurannya lebuh tinggi dan jangkauannya lebih panjang.

Sumber : Radar Surabaya

Read more
Monday, 13 May 2013

PT Pelabuhan Indonesia III dan PT Adi Karya Tbk bakal menggarap proyek monorel pengangkut peti kemas dari pelabuhan Tanjung Perak ke Terminal Multipurpose Teluk Lamong sekitar Rp.2,5 triliun

Direktur komersial dan pengembangan usaha PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III Husein Latif mengatakan proyek monorel bernama automatic container trasporter (ACT) itu akan berawal dari Pelabuhan Tanjung Perak hingga Terminal Multipurpose Teluk Lamong sekitar 5,6 km.

Saat ini, menurutnya nota kesepahaman pegkajian rencana proyek monorel peti kemas itu sudah ditandatangani kedua belah pihak pada awal bulan ini.

Selanjutnya, dia menjelaskan kedua BUMN itu akan membentuk tim guna mempersiapkan kajian dalam rangka pelaksanaan kerja sama usaha lebih lanjut dalam bentuk pendirian anak usaha          patungan atau konsep kerja sama lain.

Husein memaparkan kedua belah pihak akan menjalankan prastudi kelayakan atau feasibility study meliputi aspek finansial, komersial, teknis, legal dan aspek lain.

“Survei juga dilakukan terhadap lahan, demand , dan tarif angkutan peti kemas termasuk penempatan station train centre di area yang menghubungkan Tanjung Perak sampai terminal Multipurpose,” katanya.

Dia menjelaskan ACT merupakan moda transportasi monorel peti kemas untuk membantu pendistribusian kontainer dari dipo ke pelabuhan atau sebaliknya untuk mempercepat pengiriman barang sekaligus mengatasi kemacetan lalu lintas kendaraan pengangkut.

Moda transportasi itu dikembangkan bagi angkutan container dari stock yard atau dry port ke pelabuhan sehingga lebih praktis dan efisien.

“Ini pertama di dunia pengangkut container automatis. Dana yang dibutuhkan Rp2,5 triliun dengan pengerjaan 12 bulan. Ini akan mengurangi kemacetan di sekitar Tanjung Perak Surabaya.

PACU PEREKONOMIAN

Kepala Humas PT Pelindo III Edi Priyanto menambahkan saat ini proyek itu masih dalam nota kesepahaman untuk mengkaji merancang ACT.

Bila hasil kajian secara detail selesai, menurutnya, akan ditindaklanjuti dengan penandatanganan kerja sama dalam waktu 3 bulan.

Proyek monorel itu merupakan bagian dari rencana pembangunan 3 monorel oleh konsorsium tujuh BUMN yakni     PT Jasa Marga Tbk, PT Adhi Karya Tbk, PT Industri Kereta Api (Inka), PT LEN, PT Telkom, PT Angkas Pura, dan Pelindo III.

Sumber : Bisnis Indonesia

Read more
Monday, 13 May 2013

Terobosan kembali dilakukan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III, terbaru perseroan meluncurkan layanan anjungan informasi dan transaksi berbasis web. System itu selain baru pertama aplikasi di Pelabuhan Indonesia juga bukti komitmen Pelindo III terhadap peningkatan pelayanan.

Secara sederhana, sistem baru itu memfasilitasi pngguna pelabuhan melalui internet. Sehingga saat mengajukan izin, tak ada lagi cerita harus datang dari kantor satu ke lainya.

Melalui sistem online, pengguna cukup mendaftar unuk mendapatkan username dan password. Lantas dengan itu, pengguna bisa masuk ke sistem yang menyajikan data loksi kapal, kapan waktu bongkar muatan berdasarkan urutan dan besar biaya yang harus ditanggung saat mengajukan layanan.

Sebelum ada sistem online, ketiga hal tersebut harus dilakukan manual. Datang ke Pelindo III mengisi berkas lengkap,  baru ke bank membayar biaya dan kembali menyerahkan ke petugas Pelindo dan terbitlah ijin.

Akan tetapi dengan sistem online, ketiganya bisa dilakukan sekaligus di depan komputer, dengan hanya menggunakan komputer tablet atau hanya menggunakan smart phone. “Sistem memotong mekanisme, sehingga pengajuan izin semakin sederhana,” jelas Hariyana Senior Manajer Sistem Informasi Pelindo III.

Keunggulan lain dari sistem, lanjut dia, pengguna layanan bisa memantau biaya secara transparan, melihat posisi kapal di sekitar pelabuhan hingga mengetahui jadwal tepatnya kapal bersandar. Hal itu memberi kepastian usaha.

“25 kilometer sekitar pelabuhan kapal sudah bisa dipantau , termasuk pergerakanya. Posisi itu real time,” jelasnya.

Di sisi pembiayaan, sistem yang sedianya dikembangkan di pelabuhan Semarang dan Banjarmasin itu juga terhubung dengan perbankan. Sehingga pembayaran juga bisa dilakukan saat itu juga via online. Sistem itu, menurutnya menyebabkan pembayaran menjadi mudah.

Soal keamanan, Hariyana menegaskan sistem yang dibangun dilengkaoi 3 lapir pengamanan. “Kami sudah antisipasi,” sudah ada tiga lapis, jadi aman,” tambahnya.

Direktur keuangan PT Pelindo III Wahyu Suparyono menguraikan penggunaan sistem online menyebabkan tak ada lagi pembayaran tertunda. Pasalnya, pengguna jasa tinggal menyiapkan saldo yang akan terdebet bila terjadi transaksi.

“Bagi perseroan itu mempercepat arus pembayaran masuk dan mengurangi piutang. Bagi pengguna layanan itu efisien, menghemat waktu dan biaya , bisa menekan biaya ekonom,” jelas Wahyu.

Di sisi lain, penggunaan penggunaan sistem online juga mendukung pengunaan sistem online juga membantu mewujudkan visi pelabuhan hijau alias ramah lingkungan.

Edi Priyanto, Kepala humas PT Pelindo III (Persero) menjelaskan dalam sistem manual kertas yang digunakan cukup banyak sehingga bertentangan dengan program green port. “ Efisiensi kertas dampak sistem online bisa mencapai Rp.2 Milyar per tahun,” paparnya.

Aplikasi anjungan tersebut bisa di akses di https://anjungan.perakport.co.id. Guna memastikan transformasi manual ke online lancer, Pelindo III menyiapkan gerai konsultasi dan bimbingan teknologi terbaru di kantor Surabaya.

Kalangan pengusaha menyambut baik terobosan Pelindo III. Wayan Jayadi, Direktur Perusahaan bongkar muat PT Agung Jaya Prasetya, menilai system online sangat membantu pasalnya, usaha yang dikelola bisa membongkar barang sampai 2 kapal per haridengan kapasitas 2000 metric ton sampai 3000 metric ton/kapal.

Sebagai informasi, jumlah kunjungan kapal triwulan I 2013 di Tanjung Perak sebanyak 2.585 unit kapal berbendera Indonesia dengan berat mencapai 8.507.531 gross tonnage. Kapal penumpang 326 unit atau 2.443.259 gross tonnage dan kapal tanker 270 unit atau 2.705.980 GT serta kapal lainya 694 unit.

Rating idAA+, Pelindo III jadi pionerr

PT Pelabuhan Indonesia III jadi pioneer diantara pengelola pelabuhan karena berhasil mengantongi peringkat idAA+ dari Pefindo.

Direktur keuangan PT Pelindo III Wahyu Suparyono menguraikan capaian itu mencerminkan tata kelola manajemen yang baik. “ Itu menunjukan pula prioritas manajemen terhadap kepuasan pelanggan,”jelasnya

Kementrian Badan Usaha Milik Negara menuntut Perusaan BUMN harus semakin independen dan professional. Salah satu cara mengukur professionalitas dengan mengikuti pemeringkatan akuntabilitas pengelolaan BUMN ke masyarakat luas.

Vonny Widjaja, analis perusahaan Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menguraikan peringkat itu mencerminkan kemampuan perusaan mempertahankan marjin yang stabil dan proteksi arus kas yang kuat. Namun, peringkat dibatasi meningkatnya leverage (utang) keuangan perusaan untuk mendukung ekspansi usaha.

Selain itu pelabuhan di bawah pengelolaan Pelindo III memiliki posisi strategis dan dalam kondisi keuangan kuat. Tahun lalu perseroan menyumbang pendapatan Negara 35% dari sektor pelabuhan milik Negara.“ Pelindo III merupakan gerbang ekonomi Indonesia timur yang tumbuh kuat beberapa waktu terakhir ,” jelas Vonny.

Sebagai informasi, jasa kepelabuhan perseroan meliputi 43 pelabuhan pada 17 cabang di tujuh provinsi di Indonesia, termasuk Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Pefindo juga menilai perseroan mampu menjaga kinerja keuntungan perusahaan stabil. Laba kotor pelindo III  stabil di kisaran 35%. Selain itu, manajemen juga meningkatkan efisiensi perusahaan.

Edi Priyanto, Kepala Humas PT Pelindo III menguraikan jajaranya dianggap memiliki kemampuan yang sangat kuat untuk memenuhi komitmen keuangan dalam jangka pamjang. Pemeringkatan didasarkan kepada data dan informasi yang diperoleh dari pefindo dari pelindo III serta laporan keuangan tahun 2011 dan tahun 2012.

Selain predikat idAA+, lanjut dia, predikat stable outlook diberikan atas dasar kemampuan perusahaan dalam menjaga stabilitas usaha yang dijalankan . predikat itu akan dipertahankan jika Pelindo III mampu mewujudkan segala harapan atas investasi yang ditanamkan di terminal Multiprupose Teluk Lamong.

Senior manager Treassury PT Pelindo III Yon Irawan mengatakan rating dari Pefindo hanya berlaku setahun. Oelh karena itu, kedepan tantanganya meningkatkan kinerja sehingga bisa mendapat predikat AAA (triple A) alias peringkat tertinggi dalam kinerja perusahaan.

Sumber : Bisnis Indonesia

Read more