Friday, 24 May 2013

Prediksi tinggi chemical product (produk kimia cair) pada lima tahun kedepan sudah diantisipasi oleh PT Pelabunan Indonesia (Pelindo) III. Ini bisa dilihat dari pembangunan Silo untuk menampung produk jenis ini yang telah disiapkan di Terminal Curah Cair Nilam Utara, Pelabuhan Tanjung Perak.

Kapasitas Silo di Terminal Nilam Utara ini mampu menampung 4,2 juta Kilo Liter (KL) setiap tahunnya. Tetapi saat ini proses pengiriman chemical product ke Surabaya masih belum lancar lantaran rendahnya kapasitas produksi kimia cair yang masuk Tanjung Perak saat ini.

Sumber : Bisnis Indonesia

“ Kita sudah membangun dan melakukan uji coba April lalu untuk melihat kesiapan Silo di Nilam Utara, “ kata Kepala Humas Pelindo III, Edi Priyanto.

Edi menjelaskan belum lancarnya pengiriman produk kimia cair karena perusahaan pengiriman Asahi Chemical Corp baru mengirim produk ini satu bulan sekali. Hal ini terkait belum lancarnya pasokan dari industri bahan kimia.

“Nantinya kita tidak hanya menerima dari Asahi Chemical saja tetapi akan ada sejumlah perusahaan lain yang sudah melakukan pembicaraan. Kedepan pengoperasian terminal curah cair Nilam Utara ini bisa menampung lebih banyak pengiriman produk ini,” lanjut Edi.

Pembangunan Silo produk kimia cair ini kerja sama antara Pelindo III dengan perusahaan lain. Edi belum bisa menjelaskan perusahaan yang digandeng lantaran saat ini beru penjajagan. Saat ini Pelindo III masih konsentrasi pelayanan dari Asahi Chemical.

Sejak uji coba pengoperasian lalu, pengiriman HCL (Chemical Product) dari Asahi Chemical baru satu bulan sekali, dengan sekali pengiriman mencapai 1.600 ton. Tetapi saat ini pengiriman sudah mencapai dua kali dalam satu bulan dengan tonase yang sama.

“Bisa saja pada bulan berikutnya pengiriman produk HCL akan semakin bertambah,”ungkapnya. Pengoperasian Terminal Nilam Utara ini merupakan joint operation antara Pelindo III dengan     PT Aneka Kimia Raya (AKR). Edi menjelaskan bila lahan tersebut milik Pelindo yang terintegrasi dalam Pelabuhan Tanjung Perak. Sedangkan pihak AKR yang membangun Silo tersebut.

 

 

 

 

 

 

Read more
Thursday, 23 May 2013

PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) menargetkan bisa menghemat biaya operasional hingga Rp2 miliar per tahun dari penerapan sistem online dalam layanan jasa kepelabuhanan. Efisiensi biaya ini diperoleh dari proses cetak nota yang selama ini memerlukan banyak biaya.

 Perusahaan jasa kepelabuhanan pelat merah itu kini mulai menyosialisasikan sistem yang menggantikan sistem manual itu pada pengusaha yang menggunakan jasa pelabuhan. Penerapan pelayanan sistem online ini dinilai lebih praktis dan modern.

Beberapa aplikasi di dalamnya juga akan menjadi solusi bagi layanan dunia usaha kepelabuhan. ”Penggunaan sistem manual mengakibatkan inefisiensi dalam pelayanan. Dengan penerapan sistem online, kami bisa hemat, mungkin sekitar Rp2 miliar setahun,” ujar Kepala Humas PT Pelindo III Edi Priyanto.

Menurut Edi, penggunaan sistem manual menghabiskan kertas cukup banyak. Penggunaan kertas juga bertentangan dengan program Green Portyang kini diusung Pelindo III. Penerapan sistem online akan jauh lebih praktis dan modern dan mudah digunakan semua pengguna jasa kepelabuhan.

Dengan aplikasi anjungan, tentu akan menghilangkan berbagai persoalan di pelabuhan. ”Melalui layanan online ini maka pengguna jasa kepelabuhan akan bisa mengakses di mana saja dan kapan saja. Tinggal siapkan perangkat komunikasi yang mendukung layanan online ini dan tersedia jaringan internet,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pelindo III (Persero) Djarwo Surjanto menambahkan, dengan layanan sistem online, maka kegiatan transaksi perbankan pun dapat dilakukan secara host to host, yakni sistem kerja sama antara PT Pelindo III dengan pihak perbankan. Dengan begitu, dapat langsung melakukan transaksi perbankan oleh PT Pelindo III. ”Kami menyadari bahwa pelaksanaan dan penerapannya akan ditemukan kendala dan keterbatasan, terutama soal pemahaman penggunaan aplikasi internet,” ujarnya.

Sistem manual, kata dia, sangat banyak kelemahannya, di antaranya proses pencetakan nota yang memerlukan banyak biaya, baik biaya kertas dan biaya cetak. Sistem ini juga membutuhkan banyak waktu, tenaga kurir, risiko, dan petugas arsip.

Untuk tahap pertama, PT Pelindo III sudah bekerja sama denganBankMandiridanBRI. Saat ini sedang dijajaki kerja sama dengan Bank UOB dan BNI. ”Tidak menutup kemungkinan nanti juga akan kerja sama dengan beberapa bank lainnya,” ujarnya.

sumber:http://www.koran-sindo.com/node/315966

 

 

 

Read more
Thursday, 23 May 2013

PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daops) IV Semarang segera mengaktifkan kembali jalur kereta api (KA) dari Stasiun Semarang Tawang menuju Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, dengan perkiraan menelan anggaran mencapai Rp10 miliar.

Vice Presiden PT KAI Daops IV Semarang, Totok Suryono mengatakan reaktifasi jalur KA pelabuhan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan arus distribusi barang dari maupun masuk ke Jateng, dengan menggunakan moda transportasi kereta api.

“Saat ini sedang proses penyusunan Detailed Enginering Design (DED) yang akan memakan waktu sekitar 3-4 bulan mendatang. Diperkirakan rektifasi jalur KA pelabuhan ini bakal menelan anggaran hingga mencapai Rp10 miliar,” tuturnya kepada Bisnis, Selasa (14/5/2013).

Menurutnya, kebutuhan pasti anggaran untuk aktifasi jalur KA dari Stasiun twang ke Pelabuhan Tanjung Emas Semarang tersebut akan dapat diketahi secara pasti setelah penyusunan DED selesai.

“Perkiraan sementara, anggarannya butuh Rp10 miliar, namun hasil akhir kebutuhan dananya setelah DED selesai disusun,” ujarnya.

Dia mengatakan kebutuhan dana sebesar itu diantaranya untuk pengadaan rel baru menggantikan material yang sudah ada sebelumnya, pengurukan lahan dan peninggian jalur rel yang sudah ada sekitar 2 meter dari sekarang, dimana selama ini sejk 2008 kondisinya terendam rob, serta penertiban rumah warga disekitar jalur KA tersebut

Pihaknya berharap aktifasi jalur KA Pelabuhan, dari Stasiun Tawang-Semarang Gudang-Pelabuhan Tanjung Emas sepanjang sekitar 3-4 kilometer tersebut dapat segera beroperasi penuh pada awal April 2014.

“Pengerjaan fisik proyek aktifasi jalur KA pelabuhan ini cukup singkat, paling hanya butuh waktu tiga bulan pengerjaan. Rencananya, selambat-lambatnya akan mulai dikerjakan awal Januari 2014, dan diharapkan selesai April 2014,” tuturnya.

Dia mengatakan saat ini PT KAI pusat juga sedang menyiapkan draft kerjasama atau Memorandum of Understanding dengan PT Pelabuhan (Pelindo) III untuk penyediaan lapangan penumpukan khusus kontainer dilingkungan pelabuhan tersebut, yang diangkut menggunakan kereta api.

Menurutnya apabila jalur tersebut telah beroperasi, pada tahap awal setidaknya akan terdapat tiga rangkaian KA dengan 20 gerbong kontainer per hari yang akan melayani pengangkutan barang di jalur rel pelabuhan tersebut.

“Kapasitas angkut setiap rangkaian KA itu mencapai sekitar 800 ton, jadi dalam sehari  mampu mengangkut barang hingga mencapai 24.000 ton, yang sebagian besar untuk melayani alur distribusi barang ke Jakarta dan Surabaya,” tuturnya.

Sumbe : http://www.bisnis.com

 

Read more
Wednesday, 22 May 2013

Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah berkeinginan membangun pelabuhan peti kemas berkapasitas sedang untuk membantu perkembangan perekonomian wilayah tersebut.

Bupati Maluku Tengah Abua Tuasikal mengatakan pihaknya telah menyediakan lahan di Kecamatan Makariki seluas 5 ha guna membangun pelabuhan peti kemas tersebut.

“Kami sudah menyampaikan permohonan resmi ke Kementrian Perhubungan atas rencana itu tahun lalu, tetapi belum ada tanggapan. Kami membutuhkan pelabuhan yang bisa mengangkut kontainer guna mendukung perekonomian wilayah ini,” katanya.

Selama ini, katanya, produk dari daerah itu berupa hasil pertanian, perkebunan dan perikanan hanya bisa dikirim ke pulau sekitarnya, khususnya ke Ambon dengan perahu biasa.

Padahal, dia menegaskan produk Maluku Tengah bisa dikirim ke pulau Jawa, misalnya ke Surabaya jika ada kapal besar yang bermuatan kontainer.

Saat ini, ungkapnya pelabuhan besar hanya ada di ibukota provinsi Maluku tetapi daya tampungnya juga sudah tidak memadai.

Menurut perhitunganya, dana yang dibutuhkan untuk proyek pelabuhan itu sekitar ratusan miliar rupiah.

Dia berharap PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II memiliki keinginan membangun pelabuhan peti kemas di Maluku Tengan.

Direktur Utama Pelindo II Richard J. Lino memang berencana membangun pelabuhan besar di Maluku untuk mendukung program Pendulum Nusantara,” katanya.

Pada 2014, Abua Tuasikal menambah Pemkab Maluku Tengah akan memprogramkan pembangunan dan pengembangan sejumlah wilayah yang sangat potensial sebagai tujuan pariwisata.

“Ada beberapa titik yang akan kami kembangkan seperti misalnya di kawasan Seram Utara , Pulau Pompa, Maulana, dan Pulau tujuh. Di daerah pantainya sangat bagus,” tegasnya.

Menurutnya, masalah yang masih menghambat pengembangan ekonomi di daerahnya adalah pasokan listrik yang terbatas, sehingga investor yang sebenarnya mau membangun industri di Maluku Tengah jadi mengurungkan minatnya berinvestasi di daerah itu.

Sumber : Bisnis Indonesia

Read more
Tuesday, 21 May 2013

Secara sederhana, sistem baru itu memfasilitasi pengguna jasa melalui internet. Sehingga saat mengajukan izin, tak ada lagi cerita pengguna layanan harus datang dari satu kantor ke kantor lainnya.

Melalui sistem online, pengguna cukup mendaftar untuk mendapatkan username dan password. Lantas dengan itu, pengguna bisa masuk ke sistem yang menyajikan data lokasi kapal, kapan waktu bongkar muatan berdasar urutan dan besaran biaya yang harus ditanggung saat mengajukan layanan.

Sebelum ada sistem online, ketiga hal itu harus dilakukan manual. Datang ke Pelindo III mengisi berkas. Bila berkas lengkap, baru ke bank membayar biaya dan kembali menyerahkan ke petugas Pelindo dan terbitlah izin.

Akan tetapi dengan sistem online, ketiganya bisa dilakukan sekaligus didepan komputer, menggunakan komputer tablet atau hanya dengan smartphone. “Sistem memotong mekanisme, sehingga pengajuan izin semakin sederhana,” jelas Hariyana, Senior Manajer Sistem Informasi Pelindo III.

Keunggulan lain dari sistem, lanjut dia, pengguna layanan bisa memantau biaya secara transparan, melihat posisi kapal disekitar pelabuhan hingga mengetahui jadwal tepatnya kapal bersandar. Hal itu memberi kepastian usaha.

“25 kilometer disekitar pelabuhan kapal sudah bisa dipantau, termasuk pergerakannya,. Posisi itu real time,” jelasnya.

Di sisi pembiayaan, sistem yang sedianya dikembangkan di Pelabuhan Semarang dan Banjarmasin itu juga terhubung dengan perbankan. Sehingga pembayaran juga bisa dilakukan saat itu juga via online.

Sistem itu, menurutnya menyebabkan pembayaran menjadi mudah. Soal keamanan, Hariyana menegaskan sistem  yang dibangun dielengkapi tiga lapis pengamanan.

Direktur Keuangan PT Pelabuhan III , Wahyu Suparyono menguraikan penggunaan sistem online menyebabkan tak ada lagi pembayaran tertunda. Pasalnya , pengguna jasa tinggal menyiapkan saldo di rekening yang akan terdebet bila terjadi transaksi.

“Bagi perseroan itu mempercepat arus pembayaran masuk dan mengurangi piutang. Bagi pengguna layanan itu efisien, menghemat waktu dan biaya, bisa menekan biaya ekonomi, kata Wahyu.

Di sisi lain, penggunaan sistem online juga mendukung visi mewujudkan pelabuhan hijau alias ramah lingkungan.

Edi Priyanto, kepala Humas Pelindo III menjelaskan, dalam sistem manual kertas yang digunakan cukup banyak sehingga bertentangan dengan program green port. Aplikasi anjungan tersebut dapat diakses di                                 https ://anjungan.perakport.co.id.

Sumber : Radar Surabaya

 

Read more
Tuesday, 21 May 2013

Mulai perbaikan dan penambahan fasilitas dermaga, terminal, peralatan bongkar muat, juga sistem operasional. Ini semua dilakukan dalam rangka pengingkatan pelayanan pada semua pengguna jasa pelabuhan. Baik percepatan untuk peningkatan produktivitas bongkar muat maupun kualitas pelayanan menjadi lebih baik.

Sebagai Terminal Operator (TO) menjadikan posisi Pelindo III semakin strategis. Sebagai penggerak dalam pertumbuhan ekonomi. Karena merupakan pintu gerbang kelancaran arus pengiriman barang via laut. Baik barang tujuan dalam negeri (antarpulau) maupun barang tujuan ekspor-impor (internasional).

Terminal Multipurpose Teluk Lamong dibangun untuk mendukung percepatan pelayanan kapal dan bongkar muat barang di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Terminal ini memiliki kedalaman sampai -14 meter dan menjadi terminal ramah lingkungan kali pertama di Tanah Air. Teluk Lamong dioperasikan dengan teknologi canggih menggunakan Automatic Stacking Crane (ASC) yaitu alat angkat dan angkut yang dapat dikendalikan dari jarak jauh. Terminal ini dijadwalkan beroperasi awal 2014. “Di dunia hanya Jerman, Arab Saudi, dan Spanyol yang menggunakan ASC,” kata Djarwo Surjanto.

Kegiatan lainnya adalah upaya pendalaman dan pelebaran Alur Pelayaran Barat Surabaya ( APBS). Tujuannya untuk mempermudah dan memperbanyak jumlah kapal dengan daya angkut lebih besar masuk di Pelabuhan Surabaya. Baik kapal kargo maupun kapal petikemas.

Pelindo III juga melakukan modernisasi Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) di daerah operasional Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Meliputi optimalisasi operasional dermaga dan peningkatan kapasitas lapangan penumpukan petikemas. Revitalisasinya menggunakan sistem polder dan terintegrasi dengan sistem polder Semarang.

Peningkatan pelayanan kegiatan angkutan petikemas juga dilakukan di Terminal Peti Kemas Banjarmasin (TPKB) di daerah operasional Pelabuhan Banjarmasin. Seperti ; penambahan peralatan bongkar muat di lapangan penumpukan berupa Rubber Tyred Gantry (RTG), Head Truck berikut chasisnya.

Selain perhatian pada kegiatan pelabuhan niaga dan perdagangan, Pelindo III juga sangat konsen terhadap pelayanan di pelabuhan pariwisata. Pelabuhan Benoa – Bali sebagai pelabuhan pariwisata terbesar di Tanah Air telah dilakukan beberapa pembangunan dan peningkatan pelayanan.

Diantaranya ; kapal pengangkut wisatawan asing (cruise) yang semula tidak bisa sandar dan harus rede di kolam, sekarang sudah bisa langsung merapat di dermaga. Pelabuhan Benoa – Bali kini memiliki terminal khusus untuk penumpang cruise, yaitu Benoa Cruise Terminal (BCT) lengkap dengan segala fasilitasnya. Sementara terminal penumpang kapal domestik terpisah sehingga terlihat lebih tertib dan bersih. Pelabuhan Benoa juga akan menjadi pusat kegiatan cruise yang lebih besar.

Sumber : Radar Surabaya

Read more